Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 04

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 04

Perempuan: Menikmati Proses – Laki-Laki: Mencapai Sasaran

Perempuan ingin menikmati proses. Sedangkan laki-laki ingin segera mencapai sasaran. Seorang wanita akan bisa berhenti mencium bunga mawar yang ada di tepi jalan. Sedangkan laki-laki akan tega menginjak bunga mawar jika tindakannya itu akan menhemat tiga langkah untuk mencapai sasaran. Perempuan suka akan taplak meja yang berenda. Laki-laki bahkan tidak memperhatikan bahwa di atas meja itu ada taplak meja atau tidak. Kalau pria dan wanita sedang naik mobil maka banyak wanita melihat ke kiri dan ke kanan untuk memerhatikan pemandangan yang ada. Sedangkan laki-laki akan tancap gas karena ingin segera mencapai tujuan. Pada waktu berbelanja biasanya laki-laki itu sudah menetapkan sasaran, “Oh, saya mau beli baju warnanya biru nomor 16.” Dia langsung ke counter itu, lalu dia belanja. Paling lihat ke kiri dan ke kanan sebentar tetapi kemudian dia segera meninggalkan mall tersebut atau pusat perbelanjaan itu. Sedangkan perempuan kalau ditanya, “Mau belanja apa?” Dia berkata, “Nanti aja liat-liat. Nah, bahayanya kalau sudah melihat kiri dan melihat kanan semua yang dia lihat akan dibeli. Karena perempuan menikmati proses. Sedangkan laki-laki ingin segera mencapai tujuan.

Begitu juga di dalam hubungan suami isteri, dalam hubungan seksual. Laki-laki itu ingin segera mencapai klimaks tetapi perempuan itu ingin menikmati proses. Karena itu ada istilah pria itu seksnya semenit. Wanita itu seksnya sehari. Maksudnya kalau dia ingin melakukan hubungan suami-isteri bisa dilakukan dengan segera. Namun seorang wanita perlu pemanasan yang lebih panjang. Dia akan senang kalau sepanjang hari dia bisa didekap suaminya. Suami kemudian memberi pujian dan penghargaan. Semua itu akan mempersiapkan si isteri untuk hubungan yang lebih jauh. Perlu diingat bahwa proses sangat penting bagi seorang wanita. Wanita senang mengambil waktu untuk bicara dan kurang menikmati kehidupan kalau terlalu sibuk. Sedangkan kalau kebanyakan pria merasa bahwa sibuk untuk mengejar sasaran lebih penting daripada banyak bicara, banyak ngobrol seperti yang dilakukan oleh wanita. Itulah perbedaan antara pria dengan wanita.

 

Ditulis dalam 1

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 03

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 03

Perempuan: Relasi – Laki-Laki: Pekerjaan

Perempuan itu biasanya berorientasi pada hubungan (relasi). Laki-laki lebih berorientasi pada pekerjaan. Anda tahu bahwa laki-laki itu di dalam pikirannya hanyalah masalah pekerjaan. Pekerjaan yang dia utamakan. Di dalam Efesus 5: 33 tertulis, “Bagaimanapun juga bagi kamu masing-masing berlaku, kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

Alkitab mengatakan bahwa isteri perlu dikasihi dengan hubungan yang dekat, keakraban, relasi yang kuat. Sedangkan suami perlu dihormati sehingga dapat membuat dia merasa dirinya sebagai pemenang. Apa yang membuat seseorang perempuan menjadi sedih? Kalau dia merasa kesepian atau tidak dikasihi. Apa yang membuat pria menjadi sedih? Kalau merasa dirinya tidak penting, kalau dia merasa gagal. Kebutuhan isteri dikasihi. Kebutuhan suami dihormati. Karena itu, isteri menginginkan agar suaminya berkata begini kepadanya, “Mam, saya mencintaimu, saya senang bisa hidup bersamamu. Engkau adalah ibu yang sangat baik, engkau membuat rumah ini begitu menyenangkan.” Oh, seorang wanita akan tersanjung ketika sumainya berkata seperti itu.

Sebaliknya, suami ingin mendengar isterinya berkata, “Saya bangga kepadamu pap, engkau begitu berbakat engkau begitu bijaksana. Engkau seorang pekerja keras yang baik, tampan dan menyenangkan.” Kalau suami mendengar perkataan itu saya yakin sumai tidak akan tahan hatinya. Dia akan bersedia melayani pasangannya dengan cara yang terbaik. Janganlah, kita menunggu pasangan kita yang lebih dahulu mengatakan hal-hal yang baik itu kepada kita. Namun marilah kita belajar mengambil inisiatif untuk melakukan yang terbaik. Kita harus memulai jangan menunggu pasangan kita berubah.

Ada orang yang bilang kalau suami saya berubah nanti saya berubah. Perubahan itu harus dimulai dari diri kita. Kalau kita berubah dalam waktu yang lama kita akan melihat pasangan kita akan berubah juga. Perempuan berorientasi pada hubungan, dia ingin kedekatan, keakraban. Laki-laki lebih menekankan pada pekerjaan.

 

Ditulis dalam 1

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 02

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 02

Perbedaan Antara Perempuan dengan Laki-Laki

Sekarang saya ingin mengajak anda untuk melihat paling tidak ada lima perbedaan utama antara laki-laki dengan perempuan. Kalau kita mengetahui perbedaan-perbedaan ini kita bisa belajar untuk saling menghargai perbedaan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu merupakan dasar untuk saling melengkapi supaya kita bisa lebih harmonis.

Perempuan: Intuitif – Laki-laki: Logis

Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan, bersifat emosional, intuitif dan lebih peduli kepada orang. Sedangkan laki-laki biasanya mengutamakan pikiran. Dia lebih suka melakukan sesuatu dengan analisa, berpikir logis dan kritis. Ya, kalau perempuan dan laki-laki sedang ribut kalau sumai dengan isteri sedang bertengkar biasanya isteri berkata seperti ini, “Suami  saya itu tidak peduli dengan perasaan saya, dia itu nggak ngerti hati saya. Sedangkan si suami berkata, “Apa yang diminta isteri saya itu tidak logis.” Perempuan itu berbicara dari perasaannya, dari hatinya. Pria bicara dari logikanya, dari akalnya. Tentu saja tidak bakalan ketemu. Suami dan isteri dalam sebuah pernikahan kadang-kadang seperti gelombang AM dan FM dalam sebuah radio sehingga tidak ketemu. Namun kalau kita menerima perbedaan justru itu baik untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Mengapa terdapat perbedaan itu? Karena ternyata otak laki-laki dan perempuan itu bekerja dengan cara yang berbeda. Pada tahun 1981 ada seorang bernama Dr Roger Sperry yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang obat-obatan. Dia menemukan perbedaan fungsi otak antara laki-laki dengan perempuan. Intinya pria lebih banyak berpikir dengan otak kiri. Sedangkan wanita lebih banyak berpikir dengan otak kanan. Otak kiri itu adalah bagian yang memproses bahasa dan matematika sehingga seseorang yang berpikir dengan otak kirinya akan berpikir secara sistematis dan logis. Dia membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan sesuatu melalui sistematika langkah demi langkah. Sedangkan orang yang berpikir dengan otak kanan biasanya lebih menekan visual. Dia merekam perasaannya dalam hatinya, lebih bersifat emosional dan lebih menyukai seni. Nah, kalau kita tidak menyadari perbedaan ini maka akan terjadi keributan di dalam keluarga.

Wanita lebih banyak menekankan intuisi, gerak hati. Sedangkan pria lebih menekankan analisa. Misalnya, ada sepasang suami isteri yang sedang mengetes karyawan baru yang akan diterima di perusahaan mereka, si suami mulai bertanya dengan pertanyaan yang rumit melihat curiculum vitae, data dari jati diri orang tersebut. Mungkin setelah melihat pendidikannya, latar belakang pengalamannya, dia merasa bahwa karyawan tersebut cocok karena berdasar analisa pikirannya tepat sekali sesuai dengan yang diperlukannya. Namun ketika dia menoleh kepada isterinya dan bertanya, “Gimana, ma kira-kira orang ini?” Isterinay Cuma berkata, “Aduh, saya rasanya kok kurang sreg”. Lho kurang sregnya di sebelah mana, ma?” kata si suami. Nah itu yang sulit saya jelaskan. Terkadang suami menjadi marah, “Kamu itu tidak sreg sreg sreg sreg aja. Jelasin dong secara logika kenapa kamu tidak mau menerima orang ini.” “Ya, udah kalau kamu mau terima, terima aja.” Beberapa bulan kemudian setelah diterima ternyata karyawan baru ini melakukan penipuan. Pintar sih pintar tetapi licik juga. Akhirnya, si suami mengeluarkan dia dan apa kata isterinya, “Tuh bener nggak kata saya, nggak sreg.”

Nah, inilah perbedaan antara pria dengan wanita. Pria menekankan analisa. Wanita menekankan intuisi. Saya melihat kasus ini dalam Alkitab. Misalnya, ketika Pilatus akan memutuskan apakah dia akan menjatuhkan hukuman kepada Yesus atau tidak. Di dalam Matius 27: 19 tertulis, “Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: ‘Jangan engkau mencampuri perkara orang benar ini, sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Di dalam ayat 24 tertulis, “Ketika Pilatus melihat segala usahanya sia-sia, malah sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri.”

Sebagai seorang pria Pilatus tentu mempertimbangkan secara logika apa yang merupakan kesalahan Yesus. Namun ketika dia sedang mempertimbangkan secara sistematis kesalahan Yesus, isterinya datang membawa pesan, “Hati saya ini gelisah karena saya dikejar-kejar mimpi tadi malam berkaitan dengan Yesus orang benar ini.” Akibatnya Pilatus mencuci tangannya dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini.” Lihatlah! Wanita menekankan intuisi, pria menekankan logika. Kalau semua ini digabung secara bersama-sama ketika mengambil suatu keputusan bukankah ini menjadi perpaduan yang sangat harmonis satu dengan yang lain. Halleluya!

 

Ditulis dalam 1

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 01

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 01

Pria Antik, Wanita Unik

“Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu dari rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu dibangunnyalah seorang perempuan lalu dibawanya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu, “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan sebab dia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu tetapi mereka tidak merasa malu.” Kejadian 2: 18, 21-25.

Ada sebuah mitos Yunani kuno yang menceritakan bahwa bumi ini dulu dihuni oleh manusia yang separuh badannya laki-laki dan separuhnya lagi perempuan. Karena mereka menganggap dirinya sempurna, kemudian mereka memberontak kepada dewa, akhirnya, Zeus kepala para dewa Yunani menjadi marah dan membelah mereka menjadi dua serta mencerai beraikannya. Sejak itulah yang setengah badan selalu mencari setengah badan yang lainnya.

Hasrat untuk melengkapi diri dengna cara menemukan sebagian diri yang lain itulah yang kita sebut dengan cinta. Memang mitos itu tidak ada di dalam Alkitab dan bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Namun Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah menciptakan manusia, manusia diciptakan dengan dua jenis kelamin yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Memang Allah sengaja menciptakan manusia dengan jenis kelamin yang tidak sama. Sebab, seperti dua keping puzzle yang memang berbeda keduanya tidak sama tetapi ketika direkatkan mereka akan cocok, saling melengkapi satu dengan yang lain. Tahukah anda bahwa salah satu alasan mengapa begitu banyak pernikahan yang gagal pada akhir-akhir ini? Karena ada banyak laki-laki dan perempuan yang tidak mengerti perbedaan umum di antara mereka.

Ada pepatah mengatakan, “Asam di gunung, garam di laut bertemu di dalam satu kuali tetapi walaupun bertemu di dalam satu kuali yang sama asam itu tetap dari gunung dan garam itu asalnya tetap dari laut.” Untuk itulah kita perlu memahami pasangan hidup kita, memahami perbedaan-perbedaan yang ada.

Ada yang mengarang sebuah buku yang berjudul Men are from Mars and Women are from Venus. Laki-laki dari Mars dan perempuan dari Venus, keduanya memang berbeda. Namun perbedaan itu justru kalau kita pahami bersama bukan untuk dipertentangkan tetapi sebaliknya untuk saling melengkapi. Di dalam Alkitab terdapat ayat yang baik untuk diperhatikan.

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah” Roma 15: 5-7.

Saudara, Tuhan, ingin kita agar kita hidup di dalam kerukunan hidup harmonis antara satu dengan yang lain. Sebab dengan keharmonisan di dalam keluarga dengan satu hati dan satu suara kita bisa memuliakan Allah. Tahukan anda bahwa keluarga yang hidup rukun itu adalah keluarga yang memuliakan Allah dan apa kuncinya untuk kita bisa hidup harmonis? Kuncinya terdapat di ayat 7, “…terimalah satu akan yang lain sama seperti Kristus telah menerima kita untuk kemuliaan Allah” Apakah Kristus telah menerima kita karena kita sudah sempurna? Sama sekali tidak. Kita diterima oleh Kristus apa adanya dengan kekuarangan, kelemahan dan cacat cela kita. Karena itu, sama seperti Kristus berkenan menerima kita walaupun kita banyak kekurangan dan kelemahan, kita juga harus belajar saling menerima sehingga nama Tuhan akan dipermuliakan.

 

Ditulis dalam 1

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 15

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 15

Pilar Kehidupan Rohani yang Seimbang

“jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” Mazmur 127:1.

Kita boleh berusaha dengan keras tetapi kebahagiaan itu berasal dari Tuhan. kalau kita takut akan Tuhan, kalau kita hidup menyenangkan hati Tuhan pasti Tuhan akan memberikan kebahagiaan dalam hidup kita. Di Mazmur 128:1 tertulis, “Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukan-Nya!”, Tuhan menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang takut kepada Dia. Keluarganya di berkati, pekerjaannya diberkati, isterinya akan menjadi pohon anggur yang subur yang manis di dalam rumah bukan di luar rumah. Anak-anak seperti tunas-tunas pohon zaitun di sekeliling meja. Ada keakraban, ada fellowship satu dengan yang lain kalau seseorang hidup takut kepada Dia.

Kehidupan rohani yang baik sangat menentukan kebahagiaan dalam keluarga. Anda boleh mempunyai pemenuhan seksualitas yang sehat. Anda boleh mengetahui secara jelas mengenai peranan suami dan isteri dan mempunyai komunikasi terbuka. Namun kalau anda tidak mempunyai kehidupan rohani yang baik, anda tidak mempunyai kebahagiaan yang sejati seperti yang Tuhan idam-idamkan di dalam hidup saudara. Milikilah kehidupan rohani yang seimbang.

Saya kadang-kadang sedih melihat pasangan yang mungkin suaminya aktif di dalam pelayanan tetapi isterinya tidak terlibat dalam pelayanan tersebut. Ada isteri yang begitu rohani, rajin berdoa, rajin membaca Alkitab tetapi suaminya sama sekali tidak ada berminat untuk perkara-perkara rohani. Alangkah indahnya kalau kita bisa berdoa dan menyembah Allah, melayani dan mencari kehendak Allah secara bersama-sama serta saling menguatkan iman dan menerima otoritas firman Allah. Seperti Yosua yang pernah berkata, “Aku dan seisi keluargaku, kami akan beribadah kepada Allah.”

Saat terindah di dalam kehidupan adalah ketika saya menginginkan kalau setiap saat saya bisa berdoa bersama dengan isteri. Bahkan bersama-sama dengan anak-anak untuk saling mendoakan. Seringkali di mezbah doa keluarga yang kami lakukan kami bernyanyi dan bermain gitar. Salah satu anak saya memilihkan lagu yang akan dinyanyikan. Isteri saya membaca salah satu bagian dari Alkitab, kemudian kami secara bergilir saling mendoakan.

Hal yang menyenangkan adalah kalau kita bisa duduk bersama, suami-isteri, orang tua, anak di dalam takut kepada Allah, memohon perlindungan Allah dari segala godaan, segala yang jahat. Saya yakin dimana ada mezbah doa keluarga, disitulah keakraban, kehangatan di dalam rumah tangga akan Tuhan berikan kepada kita.

Saya mendorong anda kalau anda belum terbiasa berdoa bersama antara orang tua dengan anak. Setelah anda membaca ajaran ini, ambillah tindakan! Suami ajaklah isterimu! Isteri ajaklah suamimu! Orang tua ajaklah anak-anakmu! Mulailah mezbah keluarga sebab dengan kehidupan rohani yang seimbang, kebahagiaan dari Tuhan akan diberikan kepada anda. Saya berdoa supaya rumah tangga andak diberkati Tuhan.

Saya mau mendoakan siapa yang rumah tangganya ingin bahagia, mari tundukkan kepala bersama-sama, “Bapa sorgawi, kamu bersyukur atas firmanMu, kami rindu diberkati dengna keluarga yang bahagia. Kalau Engkau melihat, ya Tuhan, ada keluarga yang penuh percekcokan, penuh masalah, anak-anak bertengkar dengan orang tua, suami tidak rukun dengan isteri. Pada saat ini di dalam nama Yesus, pulihkan ya, Tuhan! Biarkan kami saling mengalah dan kami saling mengasihi! Taat kepada Allah sehingga kami merasakan ada suasana sorga di dalam rumah tangga kami. berkatMu atas kami, ya, Bapa! Di dalam nama Yesus! Amin.”

 

Ditulis dalam 1

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 14

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 14

Fungsi Seksual

Untuk Menyatakan Cinta

Seks merupakan komunikasi antara suami isteri untuk menyatakan cinta, kasih, dan kelembutan sehingga hubungan suami isteri tidak dilakukan dengan kasar tetapi dengan kelembutan karena saling mengasihi.

Untuk Mendapatkan Keturunan

Allah berfirman, “Beranakcuculah, bertambah banyaklah, penuhilah bumi dan taklukkanlah dia.” Melalui hubungan seks, kita bisa mendapatkan anak atau anak-anak di dalam keluarga. Namun seandainya saudara menikah tetapi tidak mendapatkan anak atau keturunan itu jangan dijadikan alasan untuk bercerai. Sebab, pernikahan itu sudah lengkap walaupun tanpa keturunan yang dihasilkan. Anda bisa bersyukur dengan hal itu karena anak adalah titipan Allah. Kalau anda tidak mempunyai anak tetaplah bersukacita dengan keadaanmu atau jika anda bersepakat bisa mengadopsi atau mengangkat seorang anak dan membesarkannya dengan kasih.

Untuk Kenikmatan

Ada banyak ketegangan emosi dan fisik tersalurkan melalui hubungan seks. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa seks merupakan sesuatu yang baik, penuh dengan nafsu yang harus dilakukan dalam konteks pernikahan maka boleh dinikmati karena seks adalah kebaikan yang Allah limpahkan ke dalam hidup kita. Hubungan seksual suami dengan isteri berfungsi untuk melindungi pasangan itu dari dosa.

Sebab ada tertulis: “Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.” (1 Korintus 7: 2-4).

Seks perlu dilakukan di dalam pernikahan oleh suami dan isteri untuk melindungi bahaya percabulan. Alkitab berkata supaya semuanya harus memenuhi kewajibannya satu dengan yang lain karena tubuh isteri adalah milik suami. Tubuh suami adalah milik isteri. Jangan menggunakan seks untuk menghukum pasangan kita, misalnya kalau anda sedang marah, jengkel, dendam lalu menghukum pasangan kita dengan menahan hubungan seks atau ada orang yang menggunakan seks untuk diupahi. Misal, isteri merengek-rengek minta dibelikan mesin cuci. Setelah melakukan hubungan seks, si isteri berbisik “Terima kasih buat mesin cucinya” Ini, kan jelas memanipulasi dan bukan berasal dari kasih. Tuhan ingin supaya rumah tangga kita bahagia dengan melakukan hubungan seks antara suami dan isteri.

 

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 13

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 13

Pilar Pemenuhan Seksualitas

Banyak orang berpikir bahwa seks itu adalah sesuatu yang najis dan kotor dan berdosa. Namun saya ingin mengatakan bahwa seks itu adalah gagasan Allah. Dialah yang menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa dengan jenis kelamin yang berbeda-beda, yaitu laki-laki dan perempuan. Namun seks yang baik itu hanya boleh dilakukan dalam konteks pernikahan. Di luar penikahan, seks yang dilakukan adalah dosa. Karena ini, saya ingin menegaskan kepada anda bahwa kalau anda belum menikah seorang pria harus menjaga keperjakaannya dan seorang wanita harus menjaga keperawanannya. Kalau anda sudah menikah maka anda harus menjaga kekudusan pernikahanmu. Hidup suci dan tidak menyeleweng dengan orang lain karena inilah yang membuat berkat Allah dilimpahkan dalam hidup kita.

 

Ditulis dalam 1

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 12

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 12

Memiliki Kualitas komunikasi

Hal lain yang dibutuhkan di dalam keluarga adalah kualitas komunikasi. Sebab kalau pasangan tersebut sudah banyak berbicara tetapi diwarnai dengan percekcokan tentu rumah tangganya juga tidak merasa bahagia. Nah, kualitas komunikasi mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian antara satu dengan yang lain. Ada banyak orang bisa mendengar tetapi tidak mendengarkan artinya, tidak memberi perhatian serius kepada apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Ada suami yang kalau diajak omong isterinya hanya mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya!” tetapi matanya tetap terarah pada televisi atau matanya tetap terarah pada koran yang dibaca. Seharusnya ketika kita mendengarkan, kita harus mengubah posisi tubuh. Dari menghadap ke televisi menjadi menghadap ke lawan bicara kita. Sebab, setiap orang itu ingin didengarkan dan kita perlu memperhatikan perhatian ini.

Selain itu, kita juga harus belajar berbicara dengan bijaksana. Kalau anda tidak setuju dengan pasangan hidupmu jangan membisu. Kadang-kadang ada orang bilang, “Kau harus tahu apa perasaan saya. Kalau saya tidak berbicara kepadanya, dia harus ngerti sendiri.” Saya mau katakan, “Tidak bisa! Kita harus mengungkapkan isi hati kita ke dalam perkataan-perkataan supaya kita juga dimengerti. Jangan di simpan di hati saja. Kita juga harus menggunakan kata-kata dengan baik, jangan menggunakan kata-kata kasar apalagi cerewet sehingga membuat hati menjadi panas. Di dalam Amsal 21: 9 Salomo berkata, “Lebih baik tinggal pada sudut rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” Sedangkan pada ayat 19 tertulis, “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.” Tuhan ingin kita menggunakan kata yang melembutkan hati, baik, dan membangun di dalam keluarga.

Di dalam Amsal 15: 1 tertulis, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Anda tahu bahwa menurut pakar komunikasi 90% konflik di dalam pernikahan terjadi bukan karena adanya suatu masalah tetapi karena nada suara yang salah. Banyak orang yang bertengkar karena nada bicaranya terlalu tinggi. Sebetulnya tidak marah tetapi bicaranya seperti orang yang sedang marah-marah.

Karena itu, belajarlah mengucapkan kata-kata dengan lebih lembut. Kalau anda marah, maralah dengan nada suara yang rendah. Kalau anda marah dengan nada suara yang rendah, maka saya yakin tidak terlalu banyak konflik yang timbul.

Belajarlah mengucapkan kata-kata yang membangun, penuh penghargaan, belajarlah memuji satu dengan yang lain karena akan menyegarkan hati kita. Jangan menggunakan kata-kata yang tajam apalagi yang menyinggung keluarga, seperti pasangan hidup saudara. Kalau anda marah, jangan berkata, “Kamu tolol seperti ibumu! Sudah gembrot, makan melulu!” Namun pergunakan kata-kata yang baik dan menghargai karena semua orang senang mendengarkan kata-kata yang indah. Pergunakan kata-kata yang mesra.

Saya heran kadang-kadang anak SMP sekarang kalau lagi pacaran, aduh mesra sekali! Cara memanggilnya saja sudah “papi” dan “mami”. “Papi, kita mau kemana?” “Ah, terserah mami saja.” Padahal masih SMP lho, pergi ke sekolah saja masih memakai celana pendek tetapi sudah memakai “papi” dan “mami”. Lho, yang saya heran, orang yang sudah berkeluarga cara memanggilnya bukan papi dan mami, tetapi “sini” atau “situ”. “Situ mau makan tidak?” kalau situ mau makan, situ ke sini, sini mau ke situ.” Itu tidak terlalu baik. Mari kita belajar meningkatkan kuantitas komunikasi dan kualitas komunikasi itu sendiri. Komunikasi yang terbuka menyebabkan kebahagiaan di dalam keluarga. Apa pun masalah bisa datang tetapi kalau kita bisa membicarakannya secara terbuka tentulah kebahagiaan akan kita alami.

Ditulis dalam 1

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 11

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 11

Proses-Proses Komunikasi yang Baik Memiliki Unsur Kuantitas yang Utuh

Komunikasi yng baik harus memiliki unsur kuantitas yang utuh. Kita harus menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk bercakap-cakap dengan pasangan kita dan anak-anak kita. Nah, saya ingin memberitahukan bahwa kebutuhan komunikasi wanita itu lebih besar, lebih banyak daripada kebutuhan komunikasi seorang pria. Sejak lahir gerakan mulut bayi perempuan itu lebih banyak daripada bayi laki-laki. Sebuah riset di New York, Amerika Serikat, menyatakan bahwa isteri memiliki kebutuhan bicara kepada suami minimal sekitar 45-60 menit setiap hari. Sedangkan suami sudah merasa cukup berkomunikasi dengan isterinya selama 15-20 menit saja setiap minggu. Bayangkan! Itu sebabnya seringkali terjadi di dalam keluarga sering terjadi kekurangan waktu untuk berkomunikasi di antara keduanya.

 

Ditulis dalam 1

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 10

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 10

Pilar Komunikasi yang Terbuka

Komunikasi adalah hal yang penting di dalam pernikahan karena di dalam pernikahan ada dua pribadi yang berbeda sifat dan karakternya. Namun hidup bersama sebagai suami isteri sehingga setiap perbedaan membutuhkan penyesuaian. Penyesuaian itu tentu harus diungkapkan melalui komunikasi.

 

Ditulis dalam 1