Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 02

Relasi Suami-Isteri: Pria Antik, Wanita Unik 02

Perbedaan Antara Perempuan dengan Laki-Laki

Sekarang saya ingin mengajak anda untuk melihat paling tidak ada lima perbedaan utama antara laki-laki dengan perempuan. Kalau kita mengetahui perbedaan-perbedaan ini kita bisa belajar untuk saling menghargai perbedaan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itu merupakan dasar untuk saling melengkapi supaya kita bisa lebih harmonis.

Perempuan: Intuitif – Laki-laki: Logis

Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan, bersifat emosional, intuitif dan lebih peduli kepada orang. Sedangkan laki-laki biasanya mengutamakan pikiran. Dia lebih suka melakukan sesuatu dengan analisa, berpikir logis dan kritis. Ya, kalau perempuan dan laki-laki sedang ribut kalau sumai dengan isteri sedang bertengkar biasanya isteri berkata seperti ini, “Suami  saya itu tidak peduli dengan perasaan saya, dia itu nggak ngerti hati saya. Sedangkan si suami berkata, “Apa yang diminta isteri saya itu tidak logis.” Perempuan itu berbicara dari perasaannya, dari hatinya. Pria bicara dari logikanya, dari akalnya. Tentu saja tidak bakalan ketemu. Suami dan isteri dalam sebuah pernikahan kadang-kadang seperti gelombang AM dan FM dalam sebuah radio sehingga tidak ketemu. Namun kalau kita menerima perbedaan justru itu baik untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Mengapa terdapat perbedaan itu? Karena ternyata otak laki-laki dan perempuan itu bekerja dengan cara yang berbeda. Pada tahun 1981 ada seorang bernama Dr Roger Sperry yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang obat-obatan. Dia menemukan perbedaan fungsi otak antara laki-laki dengan perempuan. Intinya pria lebih banyak berpikir dengan otak kiri. Sedangkan wanita lebih banyak berpikir dengan otak kanan. Otak kiri itu adalah bagian yang memproses bahasa dan matematika sehingga seseorang yang berpikir dengan otak kirinya akan berpikir secara sistematis dan logis. Dia membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan sesuatu melalui sistematika langkah demi langkah. Sedangkan orang yang berpikir dengan otak kanan biasanya lebih menekan visual. Dia merekam perasaannya dalam hatinya, lebih bersifat emosional dan lebih menyukai seni. Nah, kalau kita tidak menyadari perbedaan ini maka akan terjadi keributan di dalam keluarga.

Wanita lebih banyak menekankan intuisi, gerak hati. Sedangkan pria lebih menekankan analisa. Misalnya, ada sepasang suami isteri yang sedang mengetes karyawan baru yang akan diterima di perusahaan mereka, si suami mulai bertanya dengan pertanyaan yang rumit melihat curiculum vitae, data dari jati diri orang tersebut. Mungkin setelah melihat pendidikannya, latar belakang pengalamannya, dia merasa bahwa karyawan tersebut cocok karena berdasar analisa pikirannya tepat sekali sesuai dengan yang diperlukannya. Namun ketika dia menoleh kepada isterinya dan bertanya, “Gimana, ma kira-kira orang ini?” Isterinay Cuma berkata, “Aduh, saya rasanya kok kurang sreg”. Lho kurang sregnya di sebelah mana, ma?” kata si suami. Nah itu yang sulit saya jelaskan. Terkadang suami menjadi marah, “Kamu itu tidak sreg sreg sreg sreg aja. Jelasin dong secara logika kenapa kamu tidak mau menerima orang ini.” “Ya, udah kalau kamu mau terima, terima aja.” Beberapa bulan kemudian setelah diterima ternyata karyawan baru ini melakukan penipuan. Pintar sih pintar tetapi licik juga. Akhirnya, si suami mengeluarkan dia dan apa kata isterinya, “Tuh bener nggak kata saya, nggak sreg.”

Nah, inilah perbedaan antara pria dengan wanita. Pria menekankan analisa. Wanita menekankan intuisi. Saya melihat kasus ini dalam Alkitab. Misalnya, ketika Pilatus akan memutuskan apakah dia akan menjatuhkan hukuman kepada Yesus atau tidak. Di dalam Matius 27: 19 tertulis, “Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: ‘Jangan engkau mencampuri perkara orang benar ini, sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Di dalam ayat 24 tertulis, “Ketika Pilatus melihat segala usahanya sia-sia, malah sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri.”

Sebagai seorang pria Pilatus tentu mempertimbangkan secara logika apa yang merupakan kesalahan Yesus. Namun ketika dia sedang mempertimbangkan secara sistematis kesalahan Yesus, isterinya datang membawa pesan, “Hati saya ini gelisah karena saya dikejar-kejar mimpi tadi malam berkaitan dengan Yesus orang benar ini.” Akibatnya Pilatus mencuci tangannya dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini.” Lihatlah! Wanita menekankan intuisi, pria menekankan logika. Kalau semua ini digabung secara bersama-sama ketika mengambil suatu keputusan bukankah ini menjadi perpaduan yang sangat harmonis satu dengan yang lain. Halleluya!

 

Komentar telah ditutup