The Art of Listening

The Art of Listening

Komunikasi merupakan proses penyampaian dan penerimaan informasi antara dua pihak atau lebih, yang berbeda. Agar komunikasi berjalan dengan efektif, kita tidak cuma harus mempersiapkan topik yang akan kita bicarakan, melainkan juga kesiapan untuk mendengarkan dengan baik. Diakui atau tidak, mendengarkan dengan baik sudah menjadi satu keahlian yang harus diasah pada masa ini.

Mendengarkan dengan baik merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin berhasil di bidang kehidupan yang sedang dijalaninya, entahlah sebagai seorang pelajar, pengajar, pendeta, pemimpin, pebisnis, pedagang atau pejabat pemerintah. Jika kita memiliki keahlian untuk mendengarkan, maka kita akan menjadi orang bijak yang tahu mengambil keputusan-keputusan yang tepat di dalam hidup ini.

“Listening” berasal dari kata “listen”, sebuah kata kerja yang artinya aktif mendengar. Kalau dilihat sepintas lalu, memang menjadi pendengar yang baik sepertinya tidak sulit dilakukan karena kita memiliki sepasang telinga dan satu mulut, tetapi pada praktiknya kita lebih senang bercerita dan berkomentar daripada mendengarkan. Memang tidak mudah memiliki kemampuan mendengar dengan baik, karena kemampuan ini memiliki seni tersendiri, yang dikenal dengan istilah “The Art of Listening” atau “Seni Mendengar”. Tidak mudah tidak berarti tidak bisa dikuasai, kita hanya perlu ekstra usaha dan berlatih dengan tekun. Sebagai penyemangat untuk tekun berlatih diri, ingatlah bahwa semakin bijak seseorang maka semakin sedikit dia berbicara dan semakin banyak dia mendengar. Lalu hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan diperhatikan supaya kita bisa menjadi pendengar yang baik?

A. MENGASAH SENI MENDENGAR

Pada masa ini kemampuan mendengar dengan baik sudah seharusnya dimiliki oleh orang yang mau berkembang dan berhasil. Untuk itu marilah kita simak langkah-langkah menjadi pendengar yang baik.

1. Berhenti berbicara ketika harus mendengarkan

Kita harus mengerti bahwa ada waktunya kita angkat bicara dan ada waktunya kita mendengar dengan baik. Mendengar dengan baik artinya kita menyimak dan terlibat secara emosional dengan orang yang sedang berbicara kepada kita.

Ketika kita berada dalam satu kondisi di mana lawan bicara kita memperlihatkan bahwa dia mau berbicara, atau bahkan masih ingin terus berbicara karena belum tuntas, maka kita harus mau menahan diri sampai dia selesai berbicara. Setelah mendengar secara keseluruhan, barulah kita dapat memberikan jawaban atau komentar yang tepat. Untuk melatih diri, cobalah untuk memberi waktu mendengarkan dua kali lebih lama daripada porsi bicara kita.

2. Belajar memberikan waktu pada orang yang sedang bicara

Berilah orang lain ruang dan waktu untuk mengutarakan maksud yang terkandung di dalam hatinya. Jangan segera dipotong atau disela, tetapi dengarkanlah dengan baik ketika ia sedang berbicara.

3. Tunjukkan bahwa kita menyimak dengan baik

Ketika mendengar, pandanglah wajah orang yang sedang berbicara, tersenyum bila perlu, beri anggukan jika setuju, dan sebagainya. Tanyakan sesuatu jika melihat bahwa ia ingin menjelaskan lebih lanjut atau ketika kita ingin tahu seseuatu. Dengarkanlah kata-katanya, sabarlah menunggu giliran kita untuk berbicara.

4. Jauhkan semua gangguan

Mendengarkan dengan baik berarti kita menyingkirkan semua gangguan di sekitar kita, misalnya mematikan radio, TV, menutup pintu, berhenti menbaca, SMS-an, dan sebagainya. Berilah perhatian penuh dan biarkan lawan bicara kita tahu bahwa dia memperoleh perhatian kita secara penuh.

5. Tunjukkan empati

Ketika lawan bicara kita sedang mengemukakan suatu hal yang bersifat pribadi, terutama keluhan atau penderitaan, tunjukkanlah empati kita. Cobalah untuk memposisikan diri kita di pihaknya agar dia merasa nyaman untuk bercerita.

6. Kenali lawan bicara kita

Kenalilah lawan bicara kita, apakah ia orang yang mudah mengungkapkan isi hati dan pikirannya atau sejenis orang yang sulit menemukan kata-kata yang tepat. Kita perlu ekstra sabar kalau sedang berhadapan dengan jenis orang yang butuh waktu lama untuk menemukan kata-kata yang tepat. Beri dia waktu!

7. Hati-hati pada emosi diri sendiri

Bila apa yang dikatakan lawan bicara memancing emosi kita, bersikaplah ekstra sabar. Jangan cepat terpancing karena mungkin kita bisa menangkap pesan penting yang disampaikannya, walau dengan cara yang tidak tepat. Bila kita terpancing marah, takut atau merasa terganggu, bisa jadi kita akan kehilangan bagian terpenting yang sebenarnya sedang disampaikannya. Kalau kita menghadapinya dengan sikap yang tenang, cepat atau lambat dia akan ikut-ikutan tenang karena kesabaran mencairkan ketegangan.

8. Bila tidak setuju dan ingin mengoreksi atau berargumentasi, lakukan dengan bijaksana

Meskipun ktia tidak setuju pada apa yang disampaikannya oleh lawan bicara, kita harus membiarkan dia melontarkan sudut pandangnya terlebih dulu. Kalau kita menunjukkan ketidaksukaan dan langsung melontarkan sanggahan, maka itu akan menciptakan sebuah suasana yang tegang. Komentar atau argumentasi kita bisa membuat lawan bicara jadi defensif atau menahan diri. Jika ini terjadi, meskipun kita “memenangkan” argumentasi dalam perbincangan itu, kita bisa menjadi pihak yang dirugikan karena akan kehilangan suatu pandangan atau informasi yang jauh lebih berharga. Sebelum memberi argumentasi atau sanggahan, tunjukkanlah sikap bahwa kita tidak menentang pandangannya walaupun pada dasarnya kita tidak sepenuhnya setuju. Nyatakan penghargaan kita atas pandangan yang sudah dikemukakannya dengan kalimat yang tepat. Ketika dia tahu bahwa kita tidak menentangnya, bahkan seolah-olah ada di pihaknya maka dia akan lebih terbuka kepada kita. Itulah saat yang tepat bagi kita untuk memaparkan pandangan atau sanggahan yang kita susun dengan kalimat yang baik.

9. Lontarkan pertanyaan yang tepat

Sesekali lontarkan pertanyaan yang memancing nasihat, pendapat atau pandangan orang yang sedang berbicara dengan kita dan dengarkan apa yang dikatakannya dengan cermat. Satu prinsip yang harus kita tanamkan di dalam hati ketika bertanya, jangan melemparkan pertanyaan yang bersifat menyerang, “mengapa?” lebih baik mengatakan “Bagaimana bisa ya?” Jika ingin nasihat atau saran, ajukan pertanyaan ini, “Menurut Anda, tindakan apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini?” Jika itu menyangkut perasaan, jangan katakan, “Maumu apa?” Ajukan pertanyaan ini, “Bagaimana perasaanmu sekarang?”.

B. KEBIASAAN BURUK DI DALAM KOMUNIKASI

Di bawah ini ada beberapa poin yang perlu kita waspadai karena dikategorikan sebagai penghambat bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik, yaitu:

1. Berpura-pura memberi perhatian, padahal sama sekali tidak memperhatikan, apalagi menyimak. Pelukis ternama, Leonardo da Vinci meneguhkannya dengan berkata, “Most people listen without hearing,” atau “Kebanyakan orang mendengar tanpa menyimak.” Tanpa menyimak maka kita tidak akan bisa menangkap pesan yang disampaikan orang yang sedang berbicara kepada kita.

2. Melakukan hal-hal lain, ketika sedang mendengarkan, misalnya bersenandung, melihat acara di TV, SMS-an, pandangan mata yang berpindah-pindah, dan sebagainya. Jika kita ingin didengar ketika berbicara, maka kita harus melakukan hal yang sama kepada orang yang berbicara kepada kita.

3. Menganggap topik yang dikemukakan lawan bicara tidak menarik. Memang tidak semua topik pembicaraan yang kita dengarkan menarik bagi kita, tetapi itu tidak berarti kita bisa langsung menunjukkan ketidaktertarikkan kita. Dengarkan beberapa saat siapa tahu ada pesan atau hal yang membangun yang disampaikannya, yang kadang-kadang merupakan hal yang baru bagi kita.

4. Suka mengalihkan dengan membelokkan topik pembicaraan. Sangat tidak sopan jika kita tiba-tiba mengangkat satu topik yang berbeda sementara teman bicara kita sedang asyik membicarakan pokok pikiran tertentu.

5. Sengaja mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan emosi atau nada permusuhan. Sifat pendamai dan kelemah-lembutan membuat kita disenangi orang, tetapi sikap yang suka menyerang membuat orang menghindar dari kita. “Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi pembantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarah meledak.”

6. Memberi jawaban yang sangat singkat, seperti: ya, tidak, atau terserah, mengindikasikan bahwa kita tidak mendengar dengan baik.

7. Menghindari suatu topik yang kompleks atau sulit. Kalau memang ktia sedang berhadapan dan harus menyelesaikan suatu topik yang kompleks atau sulit, maka kita harus membicarakan dan mendengarkannya dengan baik. Janganlah kita mengalihkan perhatian untuk mendengar penjelasan yang sulit karena alasan malas dan ingin menundanya.

C. MENDENGAR DENGAN EFEKTIF

Ada 3 ekspresi yang bisa menunjukkan bahwa kita seorang pendengar yang efektif

1. Mendengar dengan bahasa tubuh

Pendengar yang baik menunjukkan keseriusannya dengan bahasa tubuh atau “body language” yang baik. Kebanyakan orang tidak sadar bahwa tubuh bisa berbicara dengan bahasanya sendiri. Bahasa tubuh merupakan bagian dari percakapan yang memberikan dampak yang sangat berarti. Jari, tangan, kaki serta gerak tubuh kita bisa menceritakan perasaan kita yang sesungguhnya, apakah kita sedang menyimak atau tidak. Posisi tubuh yang berdiri tegak, santai, duduk atau gelisah akan membuat perbedaan dalam sebuah komunikasi. Jika kita bosan maka itu akan tampak pada gerak-gerik kita yang ogah-ogahan.

Menurut psykolog David J.Lieberman Ph.D, ketika dalam sebuah pembicaraan seseorang menutup mata atau menyentuh wajahnya, itu berarti tubuhnya sedang berusaha menyampaikan informasi, “Aku benar-benar tidak ingin mendengarkan ini.” Kalau seorang mengangkat bahu itu berarti dia sedang menyampaikan informasi bahwa dia tidak tahu, tidak serius, atau bahkan acuh terhadap topik yang disampaikan kepadanya.

2. “Mendengarkan” dengan mata

Mata merupakan cermin nyata yang menunjukkan apakah hati kita tertarik dan menyimak atau sebaliknya. Tatapan yang fokus dan hangat menunjukkan bahwa kita menyimak apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita, sedangkan mata yang suka melirik ke berbagai tempat menunjukkan bahwa kita tidak menyimak. “Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.”

3. Mendengar dengan pikiran yang terbuka

Beberapa orang membiarkan dirinya melamun ketika mereka mendengarkan presentasi atau ketika seseorang berbicara kepadanya. Tindakan melamun lebih buruk daripada mengalihkan pembicaraan dan ini menunjukkan bahwa kita tidak mendengarkan dengan pikiran yang terbuka. Belajarlah untuk mendengarkan dengan pikiran yang terbuka. Jika pikiran kita terlibat mendengarkan apa yang dikatakan oleh lawan bicara, maka kita akan menangkap hal-hal yang berguna dan juga bisa memberikan tanggapan-tanggapan yang tepat. Di sisi lain, orang yang terbiasa mendengarkan dengan baik membiasakan dirinya mencatat hal-hal penting yang didapatnya ketika ia mendengarkan.

D. MANFAAT MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

Firman Tuhan berkata, “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.” Dari sini kita mengetahui bahwa Tuhan punya tujuan khusus ketika ia mendesain tubuh kita dengan memberikan sepasang telinga yang berfungsi sebagai pendengar. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang mendengarkan dengan baik. Manfaat apa saja yang akan kita peroleh jika kita belajar menjadi pendengar yang baik?

Pertama, dengan mendengar kita sedang membentuk diri menjadi pribadi yang positif. Tatkala kita membiasakan diri menjadi pendengar yang baik, maka kita akan terbentuk menjadi orang yang positif, yang tidak egois, dan hanya mau didengarkan saja.

Kedua, mendengarkan dengan baik memampukan kita menyerap nilai-nilai baik yang dimiliki dan disampaikan oleh seseorang yang sedang berbicara kepada kita. Seorang bijak berkata, “Listening is one of the most effective ways of learing what others value. When I listen to you, I learn what your value,” artinya “Mendengar adalah salah satu cara terefektif untuk belajar tentang nilai-nilai orang lain. Ketika saya mendengarkan Anda, saya belajar nilai-nilai Anda.” Ketika mendengarkan orang lain dengan seksama, kita belajar tnetang nilai-nilai baik yang dimilikinya. Mendengar juga membantu kita menyerap pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang berbicara.

Ketiga, mendengar dengan baik menunjukkan bahwa kita mengasihi dan menghargai orang lain. Kita memang cepat tergoda memberi respons untuk menginterupsi atau memberi komentar dalam sebuah komunikasi ketimbang mendengarkan. Pepatah Roma berkata, “Biasanya kita hanya tertarik pada orang lain ketika mereka tertarik kepada kita.” Kata-kata bijak ini menunjukkan betapa sifat buruk kebanyakan orang, seringkali kita biarkan juga menjangkiti kita. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan menghormati orang lain terlebih dahulu barulah kita bisa dapat mengharapkan orang lain akan mengasihi dan menghormati kita. Jadi jika kita memperlihatkan bahwa kita menghargai orang dengan cara mendengarkan dengan baik apa yang mereka bicarakan, maka mereka juga akan mendengarkan kita dengan bijak. Jadilah pendengar yang baik!

Iklan

2 thoughts on “The Art of Listening

  1. dengarkan kanlah saat kita bisa mendengar!
    lihatlah saat kita bisa melihat !
    peganglah saat tangan kita bisa memegang !
    tendanglah saat kita bisa menendang!

    goal…………..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s