The Art of Speaking

The Art of Speaking

Di dalam kehidupan sehari-hari, berbicara dan mendengarkan adalah dua kegiatan yang paling sering kita lakukan. Dalam hal kali ini “The Art of Speaking” atau “Seni Berbicara” ini, kita akan belajar bagaimana menjadi lawan bicara yang baik, agar sebuah pembicaraan menjadi efektif. Seorang pedagang yang biasa menjajakan dagangannya haruslah pandai berbicara, agar para pembeli tertarik. Seorang pengajar atau pengkhotbah harus pandai berbicara, agar para pendengarnya mendapatkan berkat. Di dalam percakapan sehari-hari atau komunikasi informal. Kepandaian berbicara sangat menentukan apakah orang lain akan merasa senang berbicara dengan kita atau tidak.

Harus dapat dibedakan antara “pandai bicara” dengan “banyak bicara”. Orang yang pandai berbicara atau yang mengerti seni berbicara, belum tentu banyak bicara. Sebaliknya, orang yang banyak bicara belum tentu pandai berbicara atau menguasai seni berbicara. Jika ingin menjadi orang yang pandai berbicara, kita harus mempelajari seni berbicara dan mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik di dalam berbicara.

KOMUNIKASI FORMAL

Yang dimaksudkan dengan komunikasi formal adalah percakapan resmi, yang dilakukan seseorang ketika berbicara di muka umum. Misalnya, ketika sedang berkhotbah, mengajar, berpidato, atau memberikan seminar. Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan oleh seorang pembicara ketika hendak berbicara di depan umum:

A. Mempersiapkan Materi Sebaik Mungkin. Setelah memilih topik yang akan Anda sampaikan, cari informasi sebanyak mungkin mengenai hal itu. Gali, kembangkan dan tambahkan cerita-cerita menarik yang berhubungan dengan topik yang akan Anda bicarakan. Persiapan yang matang akan membuat Anda lebih tenang dan lebih percaya diri di dalam menyampaikannya.

B. Perhatikan Teknik Penyajian Materi. Yang dimaksudkan dengan teknik penyajian di sini adalah cara yang digunakan di dalam berbicara. Yang meliputi beberapa hal:

Ø Sampaikan materi dengan sistematis dan jelas. Jangan loncat sini loncat sana, comot sini comot sana, sampaikanlah secara berurutan sesuai poin-poin yang sudah Anda siapkan. Hindari juga penyampaian yang terlalu berbelit-belit dan pemakaian kata-kata asing yang belum tentu dimengerti oleh semua pendengar.

Ø Memiliki kemampuan yang baik di dalam menggunakan bahasa lisan. Jika Anda adalah seorang pembicara, berusahalah untuk menguasai tata bahasa dengan baik, mempunyai artikulasi atau pengucapan kata yang jelas, perhatikan ritme atau irama, serta intonasi. Menyampaikan materi dengan cara yang monoton, akan sangat membosankan. Jika Anda sebagai pengkhotbah tidak memperhatikan semua ini, maka jemaat akan bosan dan gelisah mendengarkan khotbah Anda. Jangan biasakan menggunakan kata-kata klise atau kata-kata yang tidak berguna di akhir kalimat Anda. Contohnya seperti: “begitu”, “begitu lho”, “dan sebagainya”, “gitu kan”, “iya kan”, “kan begitu”, “apa namanya”.

Ø Bahasa tubuh/body language. Di dalam berbicara, bahasa tubuh sangatlah penting. Berdirilah tegak dengan kepala yang tegak pula ketika berada di depan. Lakukanlah gerakan-gerakan tertentu baik itu gerakan tangan atau melangkahkah kaki jika Anda merasa perlu melakukannya. Ini akan membuat pembicaraan Anda terasa lebih hidup. Perlihatkan pula ekspresi wajah yang menarik ketika berbicara. Jangan cemberut dan kelihatan tidak bersemangat. Jika apa yang Anda sampaikan disertai dengan ekspresi wajah yang gembira dan bersemangat, maka pendengar pun akan bersemangat.

Ø Kemampuan memberikan penyegaran. Selipkan cerita atau pembicaraan yang bisa membuat pendengar tertawa dan rileks. Cerita atau humor yang diberikan tentunya yang berhubungan dengan topik yang sedang Anda bahas. Ini akan membuat pendengar lebih santai dan tidak terlalu tegang. Tetapi ingat, jangan membuka pembicaraan Anda dengan humor, karena pendengar belum terbiasa dengan Anda dan dengan gaya Anda sehingga humor akan kurang efektif.

Ø Kepribadian/personality. Ada orang yang memang memiliki karisma atau daya pesona, tetapi yang membuat seorang pembicara tidak kalah menarik adalah kepribadiannya yang diantaranya adalah: bijaksana, berani, tegas, jujur, tenang, rendah hati. Para pendengar yang mengetahui bahwa orang yang berbicara di depannya memiliki kepribadian yang kurang baik akan mengurangi minat mereka untuk mendengarkan apa yang ia katakan. Sebab itu bangunlah kepribadian dengan baik, sehingga Anda memiliki nama baik di depan orang.

KOMUNIKASI INFORMAL

Yang dimaksud dengan komunikasi informal adalah komunikasi tidak resmi, seperti percakapan sehari-hari. Melalui percakapan sehari-hari, Anda dapat membangun hubungan dengan orang lain, tetapi melalui percakapan juga Anda dapat menghancurkan suatu hubungan. Tidak jarang di mana komunikasi kita dengan orang lain, dalam hal ini komunikasi lisan, menjadi tidak efektif dan bahkan membuat orang lain gerah karena kita tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengna baik. Padahal cara kira berkomunikasi juga sangat berperan di dalam mempererat hubungan dengan orang lain. Untuk itu kita perlu memperhatikan beberapa poin berikut:

A. Sopan Santun Dalam Berbicara. Jika orang mengerti seni berbicara akan memperhatikan kesopanan di dalam berbicara. Jika tidak, sebuah percakapan bisa merusak, menimbulkan kebosanan bahkan juga kebencian. Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikembangkan di dalam sebuah percakapan.

Ø Tidak memotong pembicaraan. Menurut Esmond G. Addeo dan Robert E. Burger dalam buku mereka “Egospeak”, orang yang suka memotong pembicaraan adalah orang yang tidak sabar dan egois. Ia ingin segera mengutarakan isi hati dan pendapatnya tanpa memperdulikan orang lain yang sedang berbicara. Bersabarlah sampai lawan bicara kita selesai berbicara. Kita harus belajar mendahulukan orang lain dan menganggap mereka lebih penting.

Ø Tidak berbicara terue menerus. Dalam setiap percakapan, semua orang mempunyai hak dan kesempatan untuk mengutarakan pendapat. Jangan berpikir bahwa pendapat atau informasi yang Anda sampaikan begitu penting. Ingatlah bahwa orang lain juga ingin menyampaikan sesuatu, jangan selalu menguasai pembicaraan karena Anda akan menjadi orang yang sangat membosankan bahkan menyebalkan. Jangan bangga ketika orang yang ada di sekitar Anda nampak manggut-manggut dan hanya bisa mengatakan “O ya”, “O begitu” atau “Hebat ya”, ketika Anda berbicara terus menerus. Berilah mereka kesempatan untuk bericara. Terlalu banyak mengeluarkan kata-kata juga tidak baik.

Ø Tidak berlagak tahu segalanya. Sepintar apa pun Anda dan seluas apa pun wawasan Anda, belum tentu Anda tahu segalanya. Kalaupun Anda tahu banyak hal, jagalah sikap jangan sampai terkesan sombong apalagi berlagak tahu di dalam berbicara. Berbicara dengan orang lain selain bertukar informasi, juga berfungsi untuk membangun hubungan dan bukan untuk adu pengetahuan dan wawasan. Bersikaplah rendah hati ketika menyampaikan apa yang Anda ketahui, sehingga Anda tidak dipandang sebagai orang yang berlagak tahu.

Ø Tidak membicarakan kehebatan diri sendiri. Berhati-hatilah ketika menceritakan tentang kehebatan Anda atau keberhasilan keluarga Anda. Mungkin Anda tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, tetapi ingatlah bahwa masing-masing orang memiliki penilaian dan tanggapan yang berbeda. Kalaupun Anda harus mengatakan tentang keberhasilan atau pencapaian yang Anda raih, katakan seperlunya saja dan jangan pernah tergoda untuk menyombongkan diri.

Ø Tidak berbicara kepada satu orang saja. Ketika sedang bersama-sama dengan beberapa orang, tujukanlah pembicaraan Anda kepada semua orang dan tidak hanya kepada satu orang saja. Jika Anda hanya menujukan pembicaraan kepada satu orang saja, maka orang lain yang ada merasa tidak diikutsertakan dan diabaikan dalam pembicaraan tersebut. Ini akan menciptakan tembok penghalang dengan orang lain dan mengundang perpecahan.

Ø Tidak menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing. Yang dimaksudkan disini adalah menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh semua orang yang ada bersama-sama Anda. Jika Anda melakukan ini, maka orang lain yang tidak mengerti bahasa yang Anda gunakan akan berpikir bahwa Anda sedang membicarakan mereka. Belajarlah menjaga perasaan sesama agar tidak terjadi kecurigaan dan kebencian, sehingga semua hidup damai sejahtera.

Ø Tidak mematikan pembicaraan orang. Jangan mematikan pembicaraan orang lain dengan langsung melontarkan kritik tajam atau menyatakan bahwa pendapatnya itu salah. Pakailah cara-cara yang lebih bijaksana, yang tidak membuat lawan bicara Anda tidak mau lagi berbicara. Dalam setiap pembicaraan, junjung tinggi kesopanan dan tenggang rasa, buat orang lain merasa penting dan dihargai. Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.

Ø Tidak memaksakan diri sendiri. Biasanya setiap orang menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Tidak heran jika orang yang ngotot dan memaksakan pendapatnya sendiri. Tetapi, di dalam sebuah percakapan usahakanlah agar Anda jangan ngotot dan memaksakan lawan bicara Anda untuk menerima secara mentah-mentah pendapat Anda tersebut. Ada kemungkinan pendapat orang lain juga benar jika di lihat dari sudut pandang yang berbeda. Bicarakanlah dengan bijak untuk mendapatkan sebuah kesepakatan atau pandangan yang dapat diterima oleh semua pihak. Jika Anda terbiasa menerapkan sopan santun di dalam berbicara, maka Anda akan menjadi teman yang baik dan disukai oleh sesama, karena tidak menganggap pendapat Anda lebih benar.

Ø Tanggaipilah ketika orang lain berbicara. Sebagaimana Anda mengharapkan agar orang lain menanggapi ketika Anda berbicara, berilah juga tanggapan ketika seseorang berbicara. Jangan hanya berdiam diri atau pura-pura tidak mendengar pembicaraannya. Meskipun Anda tidak bisa memberikan jawanan terhadap permasalahan yang teman Anda utarakan, tetapi paling tidak Anda bisa memberikan tanggapan terhadap apa yang ia bicarakan dan itu akan membuat dia merasa bahwa Anda tidak mengabaikannya.

B. Isi Pembicaraan. Ketika berbicara, perhatikan juga isi pembicaraan Anda agar apa yang Anda bicarakan merupakan pembicaraan yang berguna dan membangun. Jangan sampai lidah ini membawa Anda ke dalam dosa!

Ø Tidak membicarakan kejelekan orang lain. Hindarilah kebiasaan membicarakan kejelekan orang lain atau menggosipakan seseorang. Ingat bahwa Anda pun tidak sempurna, Anda tidak lebih baik dari orang lain yang Anda bicarakan. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, tegurlah ia dengan kasih dan tidak perlu membicarakan kejelekannya tersebut.

Ø Tidak bernada keluhan. Banyak kesulitan dan beban hidup yang kita alami selama ada di dunia ini, jadi jangan lagi menambah beban berat tersebut dengan mengeluh tentang berbagai keadaan atau kejadian. Teman bicara Anda ingin mendengarkan berita yang positif dan membangkitkan semangat. Jadi, janganlah pembicaraan Anda berisi keluhan. Ketika seseorang mulai mengeluh dan menceritakan tentang pekerjaannya yang banyak dan terbengkalai, anak yang susah diatur, kebutuhan hidup yang banyak, pembantu yang tidak jujur, dan berbagai macam keluhan lainnya, rasanya orang yang mendengarkan pun jadi capek. Bicarakanlah sesuatu yang bermakna dan membangun orang-orang yang mendengarkan.

Ø Bicarakan sesuatu yang diminati lawan bicara. Orang yang tahu seni berbicara akan membicarakan bidang yang sedang diminati oleh lawan bicaranya. Bila perlu ia akan mencari informasi tentang hal itu agar pembicaraan mereka lancar. Anda bisa melihat betapa berbedanya, ketika Anda membicarakan bidang yang diminati lawan bicara, dibandingkan dengan yang tidak diminatinya. Semua itu akan menolong di dalam membangun dan memperat hubungan.

C. Sopan Santun Berbicara Lewat Telepon

Ø Berilah salam. Jika Anda menelpon ke rumah atau ke kantor seseorang, berilah salam terlebih dahulu. Jangan langsung bertanya, “Ada Andri?” atau “Mau bicara dengan Andri!” Demikianlah pula ketika menerima telepon, berilah salam terlebih dahulu.

Ø Perkenalkan diri Anda. Sebelum berbicara lebih lanjut, sebutkan dulu nama Anda. Sangatlah tidak sopan jika Anda yang bertanya kepada penerima telepon, “Ini siapa?” Kalau keperluan Anda di dalam menelpon berhubungan dengan pekerjaan, sebutkan juga nama perusahaan atau tempat Anda bekerja. Jika Anda adalah pihak yang menerima telepon, tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuknya.

Ø Jelaskan maksud Anda menelpon. Berbicaralah dengan ramah dan sopan di dalam menjelaskan maksud Anda, tidak perlu terburu-buru sehingga apa yang Anda katakan bisa didengar oleh si penerima dengan jelas. Perhatikan juga volume suara, jangan terlalu kecil tetapi juga jangan terlalu keras. Jangan pula membentak-bentak di telepon.

Ø Sapa lawan bicara Anda dengan sopan. Jika yang menerima telepon adalah suara orang dewasa, sapalah dengan sebutan “Bapak” atau “Ibu”, ini lebih sopan. Kecuali dia meminta Anda untuk menyapanya dengan sebutan lain, misalnya, “Mas” atau “Mbak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s