Kernet Perempuan

Kernet perempuan

Terdengar suara keras dan nyaring, “Pasar Minggu, Pasar Minggu, langsung Manggarai!” Tak lama berselang bis tersebut berhenti dan menaikkan penumpang. “Ayo, siapa yang mau cepat. Pasar Minggu, Pasar Minggu, langsung Manggarai!” lanjutnya.

Itulah “secuil” terikan kernet bis yang sempat kudengar saat aku berangkat ke kantor pagi itu. Aku mencoba memperhatikan mengapa suara kernet itu begitu nyaring, ternyata kernet tersebut seorang perempuan. Sengaja aku memperlambat jalannya motor yang kukendarai karena ingin melihat sepak terjang kernet perempuan tersebut. Tidak kubayangkan ternyata kernet perempuan itu begitu sigap. Dia turun-naik bis untuk membantu penumpang. Bahkan tak segan-segan dia turut mengangkat barang bawaan penumpang ke atas bis.

“Kalau sopir busway yang perempuan sering kulihat, tetapi ini kernet metromini. Sungguh mengherankan, wanita perkasa,” pikirku.

Belum hilang dari ingatanku tentang kesigapan kernet perempuan itu, dua hari kemudian, pada malam hari ketika aku pulang kantor, aku menjumpai kernet perempuan yang lain. “Sampai malam hari begini dia masih bekerja,” tanyaku dalam hati.

Sesungguhnya aku heran kenapa pekerjaan keras seperti itu harus dilakukan oleh seorang perempuan. Tetapi, ketika aku membicarakan dengan teman-teman kantorku, mereka tidak begitu heran. Mereka malah berkata, “itu sih sudah biasa, Pak.” Sekalipun begitu aku masih bertanya di dalam hati.

“Inikah yang disebut dengan emansipasi wanita? Mungkin untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, mungkin juga untuk membantu suami atau bahkan merekalah yang menjadi tulang punggung keluarga?” Apa pun alasannya, yang aku sadari adalah bahwa mereka bekerja keras seperti itu supaya mendapatkan uang secara halal.

Kesulitan ekonomi akhir-akhir ini mendesak para istri menolong para suami di dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Ada yang membuka usaha kecil-kecilan di rumah, entah itu berjualan maupun membuat barang-barang yang bisa dipasarkan. Ada juga yang bekerja di luar rumah, baik sebagai karyawan maupun menjadi sopir atau kernet. Itu semua sah-sah saja. Tetapi, satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah melayani keluarga. Pekerjaan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak melayani keluarga. Memang berat, tetapi jika dia berhasil dalam bekerja dan melayani keluarga, maka dia akan mnejadi kebanggaan suami dan anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s