Andai Semua Teratur

Andai Semua Teratur

Selama mengendarai kendaraan motor ketika pergi dan pulang bekerja, cukup bagiku untuk mengamati keadaan jalan. Sekalipun tidak semua, tetapi kebanyakan pengguna jalan, baik yang naik kendaraan maupun yang berjalan kaki, menggunakan jalan secara tidak teratur.

Bisa besar maupun bis kecil “ngetem” di sembarang tempat hingga menimbulkan kemacetan. Di pertigaan Lenteng Agung yang ke arah utara; di bawah flyover Tanjung Barat, baik yang ke arah utara maupun yang ke arah selatan; setelah bypass Pasar Minggu yang ke arah utara; sebelum bypass Rawamangun yang ke arah selatan; sebelum pintu tol Pedati yang ke arah selatan, adalah sebagian kecil dari tempat-tempat “ngetem” bis, padahal itu bukan tempat untuk “ngetem”.

Ketika banyak pengguna jalan membunyikan klakson di belakangnya, bis itu baru berjalan dan itu pun secara perlahan-lahan. Angkat sering menepi dan berhenti mendadak di depan kendaraan lain, khususnya di depan motor. Maksudnya untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang, tetapi itu sangat mengganggu dan berbahaya bagi pengguna jalan yang lain.

Motor pun tidak mau ketinggalan, berjalan zig-zag dan mengaggetkan pengguna jalan yang lain, sepertinya menjadi kebanggaan pengendaranya. Mobil-mobil pribadi ataupun truk-truk juga ikut menambah ketidakteraturan tersebut!

Dengan memaksa mencari jalan untuk menyalib dari sebelah kiri seperti sudah menjadi kebiasaan. Bukan hanya kendaraan bermotor, tetapi pedagang-pedagang pun sering mendorong gerobaknya melawan arus. Pada pagi hari di tempat-tempat tertentu banyak pedagang yang menggelar dagangan mereka sampai memasuki bahu jalan. Ini pun bisa menimbulkan kemacetan atau mungkin kecelakaan.

Bahkan para pejalan kaki pun seringkali membuat keadaan jalanan semakin tidak teratur. Mereka berjalan tidak di trotoar; mereka menyeberang jalan seenaknya, yaitu tidak di tempat penyeberangan dan asal mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk menghentikan laju kendaraan bermotor. Para pengamen juga naik-turun angkot dan bis seenaknya, tidak peduli apakah di belakangnya ada kendaraan lain atau tidak.

Kadang-kadang aku bertanya, “Apakah keadaan jalan yang tidak teratur ini hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya? Atau, sudah terjadi di berbagai kota?”

Sungguh memprihatinkan jika hal ini sudah merambah ke berbagai kota yang lain.

Tentu saja kita memiliki keterbatasan, kita tidak mungkin mengatur lalu lintas supaya menjadi teratur. Apalagi kita bukan petugas yang berwenang mengatur lalu lintas. Tetapi, kita bisa mulai dari diri kita sendiri dengan bersikap teratur di jalanan!!!

Mari kita mencontoh dan mempraktekkan kehidupan binantang belalang, “Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.”

One thought on “Andai Semua Teratur

  1. Kesemrawutan di jalan tidak hanya dialami Jakarta, kota yang lain tidak jauh berbeda. Ya … harus dimulai dari diri kita sendiri untuk teratur, meskipun terkadang sangat sulit jika sudah berada di jalanan, karena semua seakan berlomba untuk tidak teratur. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s