Belajar Bersyukur

Belajar Bersyukur

Terkadang kita nyaris tawar hati dan seolah tidak menemukan alasan untuk bersyukur ketika jalan keluar untuk permasalahan yang kita hadapi tak kunjung datang. Belum lagi jika melihat kondisi perekonomian yang semakin memburuk sekarang ini. Banyak orang yang was-was mengenai masa depan, apakah usahanya akan tetap berjalan lancar atau apakah ia akan mnejadi salah seorang yang di-PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja.

Suatu hari ketika seorang hamba Tuhan menghimbau jemaatnya untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan, seorang bapak berbisik kepada temannya, “Ngomong sih enak….bagaimana caranya seseorang yang kondisinya benar-benar terpuruk karena ditimpa masalah bertubi-tubi akan punya alasan untuk bersyukur?”. Sebenarnya jika kita peka, pasti akan selalu ada alasan untuk mengucap syukur. Marilah kita bersama-sama menyimak kisah di bawah ini.

Seorang pemiliki toko kelontong baru saja membuka pintu tokonya ketika ia melihat seorang anjing merah berbelang putih berdiri di depan tokonya dengan sebuah gulungan kertas kecil di mulutnya. Anjing itu melepaskan gulungan kertas tersebut dari gigitannya dan sang pemilik toko yang penasaran mengambilnya. Di dalam kertas tersebut ada uang sebesar RP. 50.000,- dan catatan belanjaan: ¼ kg mentega, 1 ons kayu manis bubuk, 1 ons pengembang kue. Pemilik toko segera menyiapkan bahan-bahan yang dipesan, memasukkan uang kembalian ke dalam kantong belanja dan memberikan belanjaan itu kepada si anjing. Anjing itu segera membawa kantong berisi belanjaan dengan mulutnya. Pemilik toko yang penasaran dan kagum terhadap si anjing, diam-diam mengikuti dari belakang. Ia melihat anjing pintar tersebut menunggu di halte, sambil memperhatikan bus-bus yang lewat. Tak lama kemudian, bus dengan nomor 31 lewat dan si anjing pun langsung naik. Di pinggir sebuah jalan besar ia turun dan menuju ke sebuah rumah dengan halaman yang luas.

Pemilik toko memperhatikan bagaimana anjing pintar itu menggonggong sambil mengelilingi rumah. Karena pintu tidka dibukakan, ia mulai membentur-benturkan tubuhnya ke daun pintu, hingga akhirnya seorang ibu bertampang galak membuka pintu. Berkali-kali ia memukul si anjing dengan tongkat. Karena tidak tahan, si pemilik toko mendekat dan bertanya, “Mengapa Ibu memukul anjing istimewa ini? Aku belum pernah melihat anjing sepintar ini,” katanya. “Kamu bilang anjing ini pintar? Anjing bodoh ini sudah beberapa kali pergi dan lupa membawa kunci,” jawab si ibu pemilik anjing.

Kisah di atas merupakan gambaran untuk kita yang seringkali tidak bisa mensyukuri pemberian-pemberian berharga dari Tuhan. Karena terlalu banyak menuntut, maka kita buta terhadap banyak kebaikkan dan kemurahan yang Tuhan berikan yang sudah seharusnya kita syukuri. Mulai hari ini, marilah belajarlah melihat kebaikkan Tuhan, dan bersyukurlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s