Janjimu Palsu

Janjimu Palsu

Biasanya kita mendengar ungkapan “janjimu palsu” yang berkaitan dengan dunia percintaan. Sesungguhnya ungkapan tersebut tidak hanya bisa dikaitkan dengan dunia percintaan, namun juga bisa dikaitkan dengan sisi kehidupan lainnya, seperti dunia politik atau dengan dunia kerja dan usaha. Dua kisah berikuti ini adalah contoh-contoh tentang janji yang palsu.

Ratusan nasabah sekaligus penanam saham di sebuah perusahaan yang bergerak di bidung usaha pialang saham di Jakarta kehilangan uang mereka dengan jumlah seluruhnya sekitar sepuluh miliar rupiah. Tanpa mereka tahu, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi telah membekukan perusahaan itu. Dugaannya, pihak perusahaan telah mengalihkan uang itu ke bidang usaha lain sehingga mengakibatkan perusahaan itu dianggap tidak layak berdiri.

“Saya menginvestasikan uang saya sebesar lima puluh juta rupiah ke perusahaan tersebut. Saya sengaja menimbun keuntungan investasi yang sebenarnya bisa diambil tiap bulan. Tetapi saat saya hendak mengambil, ternyata perusahaan tersebut sudah dibekukan,” cerita seorang ibu yang menjadi korban. Yang lain bercerita, “Awalnya saya menyetor lima belas juta rupiah. Karena keuntungan yang dijanjikan, maka saya menambah lagi setoran lima belas juta rupiah dan terakhir tiga puluh juta rupiah. Ternyata tiga sampai empat bulan kemudian tidak ada uang di rekening saya.”

Puluhan orang lain mengalami nasib yang hampir sama, mereka tertipu oleh dua orang yang berjanji memasukkan mereka menjadi PNS, yaitu dengan membayar sejumlah uang tertentu. Ide penipuan itu berawal dari seorang pelaku yang mengaku pernah bekerja di bagian kepegawaian Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Untuk melaksanakannya niatnya, dia merekrut seorang temannya yang ditugaskan sebagai pencari calon korban. Mereka pun beraksi dan berhasil mengumpulkan uang tipuan sebesar satu setengah miliar rupiah.

Semua korban dari penipuan tersebut adalah orang-orang yang bersemangat untuk bekerja dan berusaha guna menambah penghasilan atau mencukupi kebutuhan mereka. Sayangnya, mereka kurang waspada sehingga termakan oleh janji-janji palsu.

Berusaha untuk menambah penghasilan tidaklah salah. Demikian juga, berusaha untuk mendapatkan pekerjaan adalah tindakan yang benar. Hanya saja, kita harus waspada terhadap segala macam bentuk penipuan. Kita tidak boleh percaya kepada setiap perkataan, kita harus menguji setiap perkataan orang dan kita harus bijak di dalam melangkah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s