Valerieku, Perjanjianku

Valerieku, Perjanjianku

Saya lahir di keluarga Kristen yang taat. Saya tahu tentang Tuhan, tetapi tidak mengenal Tuhan secara pribadi. Saya tidak menyentuh rokok, judi, atau minuman keras. Ketika beranjak remaja, yaitu saat duduk di bangku SMA, saya sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan, namun saya menutupinya rapat-rapat.

Ketika mengiktui Youth Camp di Salatiga, saya bertemu dengan gadis cantik bernama Devi. Dia dari Purbalingga sedangkan saya dari Semarang. Pada waktu berpacaran dengan Devi, secara jujur saya mengakui bahwa saya sudah tidak perjaka lagi dan saya bertanya apakah dia mau menerima saya apa adanya. Ternyata dia mau menerima saya dengan syarat saya mau bertobat. Meskipun sudah mengakui dan berjanji untuk bertobat, saya masih tetap melakukan dosa itu tanpa sepengetahuannya.

Setelah tamat SMA pada tanggal 3 Juni 1989, atas saran orang tua, kami menikah di Kantor Catatan Sipil. Setelah itu kami melanjutkan studi ke Oral Robert University, Tulsa, Oklahoma, USA. Meskipun sudah menikah, di sana kami tidak pernah melakukan hubungan suami-isteri, karena itu syarat yang diberikan oleh papa saya supaya studi kami bisa selesai dengan baik. Kami tinggai di asrama yang berbeda. Di sana saya tetap menjalani kehidupan perzinahan, tetapi saya tetap menjaga janji untuk tidak menyentuh Devi. Setelah kembali ke Indonesia, pernikahan kami diresmikan dalam sebuah pesta pada tanggal 5 Agustus 1995. Bulan Oktober 1995, kami pindah ke Jakarta dan saya tetap hidup dalam dosa itu, apalagi saya bergaul dengan teman-teman yang tidak benar.

Kami beribadah di GBI Mangaraja dan kami hadir sebagai jemaat yang datang telat dan pulang paling cepat. Akhir tahun 2004 kami mulai mengikuti COOL (nama yang dipakai oleh gereja kami untuk menyebut Komunitas Sel/komsel). Waktu itu kami sudah memiliki 2 orang anak, Jessica dan Kevin.

Tahun 2005, Devi mengandung anak kami yang ketiga. Memasuki bulan yang ketujuh, kandungannya mengalami masalah. Devi keluar masuk rumah sakit sampai 3 kali, karena pendarahan. Dokter berusaha menahan kelahiran bayi kami yang saat itu sudah berusia 8,5 bulan dalam kandungan dengan berat 2,2 kg. Waktu itu kami didukung dan dikuatkan oleh teman-teman COOL. Waktu Devi sedang dalam perawatan di rumah sakit, saya sempat pergi ke Filipina untuk urusan bisnis. Di sana saya masih melakukan dosa itu dan ketika pulang saya sama sekali tidak merasa bersalah.

Suatu malam Jessica meminta saya menginap di rumah sakit. Awalnya saya menolak, tetapi permintaan yang disertai oleh tangisan membuat saya menginap di rumah sakit. Sebelumnya saya tidak pernah menginap di sana. Ternyata pada malam itu denyut jantung bayi kami hilang dan dokter memutuskan besok pagi Devi harus dioperasi. Mendengar itu, saya segera menghubungi orangtua dan teman-teman COOL untuk minta dukungan doa.

Saat bayi yang kami beri nama Valerie Adeline Nugroho lahir, ia langsung dimasukkan ke inkubator dan bernafas dengan bantuan oksigen tanpa sempat dibersihkan lebih dulu. Waktu diangkat dari rahim, Valerie tidak menangis dan tidak bergerak sama sekali, seperti bayi yang sudah meninggal. Ini dapat mengakibatkan down syndrome, karena kurangnya asupan oksigen ke otak. Keadaan ini diperkirakan akan menghambat perkembangan otak dan pertumbuhannya. Setelah dokter menyuntikkan obat ke pembuluh darahnya, barulah Valerie menangis. Satu jam kemudian dokter memanggil saya dan berkata, “Anaknya tidak bagus.” Dokter menjelaskan bahwa Valerie mengalami sklerosis, di mana dadanya menonjol sebelah. Di sekujur tubuh kecilnya dipasang selang.

Bagi saya, keadaan ini merupakan akibat dari dosa-dosa saya. Melihat kenyataan itu, saya menangis. Saya tahu bahwa saya penuh dosa. Malam itu saya minta ampun kepada Tuhan. Setiap kali datang ke ruang ICU, saya mengaku kepada Valerie, “Valerie, maafkan Papa karena Papa bukan Papa yang baik. Tuhan, kalau ini dosa saya, jangan hukum dia, biar saya yang menanggungnya. Tuhan, jagalah, pelihara dan pulihkan anak ini maka saya akan menjaga hidup saya. Tuhan, anak ini menjadi perjanjian antara saya dan Engkau.” Dan ternyata Tuhan menjaga Valerie, puteri perjanjian saya. Valerie tumbuh menjadi anak yang sangat enerjik, sehat dan cerdas.

Setelah kejadian itu, saya tidak punya keberanian untuk mengakui dosa yang sudah saya lakukan kepada Devi. Beberapa waktu kemudian saya ikut camp Pria Sejati dan mengalami pemulihan serta pelepasan di sana. Saya rindu terbuka kepada Devi dan saya mempersiapkan diri selama delapan bulan untuk bisa melakukan pengakuan saya ini. Saya memintanya untuk ikut camp Wanita Bijak. Setelah itu, saya mengumpulkan keberanian untuk mengaku kepada Devi.

Ketika mendengar pengakuan saya, Devi sangat terkejut, ia sempat merasa jijik kepada saya, tertipu, kecewa dan sakit hati. Tetapi Devi tetap memutuskan untuk mengampuni saya. Devi memaafkan saya sambil menangis. Setelah pengampunan yang ia berikan, maka pemulihan yang indah pun terjadi. Seiring dengan berjalannya waktu, orang tua maupun mertua saya secara terbuka menerima keterbukaan dan pertobatan saya. Hubungan kami semakin indah setelah mengikuti HMC (Healing Movement Camp) dan pernikahan kami diteguhkan di Kana, Israel.

Suatu hari ketika saya sedang memberikan kesaksian di radio mengenai kehidupan lama saya dan pemulihan yang saya alami, mama mertua saya mengajak anak saya Jessica untuk ikut mendengarnya. Anak saya mendengarkan kesaksian saya bersama teman-temannya. Setelah mendengar kesaksian itu, Jessica menjadi murung, di dalam kamar ia mencatat di kertas kata-kata “perzinahan” dan “perselingkuhan” dan dia menanyakan kepada istri saya apa arti kata-kata tersebut. Akhirnya kami menjelaskan semuanya kepada Jessica, saya sendiri meminta maaf atas apa yang pernah terjadi. Jessica pun mengerti dan kami mengalami pemulihan.

Kini, dengan seizin Devi saya bersaksi di berbagai kesempatan untuk mempermalukan Iblis. Saya terus bertumbuh dan sekarang aktif melayani Tuhan sebagai COOLer/ketua COOL serta diaken di GBI Jl.Tampak Siring, Jakarta.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

“Dan umatKu yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”

“Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murkaKu telah surut dari pada mereka.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s