Software Boros Resource

Software Boros Resource

Tempatkanlah diri Anda sebagai pengguna software. Apa yang Anda harapkan dari software rilis terbaru? Tentunya sejumlah inovasi dan update dari versi sebelumnya dengan harapan semakin memudahkan Anda dalam menggunakannya, bukan? Para produsen software pun meresonnya dengan merilis versi-versi terbaru secara berkala.

Namun, ternyata peluncuran software versi terbaru ternyata tidak selalu menguntungkan pengguna dan justru malah merepotkan. Sebagian software baru malah menjadi tidak jelas, rumit, membingungkan, dan berjalan sangat berat dan lamban. Versi terbaru sering kali menghadirkan beragam feature terbaru yang mengorbankan ruang hard disk dan sistem resoruce PC. Dengan ukuran aplikasi yang semakin besar, muncullah istilah bloatware.

Kini, terdapat banyak software yang menghabiskan ruang hard disk, yang sebenarnya tidak perlu. Teknologi hard disk memang disiapkan untuk menampung banyak file sistem dan dokumen. Nauna, begitu Anda menyimpan begitu banyak foto, video, dan musik, rasanya 500 GB pun masih terasa kurang. Oleh karena itu, penting rasanya untuk menjaga ruang harddisk dengan menggunakan software yang pintar tapi berukuran kecil.

Mari kita simak sejumlah contoh software yang terkait dengna bloatware. Acrobat Reader hanya membutuhkan 1.4 MB sebagai file arsip. Sementara itu, file setup Adobe Reader versi terbaru berukuran lebih dari 26 MB. Awalnya terdengar tidak banyak. Setelah di-install, baru terungkap ukuran aslinya sebesar 240 MB!

Ukuran yang sangat besar tersebut memang dapat dijelaskan dengan banyaknya fungsi yang tersedia. Namun, sebenarnya tidak semua pengguna membutuhkan semua feature yang ditawarkannya. Misalnya feature “Multilingual User Interface”. Sebagai pengguna, mungkin termasuk Anda, yang hanya ingin membaca dan mencetak file PDF, sebuah aplikasi berukuran 230 MB tentu terasa sangat sia-sia.

Solusinya, carilah software kecil alternatif seperti Foxit Reader yang berukuran 3.2 MB saja. Software ini tidak hanya bagus untuk membaca PDF, namun juga mendukung muatan multimedia yang dapat di-edit atau dihapus. Selain itu, Foxit Reader juga membawa sebuah plug-in Firefox untuk membuka dokumen PDF langsung di dalam Browser.

Contoh lain bloatware terdapat pada software media player. Misalnya, DivX yang menawarkan codec dalam paket, serta berisi sebuah standalone player, web player, dan versi demo DivX Conventer. Instalasi seluruh paket menghabiskan 50 MB. Padahal , misalnya pengguna hanya membutuhkan codecnya saja yang berukuran 1.4 MB dan dapat di-integrasikan ke dalam setiap media player.

Kini kita simak iTunes. Software ini menghabiskan 50 MB dan memaksakan instalasi tool QuickTime sebesar 75 MB. Lalu, apa solusi software alternatifnya? Gunakanlah Songbird yang tersaji nyaris sama dengan iTunes, tetapi berbasis Firefox. Dengan demikian, audio player ini tidak hanya untuk koneksi musik saja, tetapi dapat juga digunakan untuk berselancar. Melalui beragam plugin yang tersedia, Songbird dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhkan Anda.

Seiring hadirnya software baru, seringkali menghadirkan beragam feature dan fungsi. Maksud awal produsen memang ingin memanjakan dan menggunakan para pengguna, namun pada kenyataannya, ternyata tidak semua feature dan fungsi tersebut oleh para pengguna. Software jenis ini pun masuk ke dalam kategori bloatware. Contohnya adalah sofware Nero. Pada versi 3.0, masih memuat fungsi penting sebagai software burning. Kemudian, versi 6.0 justru memuat banyak fungsi yang tidak seluruhnya berguna. Tidak heran, ukurannya pun menjadi 30 kali lebih besar.

Apa yang terjadi pada versi 9.0? Kini paket Nero memiliki lebih dari 20 aplikasi dan beragam tools tambahan yang hampir tidak semua digunakan. RSS Reader dalam tampilan SmartSmart tidak hanya tampak mengganggu, dalam setting standarnya pun hanya menampilkan berita dan produsen. Jadi, untuk apa feature ini diintegrasikan? Tidak jelas, bukan?

Solusi alternatif tersedia pada software CDBurnerXP. Freeware berukuran 3 MB ini mampu menyelesaikan semua tugas standar sebuah software burning, mendukung keping Blu-ray, dan HD-DVD.

Software video player pun berusaha memikat pengguna dengan fungsi-fungsi baru. Misalnya yang terjadi dengan PowerDVD dan WinDVD. Hadir dengan versi terbaru, tetapi justru memiliki terlalu banyak feature yang tidak berguna. Feature “Movie Remix” yang terdapat di PowerDVD dapat digunakan untuk mengedit film, mengisi sound baru, dan membuat materi presentasi. Namun, apakah feature ini penting untuk disediakan?

Apabila Anda tidak membutuhkan tampilan video player yang menawan, tidak ada salahnya untuk mencoba VLC Media Player. Software serba bisa ini mampu menggantikan peran semua video player, kecuali untuk memutar keping Blu-ray dan HD-DVD.

Instant Messenger juga penuh dengan pernak-pernik yang tidak perlu. Mulai dari Yahoo Messenger, MSN, Skype, hinga ICQ, semua mengesalkan dengan iklan dan fungsi tambahan seperti sejumlah game kecil. Padahal, akan jauh lebih tepat dan hemat apabila Anda mengandalkan Pidgin. Software ini mampu mendukung semua protokol umum seperti untuk Yahoo, MSN, AIM, ICQ, dan jaringan IRC. Jadi, selain dapat berkomunikasi melalui berbagai instat messenger dengan software yang pintar dan kecil, Anda pun telah menghindarkan diri dari bloatware.

Software versi terbaru sering kali menuntut spesifikasi hardware yang lebih tinggi. Hal ini yang terjadi pada salah satu software desktop publishing populer dari Adobe. Photoshop CS4 menuntut sebuah PC dengan spesifikasi minimal 1.8 GHz dan 512 MB RAM. Namun, dengan konfigurasi minimal ini ternyata Photoshop CS4 masih berjalan sangat lamban. Untuk dapat bekerja dengan lancar, dibutuhkan 1 GB RAM. Padahal versi sebelumnya, CS2, sangat hemat resource, yaitu cukup dengan 320 MB RAM dan sudah dilengkapi dengan beragam feature profesional.

Apabila Anda sudah menyimpan begitu banyak foto digital di dalam hard disk, maka software pengolahnya pun harus dipilih yang seramping mungkin. Bagi fotografer amatir yang masih menggunakan komputer lama, tentu harus memiih software alternatif yang simpel, dilengkapi banyak feature, dan tidak menuntut hardware. Freeware yang menawarkan semua fungsi standar tersebut adalah software Paint .NET dan Gimp.

Untuk software pengolah video, tentu lebih berat lagi dalam tuntutan hardware. Adobe Premiere membutuhkan prosesor 3.4 GHz dan 2 GB RAM. Padahal, kebutuhan resource untuk mengolah video sederhana dapat diakali dengan memilih fungsi dan setting terpenting.

Software pengolah video yang sederhana, hemat resource, dan dapat diandalkan adalah VirtualDub. Apabila membutuhkan lebih banyak pilihan, tersedia banyak plug-in di Internet untuk memperluas feature VirtualDub sesuai kebutuhan.

Setiap update software membawa sejumlah code baru yang terkadang membuat software tersebut tidak stabil dan bahkan menimbulkan celah keamanan dalam sistem. Hal ini terjadi pada produsen yang merilis produknya dalam status Beta yang sebenarnya berbahaya karena seringkali malware menyusup kedalamnya.

Salah satu contoh, saat Microsoft Windows Vista dipasarkan, ternyata masih memiliki banyak bug. Banyak perangkat yang tidak dapat diintegrasikan dan banyak celah sistem terlewatkan oleh fungsi keamanan. Beruntung setahun setelah Windows Vista dirilis, Microsoft dapat menangani kelemahan sistem operasi tersebut dengan merilis Service Pack 1. Setelah itu, Windows Vista berfungsi dengan lancar.

Pada kasus lain, tahun 2006 lalu Acronis merilis sebuah versi solusi backup True Image 10 Home. Namun, ternyata software tersebut sering mengalami error dan crash karena tercemar begitu banyak bug.

Untuk software Pinnacle, pengguna boleh berperan sebagai penguji. Produsen telah memperbaiki software video editing Studio 10 yang dirilis tahun 2005. Sayangnya, beberapa fungsi masih berisi bug yang membuat software sering mengalami crash dan hang. Pada versi 12 yang terbaru, akhirnya pihak produsen berhasil menyingkirkan banyak masalah. Namun, file update menjadi bersifat wajib bagi para pengguna Pinnacle Studio untuk menjalankan fungsi dengan benar.

Bagaimana dengan software versi update? Apakah mampu menjadi solusi yang lebih baik ketimbang software versi penuh? Ternyata contohnya tidak demikian.

Layanan toko Online milih Symantec sungguh tidak dapat dimengerti. Pasalnya upgrade untuk Norton Internet Security 2009 lebih mahal US$ 5 daripada versi penuhnya. Namun, apabila Anda merasa update tersebut tidak terlalu perlu dan Anda masih puas dengan beragam fungsi yang telah Anda miliki, abaikan saja update software yang sering kali muncul ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s