Penglihatan Pengangkatan, Tribulasi, Kota Kudus, dan Tahta Tuhan dan Setan 04


Tahta Setan

Kami tiba di tempat buruk, Tuhan berkata, “Lihat hambat, akan Kutunjukkan tahta setan.” Saya berkata, “Tidak Tuhan! Saya tak mau melihat tahta itu!” Ia membalas, “Hamba, jangan takut, sebab Aku menyertaiMu.” Kami pun tiba di tempat menakutkan, kulihat kursi besar dan setan di atasnya, dia memiliki kuku yang besar, dia tertawa-tawa, tak dapat berhenti. Kulihat iblis-iblis di mana-mana, dalam berbagai ukuran, kulihat penguasa-penguasa, pertahanan-pertahanan, dan banyak iblis yang berbeda. Kulihat setan memberikan perintah pada iblis-iblis, untuk pergi ke dunia dan memprovokasi segala macam perkara jahat.

Kulihat bagaimana iblis-iblis ini pergi dan menyebabkan kehancuran, pembunuhan, pertikaian, perceraian serta segala bentuk kejahatan. Lalu mereka kembali dan melaporkan apa yang mereka telah buat. Dan setan akan tertawa-tawa dan ia memberikan hadiah pada iblis-iblis itu dan iblis-iblis itu mulai merayakannya dan memujinya serta bernyanyi untuknya.

Kulihat setan mempunyai rancangan besar menghancurkan orang Kristen, menghancurkan hamba-hamba Allah. Kulihat Gereja-Gereja mega dan jemaat yang modernisasi. Tuhan berkata, “Lihat hamba, Gereja-Gereja ini telah dipengaruhi oleh setan, mereka tak akan diangkat bersama denganKu.”

Tuhan tunjukkan bagaimana setan menyebabkan pembunuhan dan semua jiwa-jiwa yang tiba di tempat terkutuk ini, sebuah tempat keji. Kulihat tunggu perapian dan Tuhan berkata, “Lihat hamba, inilah lautan api dan ini adalah  neraka.”

Setiap saat iblis-iblis menyebabkan pembunuhan, jiwa-jiwa itu jatuh ke dalam perapian. Api  lalu membakar melelehkan mereka. Jiwa-jiwa itu menangis dalam kesakitan dan siksaan dan iblis-iblis akan kembali pada tahta setan dan menceritakan apa yang mereka lakukan. Setan akan tertawa-tawa dan memberi hadiah pada iblis-iblis itu. Mereka lalu menyanyi dan melompat bagi setan dan merayakannya. Setan tertawa dengan gembira dan bangga sebab semua jiwa-jiwa yang tiba di neraka. Jiwa-jiwa ini jatuh setiap detik, setan pun sangat bangga dan membuatnya tertawa-tawa.

Inderaku merasakan iblis-iblis di sekitar itu, sangat banyak bulu-bulu berdirian. Saya berkata, “Tuhan tolong bawa saya keluar dari sini, saya tak dapat bertahan lagi.” Iblis-iblis akan menikam dan mengganggu jiwa-jiwa itu. Jiwa-jiwa ini akan menjerit, “Tinggalkan kami sendirian! Tinggalkan kami dalam dalam, kami tak mau diganggu lagi, kami ingin kedamaian!” Iblis-iblis inipun tertawa.

Kota kudus

Setelah itu kami pergi dan Tuhan berkata, “Lihat hamba Aku akan menunjukkan Kota Kudus, agar kau dapat pergi dan katakan pada umatKu keagungan yang Kusiapkan bagi mereka.” Kami menanjak dan tiba pada suatu tempat yang indah, di mana ada pepohonan indah, cemara yang sangat tinggi. Segala sesuatu yang indah di sana. Saya merasakan kedamaian.

Ada pelangi indah pada pintu kota itu. Banyak malaikat pada kedua sisi jalannya. Kami melalui pintu dan Tuhan berkata, “Hamba, inilah Kota Kudus.” Kami berjalan hingga tiba pada sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga mawar indah, yang tak pernah kulihat di bumi.

Kulepaskan tangan Tuhan lalu berlari ke taman. Kupeluk bunga-bunga itu, mereka sangat sempurna dan aromanya sangat nikmat. Saya hendak memetik bunga namun Tuhan berkata, “Tidak hamba, belum saatnya mengambil sesuatu. Kau dapat mengambil bunga-bunga ini saat umatKu tiba di sini, saat GerejaKu tiba di tempat ini, lalu dapat kau ambil bunga-bunga ini.” Saya katakan, “Tuhan, kuingin membawa hanya satu bunga agar dapat kutunjukkan pada semua Gereja di bumi.” Tetapi Tuhan berkata, “Tidak hamba, karena umatKu belum tiba di sini.” Kulihat banyak tipe bunga-bunga indah.

Kami lalui padang rumput hijau yang indah. Tuhan duduk pada rumput dan dengan senyuman indah Dia berkata, “Hamba, semua yang kau lihat dan jamah ini telah Kusediakan bagi umatKu.”

Kami ke tempat di mana sebuah pohon besar dipenuhi buah-buahan. Saya berkata, “Tuhan, pohon ini? Apa arti pohon ini? Dan semua buah-buah ini?” Hendak kupetik sebuah namun sekali lagi Tuhan katakan, “Tidak, hamba, kau belum dapat memetik buah-buah itu, sebab pohon ini adalah pohon kehidupan, dari pohon kehidupan ini umatKu akan makan saat mereka tiba di sini. Sementara itu kau tak dapat memetik apapun sampai mereka telah tiba di sini.” Buah pohon itu sangat indah.

Kami berpacu, kulihat kupu-kupu dan hewan indah. Tuhan berkata, “Hamba, semua ini bagi umatKu. Katakan pada umatKu bahwa segera, mereka akan bersamaKu di sini, di kota kudus ini.”

Kami lanjut dan tiba di tempat indah lain, banyak pepohonan besar dan cemara. Tuhan berkata, “Hamba, semua ini bagi umatKu. Hamba, kemarilah sebab hendak Kutunjukkan suatu kejutan.”

Kami tiba di tempat di mana banyak malaikat berada. Seorang Malaikat sangat besar, mempunyai sebuah sangkakala besar pada mulutnya. Saya berkata, “Tuhan, malaikat itu, apa artinya?” Tuhan menjawab, “Lihat hamba, malaikat ini sedang menunggu tanda, ia sedang menunggu aba-aba yang akan Kuberi, agar dia meniup sangkakala, saat ia memainkan sangkakala, umatKu akan terangkat, diangkat, dan diubah. Namun pastikan satu hal hamba, sangkakala ini akan terengar bagi yang memperhatikannya! Sebab itu pergi dan katakan pada umatKu untuk memperhatikan, katakan pada umatKu jangan tertidur, sebab jika tertidur, engkau tak dapat mendengar sangkakala, katakan pada umatKu untuk memperhatikan, bagi mereka yang tidur, Aku tak dapat membangunkan mereka.”

Malaikat ini sangat besar dan indah, dibelakangnya ada banyak malaikat yang mempunyai sangkakala kecil. Yang terbuat dari emas, sangat bercahaya. Tuhan berkata, “Hamba, katakan pada umatKu untuk bersiap, Aku hendak memberi aba-aba bagi sangkakala dibunyikan.”

Kami terus menunggang dan Tuhan berkata, “Lihat hamba, akan Kutunjukkan Tahta BapaKu. Belum Ku tunjukkan padamu, namun akan Kutunjukkan sekarang, agar kau dapat pergi dan katakan pada umatKu bahwa Bapa-Ku benar-benar ada, dan bahwa Aku benar-benar ada.” Kami mulai berjalan, Tuhan, Malaikat dan saya. Saat masih jauh dari Tahta Bapa, saya tak bisa bertahan; tak bisa berdiri di hadapan Kuasa dan Kemuliaan. Saat mendekat, saya merasa seperti sebuah kapas, saya tak mampu. Jika malaikat tidak memegangku, maka saya tak bisa berjalan.

Kami tiba pada Tahta Bapa dan saya dapat merasakan sesuatu Kuasa yang dashyat mengalir dari Tahta. Kilat yang kuat datang dari Tahta; sangat mulia dan besar. Kekuatan yang dashyat sedang mengelilingi Tahta; bersinar dan terbuat dari emas. Seseorang duduk di Tahta, tetapi saya tak dapat melihat wajahNya, saya tak dapat bertahan dengan Kuasa yang mengalir dari Tahta. Saya hanya dapat melihat Bapa dari pinggangnya ke bawah. Tetapi dari pinggang ke atas tak dapat kulihat, karena saya telah terjatuh ke lantai tak mampu dengan Kuasa dan Kemuliaan.

Setelah itu kulihat 24 tua-tua memuji dan memuliakan Nama Tuhan. Kulihat malaikat-malaikat penghulu juga memuliakan Nama Tuhan. Ke-24 tua-tua bersujud dan berkata, “Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan!” Malaikat-malaikat tidak pernah merasa lelah memuliakan dan memuji Tuhan, dan tua-tua tidak pernah berhenti memuliakan Nama Tuhan. Api yang dashyat datang dari Tahta dan ada banyak hal-hal yang indah pada Tahta itu.

Kemudian kami meninggalkan Tahta dan datang pada malaikat yang besar. Saya berkata, “Tuhan, siapakah malaikat itu?” Tuhan menjawab, “Lihat hamba, inilah malaikat Gabriel dan lihat pada malaikat lain, sebab inilah Mikael.” Mereka sangat besar dan indah. Tuhan berkata, “Hamba, pergi dan katakan pada umatKu bahwa malaikat Gabriel dan malaikat Mikael sungguh ada.”

Setelah itu Tuhan berkata, “Hamba, kemarilah, sebab akan Ku-tunjukkan cambuk.” Kami tiba di tempat lain di mana kulihat Tuhan mengeluarkan sebuah cambuk ada tiga bagian di ujungnya. Dia memukul sebuah kursi besar, dan berkata, “Hamba ini bagi anak-anak yang tidak taat, cambuk ini bagi mereka yang tidak mematuhi FirmanKu, baiklah, Aku akan mencambuk mereka dengan cambuk ini, sebab Aku menghajar mereka yang Kukasihi.” Kulihat Tuhan mencambuk sebuah kursi dan saya berkata, “Tolong, Ayah, jangan memukulku dengan cambuk itu!” Tuhan membalas, “Baiklah hamba, jika demikian patuhlah padaKu, sebab siapa yang tidak mematuhiKu, Aku mendisiplinkan.”