Point of No Return

Frasa itu kurang lebih berarti, “Tidak ada kesempatan untuk berbalik, tidak mungkin kembali”.

Frasa itu mencuat begitu saja di benak saya ketika dalam perjalanan pulang saya berhadapan dengan genangan air setinggi roda kendaraan bulan lalu. Tidak ada mobil lain yang berjalan di sepanjang jalan tersebut. Semua sudah terhenti di tepi atau ditengah jalan. Makin lama genangan itu makin tinggi, bahkan ada anak-anak dan orang dewasa menyempatkan diri berenang di kolom renang dadakan tersebut.

Otak saya berpikir keras selama beberapa detik, karena saya harus segera mengambil keputusan. Tidak mungkin kembali, karena jika kendaraan diputar balik pun belum tentu mesin kendaraan akan mampu bertahan. Kalau memaksakan berjalan, kemungkinan mogok pun besar.

Point of no return, akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan, dengan segala risikonya, sambil berdoa tak henti-hentinya. Puji Tuhan, berhasil tiba di tempat tujuan, walaupun setelah itu kaki saya gemeteran beberapa waktu lamanya.

Point of no return kerapkali kita alami di berbagai aspek kehidupan kita. Ketika kita mengevaluasi hidup kita di akhir tahun, ada kemungkinan kita menyadari bahwa berbagai kesempatan dan masa sudah berlalu.

Pertanyaannya, apakah kita sudah memanfaarkan dengan baik? Apakah kita sudah mengisi menit-menit dalam hidup kita dengan aktivitas berguna, ata kita hanya menghabiskan hal-hal yang sia-sia dan tak bermakna? Apakah kita sudah menggunakan semua kesempatan yang tersedia dengan seoptimal mungkin? Ataukah kita menyia-nyiakan berbagai tawaran, mengabaikan beragam kebaikkan, dan membuang-buang momen terbaik dalam kehidupan kita? Kalaupun demikian yang kita lakukan, kita tidak dapat memutar balik kehidupan kita.

Untuk berbagai dosa yang pernah kita lakukan, tentu saja selalu tersedia kesempatan bertobat, karena Allah yang setia dan adil berpegang pada janjiNya dan kasih karuniaNya masih berlaku bagi kita di muka bumi ini. (1 Yohanes 1:9).

Hanya saja, kita perlu berjuang sedemikian rupa, mengerjakan keselamatan kita, agar kita tidak kembali berbuat dosa (Filipi 2:12). Akan tetapi untuk berbagai kesempatan, baik itu dalam pelayanan, pekerjaan, kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat, hal-hal yang sudah berlalu tidak dapat diraih kembali. Hanya ada satu cara, hadapi masa depan dengan imam dan sikap yang lebih positif. Belajar dari kebiasaan dan kegagalan di masa lalu, selanjutnya lakukanlah kegiatan yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan pastinya menyukakan hati Tuhan. Kiranya Tuhan berkenan melimpahkan kasih sayang dan kemurahanNya di dalam perjalanan hidup kita di hari-hari mendatang.

Selamat menikmati hidup, selamat berhari minggu, selamat mempersiapkan akhir tahun 2010.