Tuhan Yesus tidak tidur:Ketika Bumi Berguncang

Tuhan Yesus tidak tidur

Ketika Bumi Berguncang

Sepuluh menit menjelang pukul enam pagi, saya baru saja terlelap. Semalaman  saya begadang menjaga bayi kami yang belum genap berusia sebulan. Tiba-tiba, lantai rumah terasa bergetar. Terdengar suara berderak-derak pada atap rumah. Tembok-tembok gemeretak. “Gempa bumi!” batin saya. Saya segera melompat dari tempat tidur dan meraih bayi kami. Namun, ternyata ia sudah lebih dulu digendong mamanya. Dengan perasaan yang takut dan gemetar, kami menghambur keluar rumah. Puji Tuhan! Kami selamat. Rumah kami juga tidak mengalami kerusakan. Tanggal 27 Mei, gempa dengan kekuatan 5,9 skala Richter telah melanda Jogyakarta dan Kabupaten Klaten.

Siang harinya, saya menengok keadaan anggota jemaat kami di Desa Pesu, Kecamatan Wedi. Darah saya tersirap melihat kedahsyatan kekuatan alam ini. Hampir semua bangunan di wilah ini telah runtuh. Jumlah korban jiwa sangat banyak. Itu belum termasuk korban terluka. Begitu banyaknya korban terluka sehingga rumah sakit umum tidak bisa menampung lagi. Akibatnya, mereka terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa.

Seorang warga berkisah, waktu gempa terjadi ia sudah ada di sawah. Ketika melihat ke arah perkampungan, ia menyaksikan rumah-rumah yang roboh secara bergelombang. “Seperti ada ular yang bergerak di bawah tanah,” katanya memberi kiasan.

Melalui bencana alam ini, kita dapat melihat kedahsyatan kekuasaan Allah. Manusia menjadi lemah dan tak berdaya di hadapan Allah. Meskipun demikian, Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang angker dan menakutkan. Allah kita adalah Penguasa alam semesta. Dia selalu menyertai kita. “Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub” (Mazmur 46:7). Dia pasti sanggup menolong dalam kesesakan kita.