Tuhan Yesus tidak tidur:Rukun = Berkat

Tuhan Yesus tidak tidur

Rukun = Berkat

Kebersamaan dan gotong royong ternyata belum hilang dari kebudayaan masyarakat kita. Hanya berselang beberapa jam setelah gempa bumi di Joygyakarta dan Jawa Tengah, banyak orang menghubungi kami untuk menawarkan bantuan. Para wanita segera menyiapkan nasi bungkus, sedangkan kaum pria menyiapkan tenda dan lampu minyak. Bantuan pertama ini ternyata sangat tepat. Para korban yang masih terguncang itu belum sempat berpikir untuk memasak dan membuat tempat berteduh.

Hari-hari berikutnya, banyak relawan yang bergabung dengan posko kami. Mereka rela meninggalkan pekerjaan dan kuliahnya demi menolong sesama. Tanpa sungkan-sungkan, mereka mendirikan tenda darurat tanap memedulikan sinar matahari yang menyengat kulit. Relawan lainnya tanpa kenal lelah menyalurkan bahan pangan. Ada juga relawan yang mengajak anak-anak bermain untuk menghilangkan trauma mereka.

Gempat bumi ini juga telah meruntuhkan sekat-sekat yang memisahkan antar warga. Para korban gempa bersama-sama mendirikan dapur umum. Tanpa melihat perbedaan agama, status sosial atau suku, mereka bekerja sama dalam kebersamaan. Dengan bergotong royong, secara bergantian mereka membersihkan puing-puing akibat gempa di setiap rumah warga. Melihat hal ini, Kompas menulis: “Apakah harus dibutuhkan sebuah bencana supaya kita dapat hidup dengan rukun?” Semoga saja tidak. Kata pemazmur, “Di mana ada orang-orang yang hidup rukun, di sanalah TUHAN menurunkan berkat-Nya, kehidupan untuk selama-lamanya.”

Kalau kerukunan itu begitu indah, buat apa memilih bermusuhan?