Tuhan Yesus tidak tidur:Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Tuhan Yesus tidak tidur

Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Mas Mono, seperti pemuda lain di desanya, ingin mengejar mimpi hidup sukses ke kota. Ia mendapat pekerjaan sebagai tukang las. Namun naas, teman kerjanya melakukan keteledoran. Temannya menyenggol batang besi yang menyebabkan kabel listrik bertegangan sangat tinggi menggeliat dan menyetrum tubuh Mas Mono. Akibatnya, selain mengalami luka bakar tingkat tinggi, Mas Mono juga harus merelakan kedua tangannya lengannya diamputasi, di batas pergelangan tangan.

Mimpi sukses itu pupus sudah. Dengan hati hancur, Mas Mono pulang ke desanya. Sedih, bingung, putus asa, marah, ingin berontak. Perasaan ini berkecamuk dalam dirinya. Selama setahun Mas Mono dirundung duka. Setiap kali mendapat perkunjungan dari anggota gereja, Mas Mono lebih suka mengurung diri dalam kamar. Namun malam harinya, Mas Mono keluar rumah. Ia tidur di kuburan desanya!

Hingga suatu ketika, Mas Mono menghilang. Tentu saja keluarganya kebingungan mencarinya. Dua minggu kemudian, ia muncul lagi. “Ke mana saja kamu?” tanya kakak perempuannya. “Ke Bali, Mbak,” jawab Mas Mono santai.

Sejak saat itu, Mas Mono mulai berubah. Ia mulai belajar naik sepeda. Sebelumnya, ia memang sudah bisa mengendarai sepeda. Namun dengan lengan yang buntung dan kaki yang pincang, ia harus menyesuaikan diri lagi.

“Kebangkitan” Mas Mono ini tidak lepas dari kesabaran keluarganya. Selama setahun Mas Mono menjalani masa “penolakan” diri. Selama itu pula mereka merawat Mas Mono dengan penuh kasih. Inilah masa yang berat bagi keluarganya. Mereka harus tetap menghibur dan memahami perilaku Mas Mono yang agak aneh ini.

Kesabaran itu seperti air yang meneters terus menerus di atas batu cadas. Akhirnya, batu yang keras ini akan luluh juga.