Tuhan Yesus tidak tidur: Pahlawan Iman

Tuhan Yesus tidak tidur

Pahlawan Iman

Uskup Festus Kivengere dari Uganda menceritakan penganiayaan yang dilakukan diktator Idi Amin terhadap orang Kristen Uganda, “Tanggal 10 Februari adalah hari yang tak terlupakan…Saya diizinkan penguasa untuk berbicara dengan orang-orang yang akan dihukum mati…Tangan mereka diborgol dan kaki mereka dirantai. Mereka diturunkan di tengah stadion dari sebuah truk. Pasukan penembak sudah siap disitu.”

“Ketika mendekat, saya melihat wajah mereka berseri-seri. Mereka berkata, ‘Uskup, terima kasih karena sudah datang. Saya ingin bersaksi. Ketika saya tertangkap, di penjara saya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Dia menghapus dosa-dosa saya! Surga kini terbuka dan tidak ada lagi yang menghalangi antara saya dengan Tuhan! tolong beri tahu anak dan isteri saya bahwa saya sudah bersama Yesus. Katakan juga supaya mereka juga menerima Dia.”

“Tiga orang itu berdiri menghadap regu penembak dengan tegar. Mereka mengangkat tangan dan melambaikan ke arah penonton. Penonton ikut melambaikan tangan. Suara tembakan memecah keheningan, lalu ketiganya bersama Yesus…”

“Minggu berikutnya, saya menceritakan pembunuhan tiga orang ini dalam kebaktian di kota kelahiran salah satu orang yang mati itu. Paad mulanya, jemaat terlihat berduka. Namun ketika saya menceritakan kesaksian orang itu, perkabungan itu berubah menjadi puji-pujian pada Tuhan! banyak orang yang berbalik kepada Tuhan.”

Dalam Ibrani 11, kita membaca daftar orang-orang yang menderita karena iman. “Mereka dilempari, digergaji, di bunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan” (Ibrani 11:37). Tidak hanya di Uganda atau Israel, di Indonesia pun ada banyak orang Kristen yang menjadi martir Allah.

Kematian tidak menggentarkan orang Kristen karena setelah itu ada kehidupan yang lebih baik.