Tuhan Yesus tidak tidur: 40 Martir Sebastian

Tuhan Yesus tidak tidur

40 Martir Sebastian

Tahun 320, Licinius yang menjadi kaisar Romawi Timur, menganiaya orang Kristen. Ia memerintahkan semua tentaranya untuk menyangkali Kristus. Namun di wilayah Sebaste (sekarang Sivas, Turki), ada 40 tentara yang menolak perintah itu. Mereka ditelanjangi dan direndam dalam danau beku di malam hari.

Untuk menggoda mereka, para perwira membuat api unggun di pinggir danau, lengkap dengan selimut, air hangat, manakan dan minuman panas. “Datanglah ke sini kalau kamu mau menolak imanmu,” teriak mereka. Namun ada seorang ibu dari tentara termuda menyemangati mereka dari pinggir danau.

Dengan berani, tentara Kristen ini menjawab, “Kalian boleh merampas senjata dan tubuh kami, tetapi jiwa kami adalah milik Kristus.” Mereka lalu berangkulan sambil bernyanyi lagu kemenangan.

Menjelang malam, ada seorang yang tidak tahan. Ia lari ke pinggir danau. Namun, kemudian ada kejadian luar biasa. Di antara perwira itu ternyata ada yang diam-diam percaya pada Kristus. Ia lalu menanggalkan bajunya dan bergabung ke dalam es untuk menggantikan orang yang tidak tahan siksaan itu. Saat fajar, keempat puluh tentara Kristen itu ditemukan mati membeku.

Paulus menegaskan ketika kita menanggung kesesakan, kesukaran, dan penderitaan dengan sabar, kita bisa menunjukkan bahwa kita adalah “pelayan Allah”.

Tidak semua orang dipanggil menjadi martir, tetapi semua orang dipanggil menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi artinya mengatakan kebenaran di hadapan orang banyak.

Tidak ada saksi yang bersaksi dengan diam-diam. Ini bukan pilihan. Ini adalah kewajiban kita.

Iklan