Tuhan Yesus Tidak Tidur: Balas Dendam Terhormat

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Balas Dendam Terhormat

Seorang teman berkata kepada saya, “Saya sulit sekali memaafkan orang yang sudah mengkhianati saya.” Ini memang manusiawi, tetapi marilah kita belajar dari sikap Yesus terhadap orang yang mengkhianati-Nya, yaitu Petrus.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus mencari Petrus yang sedang menekuni kembali pekerjaan lamanya, yaitu menangkap ikan di Danau Galilea. Ketika Petrus menghampiri Yesus di pinggir danau, Yesus menempatkan diri sebagai pihak yang terluka. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? tanya Yesus. Di sini Yesus memakai kata yang paling tinggi untuk “mengasihi” yaitu Agape.

Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus menggunakan kata Yunani yang tingkatannya lebih rendah dari Agape, yaitu Philia (Yohanes 21: 15)

Coba bayangkan, jika Anda dalam posisi Yesus. Anda sudah berusaha bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti Anda, tetapi tanggapan orang itu ternyata kurang menyenangkan.

Anda sudah bertanya dengan tulus, “Apakah engkau mengasihi aku?”, lalu orang itu menjawab dengan dingin, “Ya, aku menyukai engkau.” Kemungkinan besar Anda akan merasa sakit hati dan bertolak. Mungkin Yesus juga kecewa pada jawaban Petrus ini. Namun, hal ini tidak memengaruhi kasaih dan kepercayaan-Nya kepada Petrus. Hal ini terbukti pada hari-hari selanjutnya, Petrus tetap dipercaya menjadi rasul-Nya.

Desa Duma adalah desa Kristen yang sangat menderita pada saat terjadi konflik di Ambon. Mereka diserang sebanyak lebih dari 21 kali. Dalam tragedi ini, wajar jika mereka menyimpan kepahitan pada desa-desa sekitarnya. Namun, mereka memilih untuk mengampuni. Setelah konflik reda, mereka memutuskan untuk mengutus beberapa orang ke desa tetangga untuk mengawali proses rekonsiliasi. Ternyata tawaran ini mendapat sambutan baik.

Thomas Fuller berkata, “Cara terhormat untuk membalas dendam adalah mengampuni.”