UEFI

UEFI

Calon Pengganti BIOS

Menu-menu BIOS (Basic Input/output System) yang berwarna biru dan kurang terstruktur sudah hadir  sejak 30 tahun lalu. BIOS akan mendeteksi hardware dan mempersiapkan interface yang diperlukan untuk proses booting Windows atau Linux. BIOS ini sebenarnya dikembangkan untuk PC era 80-an dan hampir tidak berubah sampai saat ini.

Sejak tahun 2000. Intel mengembangkan sebuah interface firmware baru yang disebut EFI (Extensible Firmware Interface). Sejak tahun 2005, Unified EFI Forum, yang beranggotakan perusahaan-perusahaan besar seperti Intel, AMD, Apple, Dell, dan Microsoft, telah menggodok spesifikasi UEFI (Unified EFI). UEFI telah dikembangkan menjadi sebuah interface yang mudah dioperasikan, lebih cepat, stabil, ringan, dan aman. Memang, sampai sekarang belum ada sistem yang berbasis pada UEFI. Disini akan ditunjukkan apa yang ditawarkan BIOS baru ini dan cara komputer nantinya melakukan booting.

Lebih cepat: UEFI integrasikan driver

Proses booting BIOS dapat terlihat begitu PC diaktifkan. Dalam hitungan detik sampai layar Windows muncul, berlangsung proses yang disebut POST (Power-On Self Test). Pada PC-BIOS klasik, proses ini akan menginisialisasi sederetan hardware yang terdapat pada motherboard, dimulai dengan CPU dan kemudian memeriksa sebagian fungsinya. BIOS bekerja sebagai abstaksi sehingga sistem operasi tidak harus mengaktifkan komponen-komponen PC penting secara langsung. Driver harus di-load saat sistem operasi aktif. Selanjutnya, BIOS mencari bootloader pada 512 byte pertama dari semua drive. Pada komputer berbasis BIOS, biasanya boot loader terdapat dalam MBR (Master Boot Record). MBR mengatur partisi pada sebuah hard disk. Bila Bootloader sudah aktif, sistem operasi kemudian dijalankan.

Namun, PC-BIOS menunjukkan dua kelemahan dasar. Pertama, BIOS berbasis pada kode-kode Assembler 16 bit sehingga tidak dapat langsung menginisialisasi perangkat-perangkat 64 bit terbaru. Kedua, tidak ada spesifikasi seragam. Masing-masing produsen membuat varian sendiri-sendiri.

Dengan UEFI, peserta forum tersebut ingin membuat keseragaman. Setiap proses akan didefinisikan secara rinci. Proses booting pada UEFI board (Platform Initialization, PI) dapat digambarkan sebagai berikut. Setelah komputer dinyalakan, berlangsung Pre-EFI Initialization (PEI), yang diaktifkan dalam CPU, Memory, dan chipset. Selanjutnya, proses beralih ke Driver Execution Environment (DXE). Pada tahap ini, hardware lainnya akan diaktifkan dan bahkan secara pararel. Kelebihan dalam hal kecepatan sudah terasa pada tahap ini. UEFI mengintegrasikan beragam driver sehingga tidak perlu lagi di-load pada saat sistem operasi dijalankan. Lantaran driver ini tidak tergantung pada sistemnya, produsen hanya perlu memprogram sebuah varian. Oleh karenanya, pada saat booting awal, network card dan fungsi-fungsi seperti Network Boot atau Remote Maintenance sudah dapat diaktifkan. Selain itu, graphics card yang aktif akan menampilkan interface menu yang ringkas.

Waktu yang lebih singkat ini diperoleh UEFI dengan cara melewatkan pengecekan bootloader pada semua driver yang tersedia. Boot drive sudah ditentukan dalam UEFI sejak instalasi sistem operasi. Dari sini, proses booting menjadi standar tanpa harus melakukan proses pencarian yang memakan waktu.

Namun, booting yang lebih cepat bukan satu-satunya keuntungan UEFI. Pada partisi EFI yang lain pada hard disk, beragam aplikasi dapat disimpan sehingga ketika sistem operasi baru berjalan, apabila diperlukan Anda dapat menjalankan aplikasi-aplikasi diagnosis, antivirus, atau system tool.

Lebih Besar: HDD 3 TB butuh UEFI

Saat ini, hard disk 3 TB telah hadir di pasaran, seperti Seagate Barracuda XT 3000GB atau WD Caviar Green 3TB. Sayangnya, UEFI belum siap digunakan. Untuk menggunakan hard disk “raksasa” ini diperlukan software /driver khusus.

PC-BIOS hanya dapat mengakses 2³² sektor berukuran 512 byte melalui Master Boot Record konvensional. Artinya, kapasitas hard disk maksimal hanya 2 TB. Seagate menggunakan sektor yang sedikit lebih besar agar setidaknya dapat digunakan di Windows, namun hal tersebut menimbulkan masalah. Sebuah BIOS tidak dapat booting dari hard disk ini. Sebaliknya, UEFI berbasis pada GUID Partition Table (GPT) dengan panjang alamat 64 bit dan dapat memproses sampai 2/64 sektor, jadi setara 9 Zettabyte (1 Zettabyte= 1 Miliar TB). Memang, hard disk GPT sudah dapat digunakan pada Windows Vista, namun booting hanya berfungsi dengan motherboard UEFI yang masih sedikit di pasaran, seperti Intel DQ57 TM dan di Windows Vista SP1 64 bit. Pada tahun 2011 nanti, Intel akan menawarkan lebih banyak motherboard UEFI dibandingkan dengan BIOS. Vendor lain akan menyusul.