Tuhan Yesus Tidak Tidur: Menyalahkan Korban

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Menyalahkan Korban

Ada kejadian yang tidak lazim. Suatu saat, pendeta Scott Mansfield diminta memimpin upacara pemakaman Ben Martinez. Bukannya mengucapkan kata-kata yang menghibur, ia malah mengatakan, “Semoga Tuhan melepas orang seperti Ben dari mulut-Nya, dan membiarkannya masuk neraka.” Tentu saja ucapan pendeta ini membuat resah sanak famili Ben. Mereka mengalami mimpi buruk, depresi, sampai perlu mendapati terapi.

Ternyata Pendeta Scott melontarkan kata-kata itu karena merasa kesal sebab selama setahun Martinez tidak pernah ke gereja. Namun menurut keluarganya, Martinez tidak pernah ke gereja karena menderita penyakit emphysema dan batuk darah di usia 80 tahun (Koran Tempo, 18/10/03). Perbuatan pendeta ini lazim disebut kecenderungan “menyalahkan korban”. Jika terjadi musibah, orang cenderung menyalahkan korban, tanpa mau berusaha mencari akar penyebabnya. Misalnya, jika ada jemaat mendapat musibah, hal pertama yang ditanyakan, “Apakah kamu berbuat dosa sehingga harus mengalami hal ini?”

Jika ada anggota jemaat yang lama tidak ke gereja, kita justru harus mencari tahu faktor penghalangnya, bukan langsung menganggap “domba yang hilang”. Siapa tahu, orang itu sebenarnya rindu bersekutu dengan Tuhan dan sesama iman, tetapi terhalang oleh beberapa hal.

Demikian juga jika ada orang Kristen yang berpindah ke agama lain, kita justru harus semakin mengasihi dan mendoakannya. Menghakimi dia sebagai “domba yang sesat” justru semakin menjauhkannya dari Sang Gembala Agung. Tanggalkan mentalitas “menghakimi orang lain” dan kenakanlah hati seorang penggembala yang mengasihi domba-dombanya dengan segenap hidupnya.

Seorang gembala justru memberi perhatian yang lebih besar kepada domba yang paling lemah.