Tuhan Yesus Tidak Tidur: Semangat yang Patah

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Semangat yang Patah

Para peneliti mengatakan bahwa walaupun pola hidup berubah lebih sehat seperti: makan makanan yang bergizi, memulai olah raga, tidur 6-8jam setiap malam, berpantang pada alkohol, rokok, dan obat-obatan berbahaya lainnya, tetapi tingkat stres tetap tinggi, untuk menjadi lebih sehat sangatlah lambat.

Dalam versi New King James, “semangat yang patah”, berarti “roh/jiwa yang hancur”. Kata ini digunakan untuk melukiskan keadaan manusia yang telah kehilangan gairah hidup. Ia merasakan kesusahan, kekecewaan, kekhawatiran, kepedihan hati, kepahitan, dll. Terhadap situasi ini, Raja Salomo menyebutkan akibatnya, yaitu dapat mengeringkan tulang alias mengganggu kesehatan tubuh.

Apa yang kita pikirkan dan rasakan, dapat memengaruhi kesehatan tubuh. E G White, seorang penulis terkenal menulis: “Penyakit pikiran terjadi di mana-mana. Sembilan dari sepuluh penyakit yang diderita manusia berasal dari pikiran”. Memang, tidak semua penyakit diakibatkan secara langsung oleh pikiran kita. Misalnya, karena hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, maka seseorang berisiko tertular penyakit kelamin, bahkan AIDS.

Situasi pikiran dan batin kita juga berpengaruh terhadap kinerja kita. Salomo menulis, “Hari orang berkesusahan buruk semuanya” (Amsal 15:15). Orang yang suasana hatinya sedang buruk, biasanya melakukan banyak kesalahan. Untungnya, kita diberi kemampuan untuk mengendalikan suasana hati dan pikiran Anda. Itu artinya, ketika menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, Anda memiliki pilihan: patah semangat atau tegar. Saya berharap Anda sepakat dengan saya, yaitu pilihan kedua.

Manusia bukan robot. Ia diberi hikmat dan kehendak bebas untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya.

Iklan