Tuhan Yesus Tidak Tidur: Tulus Boleh, Tapi Cerdik, Donk!

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Tulus Boleh, Tapi Cerdik, Donk!

Masih ingat cerita Yohanes yang kehabisan uang? Keluarga kami juga pernah ketamuan seorang bapak yang juga mengaku kehabisan uang. Ia bercerita melakukan perjalanan ke sebuah kota lain untuk menagih utang. Namun di tengah jalan, ia kehabisan uang. Maka kami pun memberikan bekal yang cukup padanya untuk bekal perjalanan.

Beberapa bulan kemudian, bapak ini datang lagi. Ia mengaku kehabisan uang lagi. Ceritanya hampir sama, meskipun dengan sedikit modifikasi. Pada kedatangan yang keempat, sikap kami sudah berbeda. “Setiap kali bapak datang ke sini, ceritanya itu-itu saja. Cerita bapak ini jujur atau mengarang? Begini saja, ayo kita melapor dulu ke kantor polisi. Setelah itu, nanti akan kami bantu,” kata isteri saya tegas. Mendengar itu, bapak itu segera berdiri dan berpamitan.

Kebanyakan orang Kristen mempunyai belas kasih (compassion) yang besar. Mereka tidak segan-segan membantu orang lain yang sedang kesusahan. Ketika bencan tsunami melanda Asia Selatan dan Tenggara, gereja-gereja termasuk yang paling cepat mengulurkan bantuan.

Sayangnya, sikap tulus ini kadang diekploitasi orang lain. Mereka memanfaatkan kebaikan hati orang Kristen untuk kepentingan sendiri. Untuk itu, kita harus “cerdik seperti ular”. Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan “serigala”. Mereka siap “menerkam” kita. Supaya tidak menjadi mangsa, kita harus cerdas membaca situasi. Meskipun begitu, kita juga tidak boleh curiga dengan semua orang. Itu sebabnya harus diimbangi dengan hati yang tulus dan kasih.

Tulus itu berbeda dengan polos. Orang yang tulus mampu mengenali orang yang berbuat jahat, tetapi tetap mengasihinya.