Tuhan Yesus Tidak Tidur: Kebaikan Hati

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Kebaikan Hati

Bagaimana rasanya jika Anda berbuat baik pada seseorang, tapi orang itu malah bersikap jahat pada Anda? “Hati ini rasanya sakit sekali”. Kebanyakan orang akan menjawab begitu. Perasaan itu muncul karena kita tidak memiliki motivasi murni ketika berbuat baik. Banyak orang Kristen yang menolong orang lain, tetapi disertai harapan orang itu menjadi Kristen. Ada juga gereja yang berbaik-baik dengan tetangga supaya gerejanya terhindar dari gangguan. Ada pula orang Kristen yang berderma supaya dikenal sebagai dermawan.

Maka tidak heran, ketika ternyata “hasil” yang didapat tidak sesuai dengan keinginan, kita lalu menjadi kecewa. Apalagi jika kebaikan kita justru dianggap secara negatif. Kita masih teringat Yayasan Doulos yang dibakar massa. Lembaga yang berusaha memulihkan pecandu narkoba ini justru difitnah dengan bermacam-macam tuduhan. Hal yang sama juga dialami Romo Sandyawan. Bersama Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, ia dengan tulus membantu para korban perkosaan pada kerusuhan 12-13 Mei 1998. Apa yang mereka peroleh? Hujatan, teror, bahkan ancaman keselamatan.

Jika begitu, apakah kita lalu berhenti berbuat baik? Dalam hal ini Paulus memberi saran supaya kita jangan sampai kalah terhadap kejahatan, “Tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:21) “Kalau mau mutung (patah arang) berbuat baik, hal ini justru merugikan orang lain yang benar-benar membutuhkan kebaikan kita. Ibu Theresa pernah memberi nasihat: “Berbuat baik kepada semua orang. Meskipun orang lain menanggapinya dengan kejahatan, tetapi tetaplah berbuat baik.” Kita berbuat baik kepada orang lain, karena Tuhan telah lebih dulu berbuat baik kepada kita.

Perbuatan baik kita adalah ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan kepada kita.

Iklan