Tuhan Yesus Tidak Tidur: Telinga Seorang Sahabat

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Telinga Seorang Sahabat

Waktu itu saya masih kecil. Suatu malam, ibu saya sakit dan harus segera dibawa oleh bapak dan beberapa tetangga ke rumah sakit. Saya dan adik-adik saya ditinggal di rumah. Ada seorang tetangga yang menemani kami. Orangnya sangat sederhana dan tidak banyak bicara. Malam itu, ia tidur di kursi tamu. Meskipun begitu, kehadiran bapak tua ini sangat berarti bagi kami. Kami merasa aman dan tidak sendirian.

Kehadiran teman pada saat-saat yang berat, bernilai sangat besar. Dalam masa pergumulan-Nya yang berat di Taman Getsemani, Yesus membutuhkan kehadiran teman. Namun, yang didapati-Nya adalah para murid yang tertidur. Dengan prihatin Yesus berkata kepada Petrus, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Yesus tidak membutuhkan apa pun selain seorang teman yang ibut berbela rasa (empati) dengan-Nya.

Pada zaman yang serba sibuk ini, banyak orang lebih senang berbicara daripada mendengar. Bahkan kepada Tuahn pun, kita pun berbuat demikian. Lihat saja. Jika kita berdoa, kita lebih banyak berkata-kata kepada Tuhah. Ini seperti orang yang sedang menelpon. Kita memanggil nomor Tuhan, menyampaikan semua maksud kita, lalu segera menutup telepon tanpa sempat memberi kesempatan pada Tuhan untuk berbicara.

Ada banyak orang di sekitar kita sedang “membutuhkan telinga”. Mereka mencari orang yang bersedia mendengar keluh kesah, unek-unek, dan pergumulan kehidupan mereka. Ini dapat menjadi kesempatan untuk melayani orang lain. Tuhan telah memberi telinga kepada kita. Marilah kita pergunakan telinga kita untuk melayani Allah. Berikan telinga Anda untuk mendengar!

“Tuhan memberi dua telinga dan satu mulut. Maksudnya supaya kita mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara.”