Tuhan Yesus Tidak Tidur: Antara Iman dan Kasih

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Antara Iman dan Kasih

Siapa yang paling peduli ketika Anda sakit? Sebagian besar orang menjawab: Ibu. Dalam bacaan ini, ada seorang perempuan Kanaan yang anak perempuannya sedang sakit. Ia berharap mendapatkan kesembuhan dari Yesus. Namun, ternyata ia harus menghadapi hambatan yang berlapis-lapis.

Lapisan pertama, ia berkebangsaan Kanaan, yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Padahal Yesus dan murid-murid-Nya adalah orang Yahudi.

Lapisan kedua, anaknya kerasukan setan. Saat itu, masyarakat menganggap kerasukan setan disebabkan oleh dosa yang dilakukan orangtuanya. Oleh karena itu, keluarganya harus disingkirkan oleh masyarakat.

Lapisan ketiga, dalam budaya patriakhi. Perempuan dianggap tabu jika tampil di muka umum.

Namun semua hambatan itu tidak menyurutkan perempuan Kanaan untuk meminta kesembuhan dari Yesus. Ia menghampiri Yesus dan berseru meminta pertolongan. Pada saat bersujud di kaki Yesus, alih-alih mengabulkan permohonan itu, Yesus menolaknya dengan perumpamaan yang mengandung penghinaan. Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Namun, perempuan ini tidak surut.

Dari perempuan Kanaan ini kita dapat belajar tentang iman dan kasih. Karena sangat mengasihi anaknya, ia berani menerobos sekat-sekat dan menyeberangi tapal-tapal batas. Kasihnya yang besar itu membuatnya beriman kepada Yesus. Seperti ditulis Paulus, kasih perempuan Kanaan pada putrinya telah memampukannya untuk menutupi segala sesuatu, termasuk hinaan dan cercaan, untuk percaya segala sesuatu dan mengharapkan segala sesuatu dalam Yesus, dan sabar menanggung segala sesuatu agar bisa memperoleh penyembuhan serta kebebasan bagi anak perempuannya.

Iman dan kasih ada dua sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan.