Tuhan Yesus Tidak Tidur: Seulas Senyum tulus

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Seulas Senyum tulus

Saat itu, kami sedang pergi ke luar kota. Dalam perjalanan itu, kami mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang. Namun menit demi menit menunggu, makanan yang kami pesan tidak kunjung datang. Kamu mulai gelisah. Perut saya mulai berontak. Keringat dingin mulai terasa. Ini gejala-gejala maag saya akan kumat.

Setelah bosan menunggu, akhirnya masakan itu datang juga. Meskipun dengan perasaan kesal saya menyantap juga makanan itu. Namun dalam hati, saya sudah merasa kapok dan memutuskan untuk tidak akan mengunjungi warung makan ini lagi. Usai membayar di kasir, kami berjalan melewati bangunan joglo. Di situ terlihat beberapa kru stasiun televisi yang sedang menyiapkan peralatan untuk shooting. Rupanya, pemilik rumah makan ini adalah seorang penyanyi yang lumayan kondang. Saya melihat dia sudah berdandan rapi dan sedang terlihat berbicara serius dengan kru.

Ketika melihat kami, ia menghentikan pembicaraan untuk menyapa kami. “Terima kasih sudah berkunjung ke rumah makan ini, “ katanya ramah, dengan senyum tulus, tidak dibuat-buat. Saya membalas senyuman sambil menganggukkan kepala.

“Mau pergi ke mana?” tanyanya. “Ke Cangkringan” jawab isteri saya. “Oh, kalau begitu selamat jalan. Jangan lupa mampir kembali, “ katanya ramah.

Hmm….seulas senyuman itu telah merubah pandangan kami. Keramahan pemilik rumah makan itu telah mengikis kesan miring tentang lambatnya penghidangan masakan di sana. Ketulusan seperti itu tidak membutuhkan biaya, tetapi dapat mendatangkan keuntungan yang tidak terduga.

Tersenyumlah, dan dunia akan tersenyum balik kepada Anda!