Tuhan Yesus Tidak Tidur: Prasangka Buruk

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Prasangka Buruk

Saat itu, saya dan teman saya sedang duduk-duduk santai di halaman parkir gereja. Lalu ada seorang Bapak berpakaian sederhana mendekati kami. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk. “Ada apa, Pak?” tanya kami.

“Saya akan pulang ke Madiun, tapi kehabisan ongkos,” kata Bapak itu. “Yah mulai lagi,deh,” demikian batin saya. Kami sudah sering mendengar cerita seperti ini. Ujung-ujungnya pasti minta duit.

“Maaf, Pak,” teman saya memotong cerita, “Kami tidak memberikan sumbangan.”

“Saya benar-benar kehabisan uang. Karena saya ini orang Kristen, maka saya berani minta ke gereja,” kata bapak ini sambil mengeluarkan KTP-nya. Saya lirik kolom agama, memang tertulis “Kristen”.

“Saya tidak minta sumbangan. Saya hanya mau menjual jaket saya ini,” kata Bapak itu sambil mengeluarkan jaket lusuh dari ranselnya. Ia butuh ongkos angkutan untuk pergi ke rumah saudaranya yang tidak jauh dari gereja kami.

Saat itu, seperti ada tamparan yang meneplak wajah saya. Saya sudah berprasangka buruk pada orang itu. Di benak kami sudah terbentuk stereotip bahwa kalau ada orang yang berpakaian lusuh datang ke gereja, pasti akan minta sumbangan. Sambil mohon maaf, kami memberikan ongkos dan mengembalikan jaket pada Bapak itu.

Pada zaman Yesus, orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang Samaria. Bangsa Yahudi memandang rendah bangsa Samaria, karena mereka tidak mengenal Allah. Namun, Yesus tidak mau terjebak dalam stereotip seperti ini. Dia memandang setiap orang dengan prasangka yang baik. Kiranya, kita juga bersikap serupa.

Cara pandang Anda, menentukan sikap dan tindakan Anda.