Selamat Tinggal BIOS 02

Selamat Tinggal BIOS 02

Tidak ada yang salah dengan BIOS. Buktinya, ia mampu bertahan selama 25 tahun, mengalahkan beberapa kompetitornya yang kemudian memodifikasi konsep dasar BIOS, sebut saja clone BIOS dan ARC (Advanced RISC Computing), tetapi mereka pada akhirnya tidak berlanjut karena memiliki kelemahan pada evolutionary path, extensibility dan possible system diversity.

Walaupun masih bertahan hingga saat ini, tetap saja BIOS bergantung pada arsitektur x86 dengan 16bit interfaces, keterbatasan ukuran kapasitas ROM execution (1 MB) dan ukuran image, missing modularity, serta keterbatasan jumlah device yang dapat diinisialisasi. Selain itu, ia tidak dirancang untuk keragaman hardware yang cukup pesat saat ini.

UEFI menyediakan independent hardware dan interface yang terbagi menjadi boot dan runtime service, Boot services meliputih inisialisasi boot, file service, serta textual dan graphical user console, sedangkan runtime service meliputi tanggal, waktu, dan NVRAM (Non-Volatile Random Access Memory) service. Untuk mengaktifkan atau menfasilitasi komunikasi antar device, semua driver EFI dan komponen berkomunikasi melalui protokol tertentu. Ia tidak terbatas pada arsitektur processor tertentu. Ia dapat berjalan di atasnya atau bahkan menggantikan BIOS konvensional.

Ada beberapa alasan mendasar UEFI dipastikan akan menggantikan BIOS:

  1. Drive Size Limits: Ketika harddisk berkapasitas besar hingga 3 TB muncul di pasaran, UEFI menjadi sangat penting karena kebutuhan GPT (GUID Partition Table) untuk menggantikan MBR (Master Boot Record) yang memiliki keterbatasan dalam membaca harddisk hingga 2 TB saja. GPT menggunakan basis 64-bit sehingga dapat mendeskripsikan harddisk hingga 9,4 Zettabyte (9,4 x 10 21 byte). Tidak hanya itu GPT juga dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan MBR, seperti integritas data, backup table, dan jumlah maksimum partisi.
  2. Pre-Boot Networking: Protokol untuk networking saat ini umumnya masih menggunakan IPv4. Namun, IPv6 akan segera menggantikannya setelah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir. UEFI menyertakan IPv6 pada spesifikasinya sehingga network booting dan kemampuan remote jarak jauh yang terintegrasi tampaknya akan menjadi standar baru untuk networking nantinya.
  3. Pre-Boot Application: Aplikasi yang dapat kita akses pada pre-boot, adalah kelebihan yang paling menonjol dari UEFI. Beberapa di antaranya adalah sistem diagnosis, memory test, live update, game, utility, dan system recovery, bergantung pada manufaktur karena ia bersifat independen hardware.

Hal yang cukup menarik selain hal yang disebutkan di atas adalah tampilan pada UEFI. BIOS menggunakan VESA mode yang bertugas mendefinisikan dukungan display adapter yang bergantung pada softwre interrupt. Sementara, UEFI menggunakan GOP (Graphic Outputs Protocol). Pada developer beranggapan bahwa VBE (VESA BIOS Extension) tidak dapat mendukung untuk mode yang spesifik sehingga sangat sulit untuk membuat interface yang dapat bekerja untuk video card dan resolusi yang berbeda.

GOP menggantikan VBE, yang sangat kompleks dengan video buffer sederhana yang dapat mendukung berbagai resolusi.

Bagi beberapa orang, GUI untuk interface pada pre-boot memang bukanlah fitur yang terlalu penting. Namun, seiring dengan perkembangannya, kemudahan dan kepraktisan menjadi kelebihan tersendiri fitur ini. Bagaimana tidak? Adanya GUI pada UEFI menjadikan UEFI lebih atraktif dan user friendly, di samping dapat diakses dengan mouse atau bahkan dukungan touch screen.