Tuhan Yesus Tidak Tidur: Tersandung

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Tersandung

Pada tahun 1957, angkutan bis masih langka sehingga penumpang harus antri untuk membeli karcis. Sabtu siang, Pendeta N.E Jeshua mengantri karcis di terminal Gemblekan, Solo. Ia akan melayani di kota lain yang berjarak 40 km. Pada saat antri, ada seorang ibu yang minta tolong kepadanya untuk titip membeli karcis di jurusan yang sama. Karena udara yang panas dan banyaknya orang yang antre, Pendeta Jeshua menolak dititipi.

Sampai di kota tujuan, Pendeta Jeshua segera melaksanakan tugas pelayanan sampai larut malam. Karena tidak ada lagi angkutan ke Solo, maka ia harus menginap di kota itu. Oleh pengurus gereja, hamba Tuhan ini diantar ke rumah salah seorang jemaat untuk menginap.

Setelah masuk dan diperkenalkan dengan tuan rumah, pendeta ini merasa sangat kaget. Ibu pemilik rumah itu ternyata ibu yang ditolaknya saat menitip beli karcis. “Untunglah ibu itu agaknya lupa dengan wajah orang yang tidak mau dimintai tolong tadi siang,” tulis Pendeta Jeshua dengan hati geli.

Anda pasti pernah tersandung saat berjalan. Tapi pernahkah Anda perhatikan bahwa penyebab Anda tersandung itu selalu berupa benda-benda kecil? Kita jarang tersandung benda-benda besar karena kita mudah melihatnya, untuk kemudian menghindarinya.

Demikian juga dalam perjalanan iman. Dengan mudah kita dapat menghindari hal-hal yang jelas disebut perbuatan dosa. Misalnya, pembunuhan, perampokan, pencurian, dan lain-lain. Namun kita cenderung tidak waspada terhadap “batu-batu sandungan kecil” sehingga dapat menyebabkan kita tersandung. Rasul Petrus menganjurkan kita agar selalu siap mempertanggungjawabkan iman kita. Dengan demikian, kita dapat mengakhiri perjalanan iman kita dengan baik.

Orang Kristen itu seperti hidup di rumah kaca. Kehidupannya harus transparan dan bertanggung jawab.

 

Iklan