Tuhan Yesus Tidak Tidur: Kesalehan Semu

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Kesalehan Semu

Seorang dokter menuturkan pengalamannya kepada saya begini: Suatu hari Minggu, saat sedang mengikuti ibadah di gereja, tiba-tiba hape-nya bergetar. Ada pesan pendek masuk dari pengelola rumah sakit, tempat dia bekerja. Isinya, meminta supaya ia segera ke rumah sakit karena ada pasien di ruang gawat darurat. Dokter ini menjawab, “Harap tunggu sebentar. Saya sedang beribadah.”

Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk dari pengirim yang sama. Isinya memberitahukan bahwa pasien itu terpaksa harus di rujuk ke rumah sakit lain karena tidak mungkin menunggu lebih lama lagi. Dokter ini merasa menyesal sekali karena lebih mementingkan ritual daripada menolong orang lain.

Ayat nats kita merupakan kutipan ucapan Yesus. Dia mengancam sikap pimpinan agama Yahudi yang memakai pendekatan legalistik. Apa yang tertulis dalam hukum agama, itulah yang mereka lakukan setepat-tepatnya, tanpa berusaha memahami maksud di balik aturan itu. Menurut hukum agama, pada hari Sabat, orang Yahudi dilarang melakukan apapun selain beribadah. Yesus datang untuk membongkar kepalsuan-kepalsuan peribadatan seperti itu. Yesus memandang ketaatan hukum agama itu hanyalah kesalehan yang semu.

Yesus tidak menolak peribadatan. Itu terbukti, Yesus pun datang ke bait Allah pada hari Sabat untuk beribadat. Namun, Yesus juga memiliki belas kasihan. Hati-Nya tergerak untuk menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Di sini, Yesus memberi teladan bahwa kasih seharusnya mampu melewati batas-batas hukum agama.

Tetesan darah Yesus telah membebaskan kita dari ikatan dosa. Karena itu, jangan memberikan diri dibelenggu oleh apa pun juga.

 

Iklan