Tuhan Yesus Tidak Tidur : Tuhan Tidak Tidur

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Tuhan Tidak Tidur

Salah satu keluarga di gereja saya nyaris menjadi korban Bom Bali II, Oktober 2005. Anak-anak dari keluarga ini – tanpa didampingi orang tua -, berlibur ke Bali. Pada malam yang penuh tragedi itu, mereka pergi ke Jimbaran untuk makan malam. Tempat pertama yang mereka tuju adalah Café Nyoman. Namun, tiba-tiba mereka berubah pikiran. Mereka sudah beberapa kali bersantap di café ini. Mereka ingin mencoba tempat lain, maka mereka pun pindah ke café lainnya.

Ketika sedang menunggu pesanan, tiba-tiba terdengar ledakan dashyat. Mereka segera lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Sesampai di hotel, mereka bergegas mengabari orangtua bahwa mereka selamat.

Keesokan paginya, mereka menyimak berita. Ternyata ada bom lain yang tidak sempat meledak. Ketika melihat lokasianya mereka baru menyadari bahwa malam itu, mereka sebenarnya berlari ke bom yang urung meledak itu. “Entah apa jadinya kalau bom itu meledak!” ujar kepala keluarga ini, dengan ucapan syukur.

Allah adalah sumber perlindungan kita yang dapat diandalkan. Meskipun demikian, Allah bukanlah saptam kita, yang kita gaji untuk melindungi kita. Allah melindungi dan menyelamatkan kita, karena kita ini miliki-Nya. Allah akan memelihara kita seperti biji mata. Ketika ada yang akan menjamah biji mata-Nya, maka Allah akan bertindak. Allah akan menjaga kita seperti induk burung yang menaungi anak-anaknya dengan sayap. Pertanyaannya, apakah Anda sudah menyerahkan diri untuk menjadi milik Allah, atau belum?

“Gusti ora sare” (Tuan tidak tidur). Dia akan menjaga dan membela anak-anak kepunyaan-Nya.