Tuhan Yesus Tidak Tidur: Menolak Godaan

Tuhan Yesus Tidak Tidur

Menolak Godaan

Seorang pencuri yang membobol sebuah rumah di kota Tiel, Belanda, tidak tahan untuk memainkan piano yang ia temukan setelah berhasil masuk ke ruang keluarga rumah itu. Sialnya, bunyi dentingan piano yang dimainkan penjahat berumur 20 tahun itu justru membangunkan tuan rumah, yang kemudian langsung menelpon polisi.

Sebuah tindakan konyol, bukan? Pencuri ini tidak dapat menahan godaan untuk tidak memainkan piano. Ia pasti menyadari bahwa suara piano dapat membangunkan pemilik rumah. Namun, godaan itu terlalu besar untuk ditolak. Pikirnya, “Ah, saya akan memainkan lirih saja. Mereka pasti tidak mendengar.”

Godaan dosa memiliki dimensi serupa. Saat sedang berjalan, kita jarang tersandung oleh batu besar. Dalam perjalanan kehidupan, kerikil-kerikil dosa yang lebih diwaspadai. Ketika digoda oleh “dosa kecil”, kita cenderung membuat alasan untuk membenarkan perbuatan kita dengan berkata, “Aku’kan hanya mengambil sedikit. Tidak akan ada yang dirugikan.”

Di zaman modern, ada kecenderungan sikap permisif, yaitu memperbolehkan beberapa perbuatan yang pada zaman dulu dilarang dilakukan. Misalnya, hubungan seks sebelum menikah sudah menjadi kelaziman di dunia Barat. Bahkan, kalau ada pemuda/pemudi yang masih perjaka/perawan akan diolok-olok sebagai orang yang kuper (kurang pergaulan).

Ada pepatah Jawa: kriwikan, dadi grojogan (lubang kecil dalam tanggul air dapat menjebol tanggul). Pelanggaran-pelanggaran kecil akan menjerat kita untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar. Hati-hatilah dengan godaan semacam ini!

Kita bisa, karena terbiasa. Jangan beri peluang pada pelanggaran kecil menjadi pintu masuk dosa.