Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 02 : Pilar Imam

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 02

Pilar Imam

“Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. Berkatalah Abraham pada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya,katanya: ‘Baiklah dan letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku untuk, dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakKu’” (Kejadian 24: 1-4).

Pada saat ini ada banyak orang yang ceroboh dan tidak mencari kehendak Allah ketika dia mendapatkan pasangan hidupnya. Akibatnya, mereka tidak berbahagia dan banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian tetapi berbeda dengan Abraham. Abraham menyuruh hambanya yang paling tua untuk pergi ke Aram, Mesopotamia, yaitu tempat asalnya, tempat kelahirannya untuk mendapatkan pasangan hidup bagi anaknya, Ishak. Walaupun di sekitar mereka ada banyak perempuan-perempuan Kanaan yang cantik jelita, Abraham tidak ingin anaknya mengawini perempuan Kanaan. Namun pada saat Esau mengawini dua orang perempuan kafir hasilnya mendatangkan sumber penderitaan bagi Ishak dan Ribkah sehingga mereka melarang Yakub untuk mengawini perempuan Kanaan. Sumber pernikahan bahagia ditunjukkan dengan kedua-duanya haruslah orang yang seiman.

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dengan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6: 14-15).

Kalau anda mendengarkan ajaran ini dan anda belum menikah pastikan bahwa anda akan memilih orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Mengapa harus seiman? Sebab, kita mengetahui bahwa dalam pernikahan itu ada banyak masalah yang kita alami. Kepada siapakah kita minta tolong? Tentu saja kepada Tuhan. namun kalau cara berdoa dan beribadah kita berbeda bagaimana kita bisa mendapatkan pertolongan dari Tuhan yang Maha Kuasa itu?

Ada orang yang berkata bahwa siapa tahu Tuhan memberikan dispensasi kepada saya. Saya mau berdoa puasa deh supaya Tuhan mengijinkan saya menikah dengan orang yang tidak seiman. Allah itu tidak bisa melanggar firman-Nya sendiri. Jangakan berdoa puasa, anda berdoa sampai 40 hari 40 malam atau 1001 malam pun tetap saja perintah Allah itu sama. Tidak ada dispensasi. Sebab itu, marilah kita taat pada perintah Tuhan supaya Tuhan memberikan perintah itu bukan untuk menekan kita tetapi untuk menyatakan kebaikan bagi kita.

Mungkin ada yang bilang tetapi yang pentingkan saya kuat iman. Lho orang kuat iman tidak ditandai dengan mencobai Tuhan. apalagi melanggar perintah Tuhan. Orang yang kuat iman adalah orang yang taat kepada setiap kebenaran firman Tuhan. Tuhan ingin kita mendapatkan jodoh yang sepadan. Namun mungkin ada yang berfikir, “Saya pernah melihat ada orang Kristen menikahi orang non-Kristen dan mereka hidupnya rukun-rukun saja tuh.” Padahal Alkitab mengatakan “terang tidak bisa bersatu dengan gelap”. Itu artinya, salah dong Alkitabnya karena ternyata mereka bisa hidup rukun. Saya yakin firman Tuhan tidak mungkin keliru. Kalau terang bergabung dengan gelap tidak mungkin. Namun orang Kristetn yang menikah dengan orang yang tidak beriman itu artinya dia tidak sungguh-sungguh Kristen. Dia tidak hidup dalam terang tetapi, mungkin, remang-remang. Sedangkan orang yang tidak percaya yang menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dia juga tidak gelap tetapi remang-remang juga. Nah remang-remang menikah dengan remang-remang, ya bisa kelihatannya awet dan bahagia. Namun, Tuhan berfirman, “Aku ingin kamu bukannya panas, dingin sekalipun. Sebab kalau suami-suami ibarat lampu kalau remang-remang Aku akan muntahkan engkau.” Karena itu, mari kita yakinkan pada diri sendiri bahwa kita akan memilih pasangan yang seiman supaya ada keseimbangan secara rohani dan kita juga diberkati sepanjang masa.

Begitu juga orang yang sudah menikah dan berkeluarga. Alangkah baiknya kalau anda memiliki pasangan yang sungguh-sungguh seimbang secara rohani. Kalau saudara sudah menikah dengan orang yang tidak percaya anda perlu berdoa secara tekun dan seumur hidup. Mungkin saja keadaannya tidak terlalu banyak berubah tetapi sangat indah sekali jika suami, isteri, orang tua dan anak sungguh-sungguh mempunyai iman yang teguh. Sebab keluarga yang beriman adalah keluarga yang akan dapat mengatasi segala tantangan hidup. Seperti Yosua, dia adalah profile orang beriman yang membawa seluruh keluarganya untuk beriman kepada Allah.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).

Halleluya! Orang yang beriman, keturunannya akan diberkati oleh Tuhan. saya pernah membaca sebuah artikel tentang seorang atheis bernama Max Junes yang menikah dengan seorang wanita kafir yang bernama Aita Teg. Setelah mereka menikah, ternyata puluhan tahun kemudian setelah diteliti ada 310 orang keturunannya mati sebagai gembel, 150 orang menjadi penjahat, 7 orang menjadi pembunuh, 100 orang menjadi pemabuk dan separuh keturunan wanitanya menjadi pelacur.

Namun ada seorang hamba Tuhan bernama Jonathan Edwards menikah dengan seorang isteri Kristen yang taat kepada Allah. Ratusan tahun kemudian dilakukan penyelidikan terhadap 1394 orang keturunannya. Ternyata di antara mereka ada 13 orang yang menjadi rektor, 65 orang menjadi profesor, 3 orang menjadi senator di Amerika, 30 orang menjadi hakim, 100 orang menjadi pengacara, 60 orang menjadi dokter, 70 orang menjadi perwira AD dan AL, 100 orang menjadi pendeta dan penginjil, 60 orang menjadi pengarang yang terkenal, 80 orang lain menjadi pemuka di masyarakat, 295 orang lulusan universitas yang terkenal, ada yang menjadi gubernur, ada yang menjadi menteri, ada orang yang menjadi wakil presiden AS. Pilar iman membuat keluarga menjadi kokoh dan diberkati oleh Tuhan. Halleluya!