Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 03

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 03

Pilar Doa

Di dalam Kejadian 24:12 ketika hamba Abraham disuruh untuk memilih pasangan bagi Ishak anaknya, Abraham, dia berdoa, “TUHAN, Allah Tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapainya tujuanku pada hari ini, tunjukanlah kasih setia-MU kepada Tuanku Abraham.” Saya yakin bahwa doa harus mendahului pemilihan. Nah seperti hamba Abraham yang berdoa terlebih dahulu kepada Allah supaya Allah menunjukkan pasangan yang tepat maka kita pun harus demikian.

Ada banyak orang kalau memilih pasangan hidup bukannya berdoa minta ijin dulu kepada Tuhan tetapi Cuma lapor. Ini berbeda lho, antara minta ijin dengan lapor. Kalau minta ijin berarti anda belum mengambil keputusan, kalau Tuhan berkata, “Jangan!” Ya, udah kita taat. Kalau lapor lain lagi, “Tuhan, saya sudah senang sama si dia pokoknya terserah Tuhan deh mau ngomong apa yang penting ijinin ya Tuhan.” Nah itu lapor. Kalau lapor yang tanggung risiko adalah diri sendiri. Kalau minta ijin dan Tuhan mengijinkan maka saudara akan bahagia. Kalau Tuhan tidak mengijinkan berarti Dia akan menyediakan yang lebih baik dalam kehidupan kita. Faktor doa sangat penting. Khususnya kepada kaum wanita yang belum menikah jangan takut anda disebut sebagai perawan tua. Lebih baik kamu tidak menikah daripada kamu menikah dengan orang yang keliru.

Kadang-kadang ada orang yang berkata begini kalau orang baru berusia tujuh belas tahun jika ada yang mendekati dia maka pasang harga tinggi-tinggi sehingga dia berkata, “Siapa saya!” Kalau sudah berusia 25 tahun lebih dan belum ada yang mendekati, dia berkata, “Siapa dia, ya?” Dia yang mencari-cari. Kalau sudah berusia 30 lebih mendekati 40, dia berkata, “Siapa saja, deh! Nah ini yang berbahaya saudara. Kita harus tetap bertanya kepada TUHan di dalam doa tentang pasangan yang Tuhan kehendaki.

Saya mau bersaksi saya dulu dekat dengan isteri saya ini kira-kira kelas 3 SMA tetapi isteri saya anak pengusaha, anak pedagang. Saya anak pendeta. Pacar saya ini ngomong, “Kamu mau jadi pendeta nggak? Kalau kamu mau jadi pendeta berarti saya nggak mau.” Siapa bilang, siapa yang mau jadi pendeta? Saya nggak mau. Setelah lulus SMA, saya masuk pendaftaran dan testing di perguruan tinggi dan diterima.

Ketika saya bersyukur, tiba-tiba Tuhan berbicara di dalam hati nurani saya supaya saya masuk sekolah Alkitab. Saya gelisah berhari-hari, makan tidak enak, tidak tidak nyenyak. Pada saat makan tidak bisa tidur tidak bisa. Akhirnya saya menyerah dan berkata, “Tuhan kalau saya bertempur dengan Engkau berarti saya kalah. Ya udah saya nyerah” Saya masuk sekolah Alkitab, tetapi saya tidak berani bicara kepada pacar saya karena dia kan sudah bilang, “Awas ya kalau kamu mau jadi pendeta saya nggak mau kawin sama pendeta jadi hubungan kita putus.” Saya diam-diam saja tetapi sampai menjelang hari H saya masuk ke sekolah Alkitab.

Eh ternyata  Tuhan itu luar biasa, pacar saya itu, dalam kesempatan yang berbeda, mengalami rasa sakit luar biasa pada bagian perutnya. Saya berpikir, “Kemungkinan adalah sakit usus buntu tetapi rasa nyeri yang luar biasa” sehingga dia teriak, “Tuhan kalau sembuhkan saya, saya bisa tidur malam ini, saya mau deh melayani Tuhan, dipakai Tuhan menjadi hamba Tuhan juga mau.” Biasakan kalau orang sedang susah, ada masalah  banyak janji kepada Tuhan. eh langsung Tuhan menjamah dan menjadi sembuh. Keesokan paginya setelah bangun dia menjadi bingung, “Aduh! Saya sudah bernazar kepada Tuhan. Akhirnya dia mengungkapkannya kepada orang tuanya, “Boleh nggak pa, saya masuk sekolah Alkitab?” Orang tuanya menjadi bingung saudara karena tidak ada anaknya yang menjadi hamba Tuhan.

Akhirnya dia berkata, “Kalau memang itu jadi kehendak Tuhan terserah kamu saja.” Dia nggak berani ngomong kepada saya kan gengsi dong sudah mengancam-ngancam nggak mau kawin dengan pendeta. Sekarang dia mau jadi pendeta dan mau sekolah Alkitab. Akhirnya menjelang hari Natal saya baru mengungkapkan kepadanya, “Saya kan sudah janji saya tidak akan menjadi hamba Tuhan tetapi Tuhan memanggil saya. Jadi terserah kamu teruskan atau tidak”. Tiba-tiba dia berkata, “Saya juga mau menjadi hamba Tuhan.” akhirnya kami masuk sekolah Alkitab yang sama di kota Jakarta. Kami diwisuda setelah 4 tahun kemudian. Dua minggu setelah diwisuda, kami menikah. Dulu saya berpikir bahwa menikah itu enak tetapi ternyata saaangaattt…enak begitu kita berjumpa dengan orang yang dikehendaki Tuhan. Halleluya!

Faktor doa sangat penting. Begitu juga untuk orang yang sudah menikah. Rumah tangga bahagia adalah rumah tangga di mana ada  unsur doa di sana, altar keluarga dan mesbah doa keluarga yang harus kita selalu panjatkan kepada tuhan. Sebab, apabila dua orang di dunia sepakat minta apa saja permintaannya akan dikabulkan oleh Tuhan. saudara, kalau engkau ingin punya rumah tangga yang bahagia, pastikan sesering mungkin engkau berdoa. Suami, isteri, orang tua, dan anak berdoa bareng maka kuasa Tuhan akan bekerja. Halleluya!