Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 08

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 08

Pilar Kasih Yang Sejati

                “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan jangalah berlaku kasar terhadap itu” (Kolose 3: 19).

Di dalam Titus 2: 4, dikatakan bahwa perempuan-perempuan yang lebih tua mendidik perempuan-perempuan yang lebih muda untuk mengasihi suaminya. Sebab, kasih merupakan pilar yang kokoh bagi pernikahan. Namun kasih itu tidak terjadi secara otomatis ketika saudara mengucapkan janji pernikahan dengan melingkarkan cincin di jari manis pasangan hidup kita. Kasih itu harus diusahakan. Memang ada perbedaan antara kasih orang yang masih berpacaran dengan orang yang sudah menikah. Kalau orang yang sedang berpacaran itu kasihnya kasih yang romantis dan masih berbunga-bunga. Kesenggol tangannya saja sudah serrr rasanya. Jantungnya berdebar-debar, wah, rasanya rindu ingin selalu bertemu.

Namun kalau sudah menikah, coba anda memegang tangan suami atau isteri anda rasanya sudah tidak ada lagi serrr di jantung. Lalu apakah itu berarti cinta kita sudah memudar? Tidak! Sebab kasih yang romantis dalam pernikahan harus berubah menjadi kasih yang praktis. Bagaimanakah kasih yang praktis? Suami kasih dong uang belanja kepada isterimu, bantulah dia membersihkan rumah kalau pembantu sedang pulang karena liburan. Jadi ada sesuatu yang nyata dalam kehidupan rumah tangga.

Di dalam 1 Korintus 13: 4-8, di sana terdapat deskripsi tentang kasih yang sejati. Kasih yang sejati itu bukan “jikalau” tetapi “walaupun”, artinya kasih sejati itu tanpa syarat. Jangan berkata demikian, “Kalau kamu cantik, saya cinta. Kalau kamu kaya, saya cinta.” Namun kalau sudah jelek, tidak kaya, sori saja” Namun kasih yang “walaupun” itu walaupun engkau memiliki kekurangan dan kelemahan, aku tetap mengasihimu sebagaimana engkau apa adanya.

Firman Allah itu berkata, “Kasiah itu sabar, artinya suka memaafkan kealpaan dari pasangan kita. Kasih itu murah hati, artinya suka memberi. Kalau pulang dari kantor atau dari luar kota, beri dong hadiah atau oleh-oleh bagi pasangan hidup kita. Kasih itu tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Jangan berkata kepada pasanganmu, “Kamu dapat saya itu anugerah, saya dapat kamu itu musibah”. Tentu itu sangat melukai pasangan kita. Kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, misalnya memaki-maki, apalagi memukul isteri kita. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, artinya tidak egois tetapi mau membantu semampu kita kalau dia sedang kesusahan.

Kadang-kadang saya melihat suami isteri keluar dari mall untuk belanja. Isteri membawa kantong kresek dua di tangan kirinya, tiga di tangan kanannya sehingga keberatan. Suaminya jalan santai-santai saja sambil menenteng handphonenya yang kecil. Ini kan, berarti egois. Kasih itu tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, artinya dia mau mengampuni, melupakan dan tidak suka mengungkit-ungkit. Tidak suka dengan ketidakadilan juga merupakan wujud dari kasih. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, artinya kasih sejati itu melindungi, percaya, mempunyai pengharapan, tekun menghadapi kesulitan.

Bahkan ada firman yang berkata bahwa kasih tidak berkesudahan kekal sampai selamanya. Kalau kasih anda sudah mulai memudar karena terlalu banyak percekcokan antara satu dengan yang lain, berdoalah pada hari ini, “Tuhan, alirkanlah kasihMu di dalam hatiku.” Jangan memikirkan perceraian tetapi bagaimana anda datang di bawah kaki Tuhan agar Tuhan memberi pemulihan, hidup rukun dan damai sejahtera mengalir ke dalam keluarga anda. Allah yang menciptakan saudara adalah Allah yang sanggup memelihara bahkan memulihkan pernikahan saudara. Mintalah kepadaNya, maka kasih sejati akan membaharui kehidupan kita.