Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 12

Keluarga yang Kokoh : Pilar-Pilar Keluarga 12

Memiliki Kualitas komunikasi

Hal lain yang dibutuhkan di dalam keluarga adalah kualitas komunikasi. Sebab kalau pasangan tersebut sudah banyak berbicara tetapi diwarnai dengan percekcokan tentu rumah tangganya juga tidak merasa bahagia. Nah, kualitas komunikasi mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian antara satu dengan yang lain. Ada banyak orang bisa mendengar tetapi tidak mendengarkan artinya, tidak memberi perhatian serius kepada apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Ada suami yang kalau diajak omong isterinya hanya mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya!” tetapi matanya tetap terarah pada televisi atau matanya tetap terarah pada koran yang dibaca. Seharusnya ketika kita mendengarkan, kita harus mengubah posisi tubuh. Dari menghadap ke televisi menjadi menghadap ke lawan bicara kita. Sebab, setiap orang itu ingin didengarkan dan kita perlu memperhatikan perhatian ini.

Selain itu, kita juga harus belajar berbicara dengan bijaksana. Kalau anda tidak setuju dengan pasangan hidupmu jangan membisu. Kadang-kadang ada orang bilang, “Kau harus tahu apa perasaan saya. Kalau saya tidak berbicara kepadanya, dia harus ngerti sendiri.” Saya mau katakan, “Tidak bisa! Kita harus mengungkapkan isi hati kita ke dalam perkataan-perkataan supaya kita juga dimengerti. Jangan di simpan di hati saja. Kita juga harus menggunakan kata-kata dengan baik, jangan menggunakan kata-kata kasar apalagi cerewet sehingga membuat hati menjadi panas. Di dalam Amsal 21: 9 Salomo berkata, “Lebih baik tinggal pada sudut rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” Sedangkan pada ayat 19 tertulis, “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.” Tuhan ingin kita menggunakan kata yang melembutkan hati, baik, dan membangun di dalam keluarga.

Di dalam Amsal 15: 1 tertulis, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Anda tahu bahwa menurut pakar komunikasi 90% konflik di dalam pernikahan terjadi bukan karena adanya suatu masalah tetapi karena nada suara yang salah. Banyak orang yang bertengkar karena nada bicaranya terlalu tinggi. Sebetulnya tidak marah tetapi bicaranya seperti orang yang sedang marah-marah.

Karena itu, belajarlah mengucapkan kata-kata dengan lebih lembut. Kalau anda marah, maralah dengan nada suara yang rendah. Kalau anda marah dengan nada suara yang rendah, maka saya yakin tidak terlalu banyak konflik yang timbul.

Belajarlah mengucapkan kata-kata yang membangun, penuh penghargaan, belajarlah memuji satu dengan yang lain karena akan menyegarkan hati kita. Jangan menggunakan kata-kata yang tajam apalagi yang menyinggung keluarga, seperti pasangan hidup saudara. Kalau anda marah, jangan berkata, “Kamu tolol seperti ibumu! Sudah gembrot, makan melulu!” Namun pergunakan kata-kata yang baik dan menghargai karena semua orang senang mendengarkan kata-kata yang indah. Pergunakan kata-kata yang mesra.

Saya heran kadang-kadang anak SMP sekarang kalau lagi pacaran, aduh mesra sekali! Cara memanggilnya saja sudah “papi” dan “mami”. “Papi, kita mau kemana?” “Ah, terserah mami saja.” Padahal masih SMP lho, pergi ke sekolah saja masih memakai celana pendek tetapi sudah memakai “papi” dan “mami”. Lho, yang saya heran, orang yang sudah berkeluarga cara memanggilnya bukan papi dan mami, tetapi “sini” atau “situ”. “Situ mau makan tidak?” kalau situ mau makan, situ ke sini, sini mau ke situ.” Itu tidak terlalu baik. Mari kita belajar meningkatkan kuantitas komunikasi dan kualitas komunikasi itu sendiri. Komunikasi yang terbuka menyebabkan kebahagiaan di dalam keluarga. Apa pun masalah bisa datang tetapi kalau kita bisa membicarakannya secara terbuka tentulah kebahagiaan akan kita alami.