Penerimaan dan Penghargaan 02

Penerimaan dan Penghargaan 02

Sebab-Sebab Anak Kurang Merasa Diterima

Dikritik Terus-Menerus

Ada ungkapan yang berkata “when I do something good no one remember, but when I do something bad no one forget”

Kalau akan melakukan sesuatu yang baik tak seorangpun yang mengingatnya tetapi kalau saya melakukan sesuatu yang buruk tak seorangpun melupakannya. Nah, kalau orang memiliki pengalaman seperti ini ketika dia mengalami hal yang negatif dia dicerca, di caci maki tetapi ketika dia melakukan hal yang baik tidak ada orang yang memujinya maka dia akan terpuruk di dalam situasi jiwa yang tidak menyenangkan. Para ahli ilmu jiwa mengatakan bahwa seseorang membutuhkan 4 pujian dibanding 1 kritikan sehingga jiwanya akan berkembang. Namun kenyataan menunjukkan ada lebih banyak orang yang mengalami cercaan dan kritikan dibandingkan pujian sehingga dia tidak bertumbuh di dalam kondisi jiwa yang baik. Jadi anak merasa kurang diterima kalau dikritik terus menerus.

Membandingkan Anak yang Satu Dengan Anak yang Lain

Sering kali orang tua membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain terutama dengan anak yang lebih berhasil. Mungkin motivasinya dengan membandingkan ini adalah untuk memacu anak yang tidak terlalu pintar atau tidak terlalu berhasil ini supaya menjadi lebih baik. Namun kenyataannya berbeda dengan anak yang dibandingkan dengan anak yang lain yang lebih berhasil justru akan terasa lebih minder, merasa dirinya gagal dan dia akan melakukan sesuatu yang negatif untuk menunjukkan bahwa dia pun tidak kalah dengan saudaranya yang lain itu. Saya teringat di AS pernah ada seorang anak yang membunuh orang-tua di sebuah taman. Anak muda ini menusuk orang tua itu dengan 65 kali tikaman sampai ketika polisi datang dia tidak melarikan diri dan ketika polisi bertanya, “Siapa yang kamu bunuh?” Dia berkata, “I don’t know.” Mengapa kamu melakukan hal ini?” I don’t know…saya tidak tahu…” Namun ketika didesak anak ini berkata, “OK, kalau engkau mau tahu saya punya seorang kakak yang jauh lebih cerdas, lebih gagah, lebih disukai banyak wanita dan lebih dari segala-galanya daripada saya dan ibu saya selalu berkata, mengapa kamu tidak seterkenal kakak kamu itu.”

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, kalau saya berlomba dengan kakak saya dalam hal positif saya tidak bisa menyainginya karena itu saya membunuh orang tua saya dengan sadis. Nama saya akan segera masuk  di koran, saya akan lebih populer dari pada kakak saya.”

Oh, sangat menyedihkan sekali! Mengapa? Dia mencari dengan cara yang negatif untuk lebih populer dari pada kakaknya. Anak ini kurang penerimaan karena dia dibandingkan dengan orang yang lain.

Tidak Sesuai Dengan yang Diinginkan Orang Tua

Anak merasa kurang diterima karena orang tua mengharapkan anaknya untuk mencapai impian orang tuanya. Untuk itu tidak segan-segan orang tua memaksakan kehendaknya. Ada orang tua yang berkata seperti ini, “Pokoknya kamu harus jadi dokter karena dulu papa ingin jadi dokter tetapi tidak berhasil karena orang tuaku tidak punya uang. Sekarang papa punya uang jadi sekarang kamu harus menjadi dokter. Namun anaknya berkata, “Pa, saya ingin menjadi pelukis”. “Hah? Pelukis? Makan apa kamu! Pokoknya kalau kamu tidak mau jadi dokter kamu kurang ajar sama orang tua.”

Akhirnya, anak itu terpaksa belajar di fakultas kedokteran padahal dia kurang terlalu menyukai bidang itu. Setelah sekian tahun, dia berhasil diwisuda. Pada waktu upacara wisuda ayahnya sangat bangga ketika anaknya sedang berjalan maju. Kemudian, rektor memindahkan tali pada topi yang dipakai si anak tersebut yang menunjukkan bahwa dia sudah lulus. Wah, ayahnya merasa bahwa dia melihat dirinya yang harusnya berjalan dan diwisuda pada hari ini.

Setelah semuanya usai, anak ini datang kepada Papa dan berkata, “Pa, apakah papa senang saya sudah diwisuda?”. “Oh, senang sekali kamu sudah melakukan apa yang papa katakan kepadamu.” Lalu si anak berkata, “OK, papa sekarang keinginan papa sudah terlaksana. Saya sudah menjadi dokter. Nah sekarang ini baju saya, ini toga saya, ini ijazahnya. Sekarang pa, ijinkan saya menjadi seorang pelukis. Saya akan tetap melakukan apa yang saya inginkan setelah saya menyelesaikan apa yang papa paksakan dalam hidup saya, yaitu menjadi dokter.” Ayahnya kaget, tetapi masih untung tidak pingsan.

Karena itu, jangan memaksakan anak kita untuk melakukan sesuatu demi ego atau gengsi kita. Kadang-kadang ada orang tua yang memaksa anaknya selalu memiliki nilai yang terbaik. Kalau anaknya mendapat nilai 8, kenapa tidak 9? Kalau mendapat nilai 9, kenapa nggak 10? Kalau dapat 10 mungkin saja dia bilang kenapa tidak 11? Pokoknya anak harus mencapai nilai maksimal padahal dulu orang tuanya tidak pernah menjadi juara. Dari mana cadangan IQ-nya diberikan kepada anaknya. Kadang-kadang orangtua juga memberikan anak-anak bermacam-macam les dari senen sampai sabtu kepada anak-anaknya, sampai anak itu menjadi frustasi. Tujuannya mungkin bukan demi kebaikkan si anak tetapi demi gengsi orang tua. Saya memperhatikan kadang-kadang kalau anak SD mau ulangan umum yang banyak ribut justru ibunya bukan anaknya. Ibunya ribut sana sini. Kenapa? Cari bocoran soal untuk dibeli. Berapapun harganya agar anaknya mempunyai nilai bagus. Sebab kalau nilainya jelek, ibunya yang malu. Wah, jelas ini adalah hal yang tidak benar dan tidak baik.

 

Iklan