Penerimaan dan Penghargaan 04

Penerimaan dan Penghargaan 04

Cara-Cara Menghargai

Mengajari Anak Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Pengajaran itu akan membuat mereka merasa diperlukan, merasa dihargai. Berilah tanggung jawab kepada mereka secara bertahap. Tentu bagi anak kecil tidak bisa yang terlalu berat tetapi disesuaikan dengan pertumbuhan usia mereka.

Belajar memuji

Belajar untuk memuji mereka bukan karena hasil yang sempurna tetapi usaha yang mereka lakukan. Saya teringat ketika anak saya yang masih kecil kalau ada tamu datang mengunjungi rumah kami, anak saya sering berebut dengan pembantu rumah tangga untuk membawa minuman bagi saya dan tamu itu. Pada waktu itu dia belum terlalu besar. Ketika dia mulai menyiapkan minuman dan membawanya dengan baki kadang-kadang dia harus jalan pelan-pelan. Terkadang airnya agak tumpah sini – tumpah sana. Pembantu selalu merebut dengan dia dan dia sambil berkata, “Nggak saya yang mau kasih ke papi.” Setelah dia sampai ke ruangan tamu, dia mengambil cangkir yang kedua untuk tamu sambil berkata, “Silakan minum” Saya berkata kepadanya, “Aduh, terima kasih ya…kamu piiinttaaar sekali. Kamu luar biasa”. Padahal cangkir itu isinya tinggal setengah karena airnya sudah tercecer ke mana-mana tetapi saya memuji dia bukan karena hasil yang sempurna tetapi karena dia berusaha untuk menyenangkan hati saya sebagai orang tuanya dengan memberikan minuman ketika ada tamu.

Memperkenalkan Nama

Hal lain yang bisa membuat anak merasa dihargai adalah perkenalkanlah nama anak-anak saudara sesuai dengan nama mereka masing-masing. Nama adalah kata yang terindah yang bisa didengar oleh seseorang. Sebab itu, ucapkanlah nama anak-anak kita ketika ada tamu. Perkenalkan mereka sehingga merasa bahwa aku adalah seorang yang berharga karena aku dikenal sebagai pribadi. Kita juga bisa menghargai anak kita ketika kita mengijinkan anak kita berbicara untuk mereka sendiri.

Kita tidak perlu selalu menjawab atas nama anak kita karena mereka bisa melakukannya sendiri. Kalau kita melakukan hal itu kita menganggap anak kita tidak berarti, tidak layak untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Kalau anak itu masih belum bisa ngomong misalnya usia satu tahun kurang, kemudian ada yang bertanya, “Hei, siapa namanya?” si ibu atau si ayah berusaha menirukan suara anak kecil dan berkata, “Namanya Susi.” Namun kalau anak itu sudah dewasa, sudah berumur 17 tahun misalnya, kemudian ada orang yang bertanya, “Siapa nama anaknya?” tetapi ibunya yang menjawab, “Namanya Susi”. Lho, kan anaknya bisa menjawab sendiri. Kalau si ibu yang melakukan, dia menganggap bahwa anaknya tidak layak untuk berbicara untuk dirinya sendiri.

Saya teringat suatu saat ada seorang yang melamar menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia yang saya pimpin. Ketika dia datang bersama orang tuanya, saya bertanya, “Apa motivasimu datang ke Sekolah Theologia dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Namun semua pertanyaan yang diajukan selalu di jawab oleh bapaknya, “Oh, anak saya begini-begitu, begini-begitu.” Anaknya diam saja tidak berbicara sepatah katapun.

Kemudian saya bertanya, “Pak, maafkan saya, saya harus menanyai atau mewawancarai anak bapak secara langsung”. Namun ayahnya berkata, “Tidak perlu biar saya yang menjawab karena saya yang lebih tahu anak saya daripada dia”. Waduh, saya jadi kaget. Kemudian, saya berkata, “Maaf pak, saya tetap harus berbincang kepada anak bapak secara langsung”. Jadi bagaimana kalau bapak tunggu sebentar di sini, saya dan anak bapak akan pergi ke ruang yang lain.”

Saya mengajak anak itu dan bertanya. Akhirnya, dia berkata, “Sebenarnya pak, saya itu tidak mau masuk ke Sekolah Theologia karena saya punya cita-cita bukan menjadi pendeta tetapi menjadi seorang pengusaha.”

Dia menceritakan bagaimana ayahnya yang selalu memaksakannya masuk ke Sekolah Alkitab. Akhirnya, saya berkata, “Ya, udah kalau memang kamu tidak ada panggilan untuk menjadi pendeta, kamu tidak usah masuk Sekolah Theologia.”

Saya kembali ke ruangan tersebut dan berkata, “Pak, setelah saya bicara rupanya anak bapak belum siap untuk masuk Sekolah Theologia.”

Dia menjadi sangat marah. Dia marah kepada anaknya, “Kamu bikin malu saya, bukankah sudah diumumkan bahwa kamu itu akan masuk Sekolah Theologia di mana papa akan taruh muka dan sebagainya”

Dia juga marah kepada saya, dia berkata, “Bapak tidak mendorong anak saya masuk Sekolah Theologia malah sebaliknya menghalang-halangi”

Lalu, saya berkata, “Bukan menghalangi pak tetapi setiap anak berhak untuk menentukan tujuan hidupnya.”

Akhirnya, mereka pulang kerumah. Dia tidak jadi masuk sekolah.

Saya sedih karena ternyata ada banyak orang tua yang tidak mengijinkan anak bicara atas diri mereka sendiri dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Namun kalau saudara ingin menghargai anak, anda harus mengijinkan mereka berbicara untuk diri mereka sendiri. Kita bisa membuat seorang anak merasa berharga ketika kita meluangkan waktu untuk mereka. Tahukah anda bahwa kasih kepada seorang anak ditentukan oleh waktu. Kita bisa berbicara saya mengasihi anak saya tetapi kalau kita tidak pernah memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk berdialog, mengobrol, bercengkrama sebenarnya kita hanya mengasihi secara teori tetapi tidak diwujudkan di dalam tindakan. Kita akan menghargai anak kita ketika kita meluangkan waktu untuk mereka.

Pada suatu saat ada seorang ayah yang rajin sekali mencuci atau merawat mobilnya lalu anaknya yang masih kecil berkata, “Pa, kenapa papa rajin sekali merawat mobil?”. “Oh, nak..mobil ini harganya mahal jadi harus dirawat sebab kalau nanti dijual harganya bisa mahal kalau dirawat dengan baik.” Tiba-tiba si anak berkata, “Pa, rasanya saya tidak terlalu berharga dibandingkan mobil ini ya karena papa banyak memberi waktu untuk merawat mobil tetapi jarang mengobrol dengan saya.” Ayah itu menjadi terpukau karena memang sekali lagi, kasih kepada seorang anak ditentukan oleh waktu.

Ada beberapa banyak suami-isteri masing-masing bekerja karena mereka berpikir mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak kalau dua-duanya bekerja. Uang itu untuk kesejahteraan anak-anak mereka bukan? Padahal yang dibutuhkan seorang anak lebih dari sekedar uang. Dia membutuhkan perhatian baik kalau suami bekerja maupun isteri yang mengatur anak di rumah sebagai ibu rumah tangga. Saya mau mengatakan kalau ada ibu rumah tangga yang membaca ajaran ini dan suatu saat ditanya orang, “Apakah pekerjaan anda?”.  Jangan menjadi minder sambil berkata, “Oh, saya Cuma ibu rumah tangga.” Anda tahu bahwa ibu rumah tangga itu bukan sekadar ibu rumah tangga tetapi merupakan suatu panggilan pekerjaan yang sangat mulia. Sebab, anda sudah menginvestasikan waktu bukan untuk meraih uang tetapi menginvestasikan waktu untuk mendidik anak-anak. Anak adalah harta yang paling berharga dari seluruh uang yang bisa anda dapatkan. Mari kita belajar menghargai anak kita dan penghargaan ini akan dirasakan ketika kita memberikan waktu untuk bersama-sama dengan mereka.

Doa saya kepada anda semua agar menjadi orang tua yang baik yang diberkati oleh Tuhan. Anak-anakmu akan menjadi orang yang perkasa. Tuhan Yesus memberkati saudara. Amin.