Penerimaan dan Penghargaan 13

Penerimaan dan Penghargaan 13

Membutuhkan Disiplin

Disiplin akan membuat seseorang menjadi bertanggung jawab. Ada banyak orang yang tidak bertanggung jawab pada hidupnya. Mengapa? Karena, tidak pernah belajar tentang nilai disiplin pada masa kecilnya.

Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinannya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Amsal 6: 20-23).

Firman Tuhan mengatakan bahwa teguran yang mendidik itu merupakan jalan kehidupan. Kalau kita ingin anak kita memiliki jalan kehidupan yang baik maka kita harus memberikan teguran yang mendidik. Kita harus mendisplinkan ketika dibutuhkan. Cinta dan pujian adalah yang baik untuk mengembangkan kepribadian seseorang. Namun itu tidak cukup karena anak pun membutuhkan disiplin. Seorang anak dengan kebebasan yang tidak terbatas akan menjadi curiga karena dia merasa tidak dicintai. Sebab, kalau orang dibiarkan melakukan apa saja yang dia mau maka dia akan merasa diabaikan. Orang tuanya tidak peduli terhadap anak tersebut.

Disiplin yang tepat sangat diperlukan seorang anak. Anak perlu mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Ada batasan yang jelas untuk tingkah lakunya dan itu akan memberikan rasa aman di dalam jiwanya. Kita bisa memberikan perintah kepada anak kita, “Kalau pulang, jangan lebih dari jam sembilan malam. Kalau pulang dari sekolah harus pulang dulu ke rumah, jangan main-main, kamu boleh main ke rumah teman tetapi mesti lebih dulu pulang ke rumah.” Itu merupakan salah satu jenis garis teguran yang kita berikan. Arahan yang kita sampaikan kepada anak-anak. Sebab kalau anak-anak tidak dipedulikan, terserah dia mau pulang jam berapapun, mau pulang subuh silakan. Itu berarti orang tua ternyata tidak mencintai anaknya. Disiplin juga meliputi pembentukan sifat anak secara keseluruhan, baik melalui pemberian semangat pada tingkah laku yang posirif, maupun koreksi dan pembetulan untuk tingkah laku yang salah.

Di dalam Amsal 29: 15 tertulis, “Tongkat dan teguran mendatangkan  hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Ibu harus selalu mendidik anak hari lepas hari sesuai dengan policy atau kebijaksanaan dan instruksi dari suami. Kalau anak dibiarkan saja maka akan mempermalukan ibunya. Saya ingat suatu saat ada seorang anak bertamu ke rumah dengan berkata, “Wah nakalnya luar biasa, dia bisa naik meja, ambil semua makanan, dimakan sedikit setelah itu dibuang.” Ibunya hanya berdiam diri saja. Anak ini mempermalukan ibunya. Sedangkan di dalam ayat 17 tertulis, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu dan mendatangkan sukacita kepadamu,” Kalau perbuatan tidak baik, tidak segera disiplin maka anak itu akan menjadi liar, menjadi liar dan tidak bisa diarahkan lagi.

Selama anda masih punya otoritas untuk mengarahkan anak, didiklah dia. Bahkan kadang-kadang dengan kerasa. Pakailah rotan dan pukul pada pantatnya. Jangan menggunakan tanganmu ntuk menempeleng atau menjitak kepalanya. Tangan hanya untuk mengelus dan membelai. Jangan menggunakan sabuk untuk menghajar tubuhnya karena bisa membahayakan dirinya secara fisik, tetapi ambillah rotan yang kecil. Memang pedas kalau dipukulkan tetapi tidak berbahaya. Kalau memukul jangan pada mukanya tetapi pada pantatnya sehingga dia menyadari bahwa ia membutuhkan disiplin. Tongkat dan didikan mendatangkan hikmat dan akan memberikan ketentraman serta sukacita karena kita melakukan disiplin bukan karena kita membenci tetapi justru karena kita mencintai anak kita.

Kita harus mengetahui bahwa ada sifat keras di dalam kasih. Sifat keras itu adalah disiplin. Mungkin ada sifat lunak dari kasih yang bisa kita lakukan. Kita bisa mengasihi dan mencintainya. Kita bisa memberikan penghargaan kepadanya. Kita bisa memuji anak kita tetapi jangan lupa disiplin merupakan sisi keras dari kasih, seperti, dua sisi mata uang logam. Kita harus memberikan keduanya kepada anak kita. Kasih itu bisa berarti mencintai tetapi kasih juga bisa berarti menegur dan mendisiplin, melakukan disiplin yang baik.