Penerimaan dan Penghargaan 15

Penerimaan dan Penghargaan 15

Disiplin Yang Salah

Jangan menghukum mereka dengan membuat mereka melakukan hal-hal yang seharusnya mereka nikmati. Misalnya, orang tua jangan memaksa anak untuk membaca Alkitab sebagai hukuman. Mengapa? Sebab, Alkitab itu harus dibaca sebagai sesuatu yang dinikmati dan menyenangkan bukan sebagai hukuman. “Awas, ya kalau kamu nakal. Papa suruh kamu baca Alkitab.” Ini sangat keliru. Atau, “Awas ya…kalau kamu nakal…Papa akan suruh kamu membersihkan rumah”. Sebab membersihkan rumah bukan hukuman tetapi membersihkan rumah adalah pekerjaan positif yang harus dilakukan.

Hukuman mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang setiap hari mereka bisa nikmati, “Awas ya…kalau kamu nakal, kamu tidak boleh nonton TV malam ini”. Nah itu adalah satu jenis hukuman karena mereka biasanya menonton TV. Kalau mereka salah maka mereka tidak bisa menikmati apa yang biasanya mereka lakukan, yaitu menonton TV. Kemudian, kita harus menetapkan peraturan sesedikit mungkin tetapi menerapkan peraturan yang sudah ditetapkan itu secara konsisten dan konsekuen. Peraturan jangan terlalu banyak dan membingungkan, sedikit saja tetapi betul-betul diterapkan dan dilakukan sehingga si anak akan bertumbuh sebagai pribadi yang baik, matang dan bertanggung jawab. Disiplin yang baik akan mengembangkan rasa hormat kepada orang tua. Komunikasi justru sering kali menjadi baik setelah hukuman dijatuhkan. Hukuman yang positif didasarkan pada kasih bukan karena kebencian. Karena kita bisa memeluk dan menjelaskan kepada anak kita, mengapa mereka dihukum.

Di dalam Wahyu 3: 19 tertulis, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Tuhan berkata orang yang Kukasihi apabila dia salah akan ditegur, dihajar supaya dia bertobat mengubah perilaku yang keliru…Saya teringat satu kali anak saya, pada waktu itu masih kecil usianya kira-kira 3 atau 4 tahun, sedang menonton TV terus. Saya memanggil, “Jessica, mandi!”. Namun Dia menjawab, “Nanti, Pi lagi nonton.”. “Iya deh sudah film ini ya”. Namun setelah filmnya berakhir, ia masih tetap ngga mau mandi. “Ayo mandi!”. “Ngga…ngga mau!” Saya bilang, “Jessi…Papi sayang Jessi tapi kalau Jessi tidak nurut Papi akan rotan pukul Jessi”. “Ngga…ngga mau mandi!”

Saya ambil rotan dan untuk pertama kali saya memukul anak saya sendiri. Sebenarnya saya melakukannya dengan hati yang pedih. Saya memukulnya pelan-pelan. Saya memukul pantatnya sambil berkata, “Ayo mandi!” karena tidak keras dan tidak sakit, dia bilang, “Ngga sakit…ngga sakit!”. Wah saya memperkeras pukulan saya. “Bak…!” Akhirnya dia mulai menangis. Kemudian, dia mulai mandi setelah mandi saya memeluk sambil berkata, “Papi  sayang Jessica tetapi nakalnya harus dikeluarkan, ya”. Sejak itu kalau mulai bandel saya menasihati dan menunjuk rotan. Dia bilang, “Udah, Pi. Jangan dipukul lagi karena nakalnya sudah keluar.” Dia bisa membedakan saya mencintainya tetapi saya tidak menyukai perbuatan yang tidak baik yang dia lakukan. Sebab itulah dia diberi disiplin.

Saya percaya kalau disiplin dilakukan dengan baik dan terarah akan membuat anak-anak kita berkembang sesuai dengan kehendak Tuhan. Marilah, kita melakukan tugas dan tanggung jawab untuk mendidik anak dengan baik. Belajarlah memberikan pujian dan penghargaan kepada mereka. Namun juga mendisplinkan mereka supaya mereka menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.

Kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada kita sebagai orang-tua untuk menjadi orang-tua yang baik. Tuhan memberkati anda. Amin.