Kebutuhan Pujian dan Disiplin

Kebutuhan Pujian dan Disiplin

Firman Tuhan di dalam Kolose 3: 20-21, demikian bunyinya, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Saudara, setiap orang tua harus menyadari bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang berat tapi sangat mulia dari Allah, yaitu untuk mendidik anak-anak kita, menjadi pribadi-pribadi yang matang dan berkembang hidup takut akan Allah. Amsal 22: 6 berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Kalau kita mendidik anak kita sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka sepanjang hidupnya dia akan hidup berkenan kepada Allah. Mungkin dia bisa jatuh, tapi dia akan bangun kembali dan ingat akan pertolongan Tuhan.

Nah, saudara, untuk bisa mendidik anak dengan baik, maka kita harus tahu bahwa setiap orang itu punya kebutuhan dasar di dalam jiwanya. Yang tidak hanya bisa dipuaskan dengan uang saja. Dengan pemenuhuan kebutuhan dasar ini sangat penting pada awal masa kehidupan seseorang, terutama pada masa anak-anak. Kalau tidak emosinya akan terganggu, kalau dia bertumbuh dia akan menjadi pribadi yang agak aneh, menjadi pasif, atau sebaliknya, menjadi agresif. Kebutuah apa saja yang dibutuhkan seorang anak terutama, sehingga dia menjadi pribadi yang berkembang dengan baik.

Ada dua hal yang saya ingin bagikan kepada kesempatan ini. Pertama, seorang anak membutuhkan pujian. Saudara-saudara, saya yakin setiap orang, bukan hanya anak kecil tapi orang dewasa, punya kehausan untuk dipuji dan dihargai. Dan seorang anak yang tidak menerima pujian secara wajar akan mencarinya dengan cara yang aneh-aneh. Lihat orang sekarang, kadang-kadang dandannya aneh-aneh, pakaiannya seronok, kenapa, karena ingin diperhatikan, karena ingin dipuji.

Tahukah saudara, bahwa satu ons pujian itu lebih berharga dariapada 1 ton sikap menyalahkan. Saya membaca di dalam Alkitab, ketika Paulus menulis surat kepada jemaat-jemaat yang dia layani. Dia selalu memulainya dengan pujian. Walaupun mungkin dia mengkritik, mencela, menasehati, menegur dengan keras. Tetapi selalu diawali dengan pujian. “Aku mengucap syukur kepada Allah, setiap kali aku mengingat akan Engkau.” Bahkan ketika Yesus memberikan surat kepada 7 sidang jemaat di Asia kecil dalam kitab Wahyu, Dia selalu mengawalinya dengan pujian, dan walaupun ada teguran yang keras. Dia mengakhirinya dengan janji bagi orang yang menang, bagi orang yang taat, melakukan apa yang Dia nasihatkan, maka ada berkat allah yang dia dapatkan.

Tahukan saudara, untuk berkembang seseorang membutuhkan empat pujian dibandingkan sebuah kritikan. Tetapi masalah timbul karena pada kenyataannya banyak orang mendapatkan 10 kritikan berbanding dengan sebuah pujian saja. Saudara, kita harus belajar memuji anak-anak kita. Kita tidak mencintai dan memuji anak kita untuk apa adanya, tetapi untuk apa yang kita harapkan dari hidup mereka.

 

Iklan