Penghambat Kebahagian Keluarga 01

Penghambat Kebahagian Keluarga 01

Saya yakin kita semua ingin memiliki rumah tangga yang bahagia dan diberkati oleh Tuhan tetapi ternyata untuk mewujudkan kebahagiaan dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang gampang dan sederhana karena banyak hambatan yang berusaha merusak kebahagiaan keluarga kita. Karena itu di dalam Kidung Agung yang merupakan surat cinta antara Salomo dan Sulami; mempelai pria mengingatkan mempelai wanita akan adanya masalah yang harus diatasi di dalam hubungan mereka.

Sebab, walaupun masalahnya kelihatan kecil tetapi dapat berdampak secara serius sehingga mengganggu hubungan pernikahan. Dia berkata, “Tangkaplah rubah-rubah itu, rubah-rubah kecil yang merusak kebun anggur”. Saya mengajak saudara untuk melihat beberapa penghambat kebahagiaan keluarga dan bagaimana cara mengatasinya sesuai dengan firman.

TIDAK ADANYA KECOCOKAN

Ada berapa banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian dan kemudian ditanya, “Mengapa anda bercerai?”. Jawabannya, “Karena sudah tidak cocok satu dengan yang lain.” Kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang cocok. Manusia itu berbeda satu dengan yang lain termasuk yang sudah menikah. Pepatah berkata, “Asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu kuali”. Walaupun bertemu dalam satu kuali tetapi asalnya tetap lain, asam dari gunung dan garam dari laut. Maksudnya kita memang berbeda dan perbedaan-perbedaan kecil itu dapat menjadi penyedap bumbu yang sedap dalam pernikahan. Sebab, kita bisa saling melengkapi satu dengan yang lain.

Apabila anda sudah menikah, seleranya terkadang tidak sama. Suami doyan daging, isteri doyan sayur. Namun perbedaan itu jangan kita pertentangkan. Bayangkan kalau isteri berkata, “Pa, kamu kaya anjing herder kalau makan mesti ada daging.” Suaminya marah dan berkata, “Masih mending aku dibanding kamu yang suka makan sayur kayak kambing.” Memang perbedaan-perbedaan itu pasti ada di dalam sebuah pernikahan. Memang perbedaan yang terlalu besar akan menimbulkan kesulitan untuk kecocokan diantara pasangan ini.

Mengapa manusia modern merestui masa pacaran di antara anak-anak mereka? Karena, tujuannya adalah agar mengenal sifat pasangannya. Apabila keduanya merasa cocok dapat melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun apabila ditemukan ketidakcocokan yang mendasar maka mereka tidak menikah. Karena itu, kalau pacaran bukalah mata selebar-lebarnya tetapi kalau sudah menikah tutuplah mata serapat-rapatnya. Sebab, kalau sudah menikah kita tidak bisa bercerai walaupun kita merasa tidak cocok lagi.

Mungkin anda berpikir saya sudah menikahi orang yang salah. Orang ini keras kepala sekali. Bukan waktunya lagi untuk berpraduga karena komitmen hidup sudah dibuat ketika kita sudah masuk dalam pernikahan. Kalau saudara berpikir janga-jangan pasangan saya bukan jodoh dari Tuhan. Artinya, anda memiliki motivasi yang kurang baik karena ingin mengganti teman hidup. Mungkin ada juga pernikahan yang bukan dijodohkan Tuhan. Maksudnya, Tuhan tidak dilibatkan dalam perencanaannya. Kita melakukan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun kalau pernikahan sudah dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku maka pernikahan itu sifatnya sudah sah dan ikatan tidak bisa dilepaskan. Bahkan diberkati di dalam nama Yesus. Tidak ada pendeta yang berkata, “Di dalam nama Yesus aku ceraikan suami-isteri ini.”

Nah, di dalam pernikahan yang terjadi mari kita saling mencocokan diri. Saya yakin pernikahan yang bahagia bukan karena kita menemukan pasangan yang cocok tetapi karena kita mau menjadi pasangan yang cocok. Janganlah kita memaksa pasangan kita yang mencocokkan diri dengan kita tetapi kitalah yang harus mencocokkan diri dengan pasangan kita. Dengan pertolongan Tuhan Yesus kita bisa melakukan semua itu.

Di dalam Alkitab, ada solusi bagaimana kalau anda merasa bahwa pernikahan anda tidak cocok dan merasa tidak pas lagi untuk hidup bersama dengan pasangan hidup saudara, tertulis di dalam Roma 15: 5-7, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”

Tuhan menginginkan kita hidup dalam kerukunan dan keharmonisan supaya kita dapat memuliakan Allah termasuk di dalam pernikahan kita. Caranya, terimalah satu akan yang lain, saling menerima itulah kuncinya untuk kita bisa cocok.

Pada suatu saat ada seorang yang bernama Zig Ziglar, dia melihat seorang pria dalam pertemuan sosial menggunakan cincin kawain ditelunjuknya. Dia merasa heran dan mendekati pria ini dan bertanya, “Pak, tidak salah memakai cincin nikah di jari telunjuk?” Pria ini berkata, “Saya tidak salah memakainya. Yang salah adalah saya menikah dengan seorang wanita yang sekarang menjadi isteriku.” Mungkin karena dia merasa kesal maka dia memakai cincin di jari telunjuk. Lalu, Zig Ziglar berkata, “Seandainya bapak menikahi wanita yang salah. Namun anda harus berpikir bahwa inilah wanita yang paling cocok yang telah anda temukan maka anda akan bahagia juga.”

Sebaliknya, sekalipun anda menikahi wanita yang paling cocok bagimu, tetapi yang anda pilih ternyata keliru sehingga anda merasa mendapatkan wanita yang salah maka anda tetap tidak akan berbahagia. Jadi yang diubah adalah pola pikirnya. Mari kita belajar saling menerima satu dengan yang lain, tidak memaksa mencocokkan diri dengan kita tetapi kitalah yang belajar mencocokkan diri dengan pasangan kita.