Penghambat Kebahagian Keluarga 02

Penghambat Kebahagian Keluarga 02

KESULITAN EKONOMI

Saya mengetahui bahwa kesulitan ekonomi menjadi pemicu retaknya hubungan suami isteri. Memang saat ini sangat sulit mencari pekerjaan tetapi kalau cinta kepada Tuhan, hidup dengan rajin dan jujur. Filipi 4: 19 menjanjikan, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Itu berarti Tuhan akan mencukupkan segala kebutuhan kita.

Ulangan 28: 13 mengatakan “….TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kau lakukan dengan setia.”

Saya teringat ketika bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Mereka tidak bisa bercocok tanam, tidak bisa berjual beli tetapi setiap hari mereka dipelihara TUHan dengan Manna, roti dari surga. Di padang gurun saja Allah memelihara. Apalagi anda yang tinggal di kota. Kesulitan ekonomi seringkali terjadi juga karena gaya hidup yang boros.

Ada suami yang begitu royal terhadap kebutuhan pribadi tetapi kikir terhadap kebutuhan isteri, sehingga isteri menderita karena dijatah uangnya. Maaf mau pergi ke gereja diberi uang 2000. Dengan perincian, 1000 untuk kolekte dan 1000 lagi untuk angkutan umum. “Lalu, kalau pulangnya?”, “Ya, jalan kaki saja”, kata suaminya. Mestinya isteri diberi uang belanja yang cukup. Selain uang belanja juga harus diberi uang saku. Isteri tidak perlu lagi membuat pertanggungjawaban karena untuk apalagi.

Saya juga tahu ada isteri kadang-kadang kurang bijaksana ketika memegang uang. Misalnya dia mengambil semua gaji suaminya, karena suaminya bekerja. Dia memakai “jurus masuk gampang keluar susah”. Kalau suaminya minta uang susahnya minta ampun tetapi kalau dia belanja royalnya luar biasa. Punya kartu kredit tinggal gesek sampai tipis karena suaminya yang akan bayar. Kalau dia pulang dari mall, 2 kantong di tangan kanan, 4 kantong di tangan kiri. Menjadi wanita perkasa karena bisa mengangkat barang. Lalu, suaminya berkata, “Aduh, ingat ma, bulan ini masih panjang harinya”. Dia berkata, “Tenang, pa, burung di udara dia pelihara apalagi kita mahluk ciptaannya”. Masalahnya kita bukan burung. Tetapi diberi hikmat dan akal budi oleh Tuhan. Bagaimana kita bisa mengatasi masalah yang berhubungan dengan keuangan.

Di dalam Ibrani 13: 5 dikatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Karena Allah telah berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. Solusinya adalah mari kita mencukupkan diri dengan segala apa yang ada pada kita. Hiduplah berpadanan dengan apa yang ada, jangan panas melilhat orang lain. Orang membeli TV baru, kita juga beli. Orang beli motor baru, kita juga beli. Padahal kita tidak membutuhkan hal itu.

Di dalam Filipi 4: 11 tertulis, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”  Tuhan menginginkan kita mampu mencukupkan diri dengan segala kondisi sehingga pada waktu kelimpahan kita tidak bermewah-mewah dan waktu kekurangan kita tidak menghujat Tuhan.

Yohanes dikenal sering mengkhotbahkan tentang pertobatan. Pada suatu saat ada orang datang untuk dibaptis dan ia mendapat pertanyaan dari prajurit-prajurit. Di dalam Lukas 3: 14 tertulis, “…..dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: ‘dan kamu, apakah yang harus kami perbuat?’ Jawab Yohanes kepada mereka: ‘Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”

Jadi, salah satu definisi pertobatan adalah mencukupkan diri dengan gaji. Kalau saudara penghasilannya 10 tetapi pengeluarannya 15, itu namanya tidak bertobat. Namun, kalau penghasilannya 10, pengeluarannya 8, itu namanya bertobat. Jangan besar pasak dari tiang atau pengeluaran daripada pemasukan tapi mari kita mencukupkan diri dengan berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Karena suami dan isteri harus mengatur keuangan dengan baik.

Caranya:

  1. Kalau anda dapat uang yang pertama bayarlah kepada Allah. Maksudnya harus menyisihkan sepuluh persen dari penghasilan bersih untuk kemuliaan Tuhan. Siapa yang mengutamakan Tuhan akan diberkati secara luar biasa.
  2. Bayar pada dirimu sendiri. Artinya, menabung, sehingga ketika mengalami masa-masa sulit, kita mempunyai dana cadangan untuk kita keluarkan, untuk mengatasi semua masalah.
  3. Biaya kehidupan sehari-hari. Misal biaya telepon, listrik, anak sekolah, perawatan rumah. Siapa yang mengelola keuangan, prinsipnya sumi adalah kepada. Isteri adalah penolong. Sumai dan isteri harus sepakat. Siapa yang paling rinci, detail, dan lihat siapa yang lebih mampu. Kalau isteri lebih bijaksana serahkan kepada isteri supaya ia bisa mengelola keuangan dengan bijaksana setiap keuangan dalam keluarga.