Penghambat Kebahagian Keluarga 03

Penghambat Kebahagian Keluarga 03

CEREWET

Memang ada orang yang sulit sekali diajak rukun dalam hidup ini dan sikap tanpa pandang bulu baik pria maupun wanita. Namun kebanyakan wanita lebih cerewet dibanding pria karena menurut survey gerakan mulut bayi wanita lebih banyak daripada gerakan mulut bayi laki-laki. Ada suami berkata, “Dulu isteri saya ketika mau kawin, dia pendiam sekali. Sekarang setelah punya anak, banyak cerewet banget ya.” Salah satu alasan wanita cerewet setelah mempunyai anak mungkin menjadi korban karena mengasuh anak-anak yang masih kecil. Sebab, anak sekarang kalau diberitahu sekali tidak nurut tetapi harus di ulang-ulang.

Nah, kadang-kadang ini sudah menjadi pola yang terbiasa berbicara kepada anak sampai 3-4 kali sehingga terkadang menjadi lupa ketika berbicara kepada suami. Karena dia merasa suaminya adalah anak yang paling besar, jadi kalau berbicara harus berulang kali, “Pa, saya tidak masak, nanti tolong beli cap cay.” Setelah suami selesai mandi, si isteri berkata lagi, “Jangan lupa lho pa.” Selesai si suami berpakaian, si isteri bicara lagi, “Jangan lupa ya pa”. kemudian, ketika si suami mau keluar naik mobil dan sampai di kantor, di telpon isterinya dan bicara lagi, “Jangan lupa lho pa.”

Biasanya kalau pria sudah kesel cepat lupa. Pulang dari kantor si suami tidak membawa makanan. Si isteri berbicara lagi, “Saya sudah ngomong berkali-kali. Kamu tidak perhatikan, masih lupa juga.” Suami berkata, “Justru kalau ngomong sekali saya ingat tetapi kalau berulang kali saya jengkel dan jadi lupa.” Itulah si cerewet.

Pencerewet bukan orang yang jahat tetapi tidak mempunyai konsep yang kurang tepat. Sebab, dia menyangka dengan kecerewetan bisa mendatangkan kebahagiaan bagi keluarga. Padahal keluarga merasa dengan kecerewetannya membuat sebal. Beberapa waktu lalu diadakan survey oleh suatu majalah tentang apa yang tidak disukai pria terhadap wanita. Hasilnya, pria tidak menyukai wanita yang:

  1. Materialistis
  2. Cerewet
  3. Suka menggosipkan orang lain

Salomo berkata, “Daripada serumah dengan perempuan yang suka bertengkar lebih baik tinggal di atas sotoh rumah atau di padang gurun.”

Rumah tangga menjadi hancur gara-gara kita tidak menguasai diri kita sendiri. Bagaimana mengatasi sifat cerewet, Mazmur 14: 3 menjelaskannya, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!”

Kita harus mengekang lidah kita sehingga menahan kata-kata yang tidak benar. Daripada cerewet, lebih baik diberitahu sesekali. Ketika menegur dengan keras seseorang harus sambil duduk, jangan sambil jalan-jalan, membersihkan rumah atau menyapu. Wah tidak tahu diri itu namanya.