Masalah Keuangan Keluarga 03

Masalah Keuangan Keluarga 03

Selisih Pendapat Tentang Penggunaan Uang

Suami dan istri mulai bertengkar soal penggunaan uang. Di dalam pernikahan atau di dalam sebuah keluarga tentu ada perbedaan pendapat antara suami dengan isteri karena pernikahan adalah proses penyatuan dua insan yang berbeda sehingga menjadi satu. Seleranya berbeda, pendapatnya berbeda, minatnya berbeda, urutan-urutan prioritasnya pun sering kali tidak sama.

Kalau dalam satu keluarga, misalnya, mempunyai uang. Isteri lebih suka membeli perhiasan. Sedangkan suami lebih suka membeli barang-barang elektronik. Kalau suami punya duit yang di beli TV layar datar atau layar tipis. Dia membeli stereo set yang baru, handphone yang canggih. Sedangkan si istri berkata kepadanya suaminya, “Pak, kalau beli barang elektronik begitu sampai rumah turun harganya. Mendingan beli emas batangan.” Lalu suaminya bilang, “Emas batangan kan tidak bisa dinikmati paling disimpan di lemari, lebih baik ini bisa dilihat gambarnya, bisa didengar suaranya.”

Yach! Sangat berbeda sekali. Ada suami membeli sepatu harganya sampai 2-3 juta walaupun mahal asal awet untuk 3-4 tahun tidak akan rusak. Namun si isteri bilang, “Buat apa buang uang sebesar itu. Uang itu kan bisa untuk membeli 20 pasang sepatu. Kalau saya sih akan membeli banyak pasang sepatu sehingga bisa ganti-ganti tiap hari.”

Ini perbedaan pria dan wanita. Kadang-kadang ada orang kalau belanja yang penting harganya murah. Namun ada juga yang mungkin yang penting bagus dan awet biain saja mahal. Nah, ini akan menjadi masalah kalau tidak dibicarakan dengan baik. Karena itu, suami dan isteri seharusnya sepakat untuk membicarakan secara bersama-sama masalah penggunaan keuangan sebagai proyek keluarga. Kita harus menentukan keperluan apa saja yang harus dibeli demi kepentingan keluarga secara musyawarah. Bahkan baik sekali kalau di mulai dengan doa. Apalagi membutuhkan dana-dana yang besar, misalnya membeli mobil, rumah, perabotan rumah-tangga yang mahal dan sebagainya. Barang apapun yang kita beli jika didasarkan pada kesepakatan bersama, akhirnya, uang menjadi sumber berkat bukan laknat.