Mengatasi Masalah Keluarga 03

Mengatasi Masalah Keluarga 03

Komunikasi Yang Tidak Baik

Masalah akan muncul kalau setiap anggota keluarga tidak bisa bicara dari hati ke hati, akibatnya kata-kata yang keluar adalah kritik pedas yang membuat hati panas.

Tips Untuk Mengatasi Komunikasi yang Tidak Baik

Menyediakan waktu

Untuk mengatasinya kita harus menyediakan waktu untuk bercakap-cakap dengan seluruh anggota keluarga sehingga tercipta persatuan dengan saling tukar menukar informasi sehari-hari. Kita belajar mengeluarkan pendapat, keinginan dan saling menanggapi dengan positif. Kita juga bisa membagi kisah menarik, peristiwa yang dialami daripada menonton TV saja.

Ada suami isteri yang punya kesibukan setiap hari tetapi 15 menit sebelum tidur si isteri membuatkan secangkir kopi untuk suami dan dirinya sendiri dan sedikit biskuit. Mereka mengobrol di meja makan sekitar 15 menit, menceritakan apa yang terjadi pada hari itu dan pergumulan mereka. Mereka berkata, “Ditengah kesibukan apapun kami menjaga kualitas komunikasi kami untuk menjaga keutuhan keluarga kami.”

Mempergunakan Kata-Kata yang Membangun

Di dalam Efesus 4: 29 tertulis, “Tuhan ingin kata-kata kita itu menguatkan.” Tahukah saudara bahwa 90% konflik yang terjadi dalam keluarga bukan karena adanya masalah tetapi nada bicara yang salah. Ada orang kalau ngomong itu seperti marah-marah. Padahal di dalam Amsal 15: 1 tertulis, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah.”

Suatu kali ada seorang anak yang ketika pulang sekolah membawa rapot dan langsung dilihat bapaknya. Banyak nilai merahnya. Dia langsung marah, “Dasar anak bego!” Dia menjawab, “Pa…nilai memang saya memang kurang bagus, tetapi papa kan majelis gereja masa ngomong kasar.” Ayahnya ditegur oleh anaknya. Kemudian, dia putar otak dan berkata, “Hei, nak itu bukan kata-kata kasar, bego itu singkatan dari B E G O yang artinya, Bangkitlah Engkau Gunakan Otakmu.”

Lebih baik kita menggunakan kata-kata membangun atau mengecek dulu apa benar kata-kata yang akan kita ucapkan sesuai dengan kenyataannya, seperti, seorang ayah yang marah ketika anaknya pulang dan langsung membuka dan dilihat nilainya merah semua. Ayah marah-marah, kemudian si anak berkata, “Sabar, pa”. “Sabar bagaimana ini jelas merah di atas hitam.” Si anak menjawab, “Sabar pa, itu bukan rapot saya. Ini rapot saya.” Kemudian si ayah melihat nilai 8,9 sambil berkata, “Benar nih nilai kamu. Papa jadi bingung. Jadi ini rapot siapa?”. “Lho, itu kan rapotnya papa dulu waktu kecil. Kutemukan dari dalam kolong lemari.” Ayahnya menjadi malu karena tidak cek dan ricek.

Memberi Perhatian

Ketika orang lain sedang berbicara dengan kita, kita harus memberi perhatian. Sebab, kadang-kadang orang sedang bicara tetapi kita tidak peduli. Seseorang sedang berbicara dengan kita tetapi mata kita melihat ke arah yang lain. Hadapkan wajah saudara dan pandanglah lawan bicara kita maka ini menjadi sesuatu yang saling menguatkan

Konflik

Masalah akan segera timbul bila tidak segera dibereskan sehingga mengakibatkan sakit hati dan menderita. Di dalam Efesus 4: 26 – 27, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis.” Alkitab menjelaskan apabila ada masalah maka segera diselesaikan jangan sampai matahari sudah terbenam masih ada kemarahan di dalam diri kita. Akibatnya iblis akan mengambil keuntungan.

Kita harus menyadari bahwa di dunia ini tidak ada 2 orang bisa sepakat dalam segala hal termasuk suami isteri meskipun sudah menikah lama. Misalnya, berbeda selera makan, warna. Semua ini perlu dikomunikasikan. Bahkan cara memencet odol saja berbeda. Isterinya memencet dari bawah. Suami memencet dari atas. Ini bisa menimbulkan masalah.