AWAL SEBUAH KEAJAIBAN 05

AWAL SEBUAH KEAJAIBAN 05

Bait Doa yang Luar Biasa

Kita akan mempelajari sebuah pengajaran tentang doa yang luar biasa, doa yang dikenal dan diucapkan sebagai DOA BAPA KAMI. Doa ini sering diucapkan oleh jemaat di gereja tertentu setiap kali mereka mengakhiri ibadah mereka pada hari minggu. Tidak jarang pula, doa ini diucapkan oleh anak-anak sekolah di beberapa sekolah kristen ketika pelajaran telah usai setiaphari. Doa ini telah ditradisikan untuk diucapkan sehingga sering menjadi kehilangan makna yang sesungguhnya untuk apa doa ini diajarkan.

Dalam Matius 6, Yesus mengkritisi kebiasaan para pemimpin Yahudi yang telah melembagakan dan mentradisikan doa. William Barclay, dalam The Daily Study Bible, The Gospel of Matthew, menulis bahwa ada dua hal yang harus diucapkan oleh orang Yahudi sebagai bagian dari hidup keagamaan mereka.

Yang pertama adalah mengucapkan perintah untuk mendengar perintah Tuhan yang terdapat dalam Ulangan 6: 4-9. Ulangan 11: 13-21 dan Bilangan 15: 17-41. Orang-orang Yahudi harus mengucapkan setiap pagi dan petang. Dengan demikian mereka tidak akan pernah lupa untuk mengajarkan perintah Tuhan itu kepada anak cuc mereka. Dalam tradisi para rabi, dikatakan bahwa perintah itu harus diucapkan sebelum jam 9 pagi, kalau dapat sedini mungkin setelah bangun dan sebelum jam 9 malam. Pada batas itulah di manapun mereka berada dan masih sempat, mereka harus melafalkan perintah yang tertulis itu.

Yang kedua, adalah pengucapan doa tertulis. Doa itu harus diucapkan 3 kali sehari yaitu, pagi, siang, dan sore hari. Akibatnya, terjadilah pertunjukkan kemunafikan yaitu dapat dilihat pada jam-jam saat sembayang itu harus dilakukan dimanapun mereka berada. Para pemimpin Yahudi dengan sengaja pergi ke jalan raya pada saat-saat sembayang harus dilakukan. Maka mereka melakukan sembayang di pojok-pojok jalan agar umum dapat melihat ‘kesalehan’ mereka dalam menunaikan perintah agama (Matius 6:5). Bahkan ada yang berpikir bahwa doa yang lama, apalagi dalam rumah sembayang akan didengar oleh Tuhan.

Untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang salah itulah maka Yesus mengajarkan sebuah doa yang harus dimengerti oleh para muridNya. Doa adalah sebuah komunikasi antara seorang pribadi dengan Tuhan Allahnya. Doa itu sejatinya dinaikkan di waktu pagi untuk mengawali segala kegiatan kita sepanjang hari. Pada Matius 6: 11, ada kata-kata, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Permohonan ini tentu sebaiknya diucapkan pada pagi hari sebelum kita mencari nafkah. Itu sebabnya Doa Bapa Kami lebih baik diucapkan di waktu pagi sebagai awal dari semua kegiatan kita sepanjang hari. Doa Bapa Kami menyatakan kebergantungan kita sebagai anak kepada Sang Bapa, Allah Yang Mahakuasa. Kebergantungan kepada Allah Bapa itulah yang akan membawa kita kepada sebuah kemenangan. Ketika anda memiliki Dia, maka Ia lah yang akan memelihara hidup anda dengan sempurna. Anda tidak akan takut segala kesusahan. Anda akan dapat melewati setiap keresahan dan kesusahan dengan mulus. Bahkan, di tengah bahaya sekalipun, Ia akan tetap menjaga anda dengan sempurna. Ketika anda merasa beban hidup anda terasa sangat berat, anda dapat bersandar dalam pelukanNya dan merasakan ketenangan dan kekuatan yang baru untuk terus berjuang meraih kemenangan dan kekuatan baru untuk terus berjuang meraih kemenangan hidup. Anda akan belajar bagaimana belajar meraih kemenangan dalam hidup bersama dengan Allah Bapa di Sorga yang mengerti dan mempedulikan hidup kita.

Emme Woodhull-Bache menulis, “I love the sweet smell of dawn – our unique daily opportunity to smell time, each morning being, a new beginning.” (Aku suka akan harum semerbak fajar, kesempatan kita yang unik setiap hari untuk mencium hadirnya sang waktu, setiap pagi menjadi sebuah permulaan yang baru).

Songsonglah setiap fajar hari sebagai sebuah kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Jadikanlah setiap pagi sebagai sebuah awal kemenangan dalam hidup anda dengan mendengar suara Tuhan dan menikmati hadiratNya.

Yesus sendiri dalam Markus 1: 35, di katakan bangun pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Bila Yesus sendiri melakukan hal itu di waktu pagi, ketika fajar baru mereka di ufuk timur, bukankah seharusnya kita lebih berkepentingan untuk melakukan hal itu? Ia yang kudus, Allah dan manusia sejati, mereka berkepentingan mencari tempat yang sunyi untuk mendekatkan diri dengan Bapa, sumber kekuatan dan kemenanganNya. Ia memberi contoh bahwa pagi hari, ketika fajar merekah, adalah waktu yang paling baik untuk memulai segala kegiatan dengan kekuatan baru yang datang dari tempat yang mahatinggi. Marilah kita jadikan pagi hari sebagai titik awal kemenangan kita bersama Bapa, sebelum dunia menguasai pikiran kita, sebelum setan mengisi relung hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang najis. Marilah kita melakukannya setelah bangun dari tidur ketika dunia di sekitar kita masih sunyi dalam keheningan.