AWAL SEBUAH KEHIDUPAN

AWAL SEBUAH KEHIDUPAN

Impian. Inilah sebuah cerita yang ditulis oleh Diarmuid Cronin tentang impian aneh dari seorang anak kecil. Ia dengan perlahan membuka kelopak matanya dan sinar matahari yang hangat menyapu menerpa wajahnya. Ia berbaring di atas rerumputan halus dan angin sepoi memeluknya. Ayahnya duduk di bawah sebatang pohon beberapa langkah di tepi sebuah aliran sungai yang gemercik.

“Kamu sudah bangun.” Ayahnya tersenyum.

“Aku tertidur, ayah.” Kata anaknya.

“Memang anakku.” Ucap sang ayah.

“Aku bermimpi, ayah.” Ujar anaknya.

Ayahnya bangun dan duduk di sampingnya. “kamu mau menceritakannya?”

“Sepertinya nyata, ayah. Aku bermimpi sebuah misil atau peluru kencali jatuh dari langit dan anak-anak kecil, bahkan lebih mudah dariku terbunuh dan hancur. Dunia dalam keadaan yang rusak. Berjuta-juta hidup dalam kemiskinan, ayah. Bahkan tak punya makanan untuk dimakan. Ada banyak orang yang tidak memiliki rumah dan sengsara. Ada banyak badai besar, angin putting beliung dan bermacam bencana terjadi. Bangsa-bangsa berperang memperebutkan tanah, harta milik, minyak dan uang. Hutan hujan sekarat dan bermacam-macam binatang dalam bahaya kepunahan dan bumi bertambah panas. Dalam mimpiku, aku bertumbuh dewasa di dunia ini dan aku melewati saat-saat bahagia dan tidak. Aku hidup dalam sebuah kehidupan, ayah. Sungguh! Aku memiliki seorang isteri dan anak-anak dan itu benar luar biasa cepatnya. Semua berlangsung begitu cepat. Aku merasakan bermacam perasaan. Aku takut, penuh sukacita, ada takut dan harapan. Sering aku merasa tidak berdaya. Sering juga aku merasa kesepian. Hal yang paling buruk, ayah, aku tidak tahu di mana ayah berada. Namun seolah-olah aku tahu ayah ada di suatu tempat tidak jauh dan aku terus memanggil-manggilmu. Sesungguhnya, kadang aku kehilangan harapan dan berkata kepada diriku bahwa ayah tidak ada sama sekali. Namun, dalam hati kecilku aku merasa ayah ada di suatu tempat. Ketika aku beranjak dewasa dan menua, aku berhenti mencarimu di luar sana dan mulai mencari ke dalam hatiku. Sungguh aneh rasanya bahwa aku merasa bahwa ayah adalah bagian dari hidupku dan aku adalah bagian dari ayah. Itulah seluruh mimpiku dan aku terbangun.”

Ayahnya menatap anak itu dengan penuh kasih sayang di matanya. “Itulah sebuah mimpi, anakku!”

“Berapa lama aku tertidur, ayah?” tanya sang anak.

“Mmm, kira-kira 5 menit,….tidak lebih.” Jawab ayahnya.

“Wow! Semua itu hanya dalam 5 menit?”

Si anak menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya untuk sesaat.

“Aku tahu, anakku….dan juga yang berakhir…bila kau mau memilih.” Jawab sang ayah.

“Ayah?” tanya anaknya.

“Ya, anakku!” ayahnya menjawab.

“Apakah ayah tahu ketika aku sedang bermimpi?” tanyanya lagi.

“Tentu saja, memang kenapa?” jawab sang ayah.

Si anak merenung sesaat.

“Jadi, ayah, ketika aku ada dalam bagian buruk dari mimpiku, tahukau ayah, aku menderita?” ujar sang anak.

“Anakku, dapat saja kau melihat menderita dalam mimpimu, namun kau sungguh-sungguh aman bersama ayah disini.” Jawab ayahnya dengan lembut.

“Ayah dapat membangunkanku?” tanya anaknya lagi.

“Aku dapat, tapi ayah tidak lakukan itu. Kau harus bangun dengan cara yang sama ketika kau memulai impianmu. Hal itu akan sedikit menakutkanmu. Kau harus keluar dari mimpimu dengan gagah. Kau memilih untuk masuk dalam impianmu. Hal yang terbaik adalah kau memilih keluar.” Jawab sang ayah dengan bijaksana.

Si anak kemudian merentangkan badannya di atas perumputan dan berkata lagi, “Ayah, aku menyanyangimu.”

“Aku tahu, anakku. Kita saling mencintai.” Jawab si ayah.