AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 02

AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 02

BERAWAL KESADARAN

Seperti dalam impian itukah hidup saudara selama ini? Saudara mengalami saat ketakutan, kesepian, dan kehilangan keharapan? Saudara merasa tak berdaya dalam pusaran badai yang dengan dashyat memporak-porakdakan hidup saudara? Saudara kehilangan orang yang saudara cintai, kesehatan yang saudara miliki, pekerjaan yang telah saudara geluti bertahun-tahun atau bisnis tempat saudara menggantungkan keluarga dan masa depan? Jangan gelisah, takut dan putus asa. Ada seorang Bapa (Bapa Kami Yang Di Sorga) yang Mahakasih dan peduli terhadap segala sesuatu yang telah atau sedang terjadi dalam hidup saudara. Saudara harus memiliki sebuah kesadaran bahwa saudara tidak hidup sendiri di dunia ini. Mungkin saja saudara merasa hidup sendiri sebab orang tua kandung saudara sudah tidak ada lagi atau tidak peduli kepada saudara. Namun ada satu Bapa yang tidak pernah akan mengecewakan sepanjang hidup saudara. Masalahnya adalah apakah saudara percaya akan adanya satu Allah yang luar biasa di dunia ini yang mau menjadi seorang Bapa bagi saudara?

Dalam Matius 6, Yesus mengkritisi para pemimpin Yahudi yang mempertunjukkan kemunafikan agama dengan mengucapkan doa yang panjang di rumah ibadat dan di pojok-pojok jalan. Oleh karena itu, Ia mengajarkan ada arti sebuah doa dalam Doa Bapa Kami. Dalam pengajaran doa itulah Yesus memperkenalkan konsep Allah sebagai Bapa yang kepadaNya kita harus bergantung. Konsep Allah sebagai Bapa bukankah sebuah konsep yang baru dalam Alkitab. Sepanjang sejarah Perjanjian Lama, kita dapat membaca konsep itu dinyatakan kepada bangsa Yahudi.

Dalam keluaran 4: 22-23, Allah berkata, “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung: sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-KU; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Dalam 2 Samuel 7: 14, “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukuran yang diberikan anak-anak manusia.” Tuhan berjanji kepada Daud bahwa anaknya, Salomo, yang akan menjadi raja Israel dan membangun Bait Allah sebagai tempat kediamanNya. Tuhan berjanji akan mengawasi Salomo dan menghukumnya karena Ia menganggap Salomo adalah anak yang dikasihiNya.

Dalam Mazmur 103: 13 Allah pun digambarkan sebagai bapa yang menyanyangi anaknya, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Oleh karena itulah maka Allah dalam Perjanjian Lama digambarkan sebagai Allah Bapa. Allah yang menjadi asal muasal dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Konsep Allah sebagai Bapa dalam Perjanjian Lama ini, terus berlanjut ditekankan dalam Perjanjian Baru. Dalam Yohanes 1: 12, Yesus mengingatkan bahwa kita menjadi anak Bapa waktu percaya. (“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”) Paulus dalam Roma 8: 14 mengingatkan bahwa kita, sebagai anak Allah, dipimpin oleh Roh Allah (Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah). Yohanes dalam 1 Yohanes 3: 1 menyatakna bahwa kasih Bapalah yan gtelah membuat kita menjadi anak-anak-Nya. (“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia”).

Penulis-penulis Alkitab menggambarkan Allah sebagai Bapa, tentunya ini dilatar-belakangi oleh budaya dan contoh kehidupan sehari-hari yang paling nyata. Dalam budaya timur dan oriental, masyarakat yang paternalistrik sangat mengutamakan tokoh bapa dalam tataan keluarga. Bapalah yang menjadi figur utama dalam kehidupan sebuah keluarga. Di tangan bapalah terletak tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi seluruh keluarga. Bapa jugalah yang menjadi pelindung bagi keamanan seluruh anggota keluarga, dan ia juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan arah pendidikan keluarga. Dengan adanya seorang bapa yang bertanggung jawab, maka seorang anak tidak perlu kuatir akan kehidupannya sehari-hari dan masa depannya. Dengan memiliki seorang bapa yang baik maka seorang anak akan merasa tentram hidupnya. Bapalah yang menjadi pembelanya dalam segala hal.

Awal sebuah kemenangan dalam pergumulan hidup kita dimulai ketika kita sadar bahwa ada satu Allah di dunia ini yang mau menjadi Bapa kita. Dengan Bapa yang baik itulah kita merasa memiliki harapan dan kekuatan untuk menghadapi hari esok dengan segala pergumulannya. Kesadaran bahwa kita memiliki Bapa yang luar biasa, akan menolong kita untuk hidup tenang dan berusaha bangkit dari keterpurukan. Kita tidak merasa sendirian dan kesepian lagi. Bapa akan membangunkan kita dari mimpi buruk yang sedang kita alami. Dengan kesadaran itualh, saudara harus mengawali setiap kegiatan hidup setiap hari. Kesadaran itu harus muncul ketika fajar mulai merekah membuyarkan kegelapan. Pikiran kita hanya tertuju kepada Bapa sebelum kita memulai segala sesuatu.

Dapatkah kita percaya kepada Allah Sang Pencipta dan Pemilik Langit dan Bumi, dan menjadikanNya sebagai Bapa kita? Yang sekarang menjadi persoalan adalah banyak orang berpikir bagaimana mungkin Allah yang kudus, tidak kelihatan, tidak berawal dan tidak berakhir, dan tidak beranak dan diperanakkan, dapat menjadi bapa dan memiliki anak. Kekeliruan yang menyedihkan itu terjadi karena banyak yang membandingkan konsep Allah sebagai bapa itu dengan konsep manusia yang sempit. Seorang laki-laki dapat memiliki anak kalau ia menikah dan melakukan hubungan sex. Jadi, bagaimana mungkin Allah yang Mahakudus dan tidak kelihatan dapat melakukan hubungan sex.

Salah satu arti kata ‘anak’ menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah: orang yang berasal dari atau lahir di, maka ketika orang berkata ‘anak Jakarta’ artinya ia berasal dari Jakarta atau lahir di Jakarta. Ketika kita menjadi ‘anakNya’, maka artinya kita ‘dilahirkan kembali’ ke dalam suasana atau alam ilahi. Kita menjadi bagian dari keluarga atau kerajaan Allah. Ketika kita ‘menjadi anakNya’, maka kita harus hidup dengan sifat-sifat Allah karena kita dipimpin oleh Roh Allah, bukan dipimpin oleh hawa nafsu (Roma 8: 14).

Maka ketika kita menjadi ‘anakNya’, secara otomatis Allah menjadi bapa kita (Roma 8: 15). Kapan kita menjadi ‘anakNya; dan Allah menjadi “Bapa’ kita? Yohanes 1: 12 menjelaskan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Jadi ketika kita percaya Yesus, kita diberi hak dan kuasa untuk menjadi anak Allah. Sejak itulah kita memanggil Allah dengan sebutan Bapa.

Ketika kita sadar bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang luar biasa, sebuah kemenangan dan kebangkitan sedang menanti di depan kita.