AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 03

AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 03

BERSEMI KEINGINAN

Dalam injil Lukas 15, ada kisah tentang seorang anak yang pergi meninggalkan bapanya dan menggunakan harta warisan yang diterimanya untuk berfoya-foya. Setelah impiannya di perantauan buyar, ia hidup terlunta-lunta sebagai seorang hamba di tempat yang hina yaitu mengurus kawanan babi. Dalam keadaan lapar, ia tak segan-segan ingin makan makanan babi tapi tak ada yang memberinya. Sebuah kesadaran muncul bahwa ia masih mempunyai seorang bapa yang kaya raya dan hamba-hamba bapanya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada keadannya yang sedang terpuruk. Ketika kesadaran itu datang, muncullah sebuah keinginan untuk kembali ke bapanya. Memang ia merasa tidak layak untuk kembali berada dalam keluarga bapanya, namun ia ingin hidupnya berubah. Ia ingin memperbaruhi kembali hubungan antara anak dan bapa yang telah dirusaknya sendiri. Ia sadar telah melakukan kesalahan yang besar dan sekarang keinginan untuk kembali memperbaiki kerusakan itu. Ia sadar bahwa bapanya sangat mengasihinya dan pasti memberikan pengampunan yang akan dimintanya. Oleh karena itu, ia bangkit dari keterpurukannya untuk meraih pemulihan.

Hanya dengan memiliki kesadaran akan adanya seorang Bapa yang mau menolong kita saja tidaklah cukup untuk sebuah kemenangan dalam hidup. Hanya mengetahui bahwa makanan dapat memuaskan rasa lapar kita atau air dapat memuaskan rasa dahaga kita saja tidaklah cukup. Kita harus makan atau minum untuk memuaskan rasa lapar atau haus. Tahu Allah saja tidaklah cukup untuk meraih kemenangan dalam setiap pergumulan. Anda harus memiliki sebuah keinginan untuk datang dan mendekat kepadaNya. Anak yang sedang dalam keadaan terpuruk dalam Lukas 15 di atas, tidak akan pernah meraih kemenangan dalam hidupnya kalau hanya sadar saja. Ia punya keinginan untuk bangkit dan kembali kepada bapanya.

Anak saya yang kedua, Atira, berada di Tver, Rusia. Selama 8 bulan dalam rangka program master bioteknologi. Sejak pertama kali ia datang ke asrama di Tver, 2 jam naik kereta api dari Moskow, 1 Oktober 2009, ia merasa sangat terkejut dengan keadaan asrama, kamar dan kampus yang tidak sesuai dengan harapannya. Asrama dan kampus yang kumuh dengan segala fasilitas penunjang hidup sehari-hari yang sangat minim membuat ia tertekan. Hal itu bertambah parah dengan situasi keamanan yang rawan kejahatan bagi orang-orang asing yang hidup disana, apalagi seorang perempuan. Banyak mahasiswa yang biasa minum minuman keras, merokok dan hidup dalam pergaulan bebas membuat suasana belajar dan tinggal semakin tidak nyaman. Penyesalan memang bergejolak di dalam hati anak saya tetapi itulah tempat yang dipilihnya untuk meraih gelar master. Ia tidak ingin mengecewakan hati orang tuanya.

Dalam keadaan takut dan tertekan akan situasi asrama dan kamus yang seperti itu, hanya ada satu yang memberi dia kekuatan. Dia mempunyai seorang bapa yang sangat mengasihi dan mempedulikannya. Bukan hanya seorang bapa secara fisik di dunia ini, ia pun sadar ia mempunyai seorang Bapa di sorga yang luar biasa, yang tidak akan pernah meninggalkannya. Atira mempunya dua bapa yang luar biasa. Ia tahu bapanya di Indonesia selalu memonitornya lewat kamera laptop dan Bapa di Sorga yang memiliki mata yang selalu mengawasinya. Kedua hal itulah yang selalu memberi Atira kekuatan dan harapan untuk bertahan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun. Setiap hari selalu ada keinginan untuk berbicara dan melihat wajah bapa atau ibunya. Untuk bisa berkomunikasi dengan orang tuanya di Jakarta, ia harus mengeluarkan biaya untuk membeli modem internet. Ia rela menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu asal dapat berkomunikasi dengan orang tuanya. Bukan hanya itu, Atira pun sadar bahwa ada Bapa di Sorga yang luar biasa, itu sebabnya ia mendengarkan suara Bapa lewat lagu-lagu rohani dan CD kotbah live, GOD’S SEEING EYES WATCHING ON THE SPARROW (Mata Tuhan yang melihat, memperhatikan burung pipit). Lewat lagu dan rekaman kotbah live itulah, ia mendapat kekuatan yang selalu baru untuk bertahan di tengah situasi yang tidak memungkinkan.